Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 26 January 2017

Cak Nun: Ada yang Kaget, Ternyata Koruptor Juga Suka Atribut Islami


cak-nun-screen-lcd-sastra

islamindoesia.id– Cak Nun: Ada yang Kaget, Ternyata Koruptor Juga Suka Atribut Islami

 

Ditangkapnya Hakim Konstitusi Patrialis Akbar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi membuat daftar panjang penyelewengan penegak hukum di Indonesia. Selain sebagai hakim, publik juga mengenal Patrialis belakangan kerap tampil ceramah agama di TV swasta “Islam” dan mengisi forum keagamaan di berbagai tempat, termasuk Tabligh Akbar.

Dengan menggunakan pakaian serba putih termasuk peci putih, Patrialis di Rabbani TV memberi nasihat pentingnya memelihara jenggot. Di forum sekelas Tabligh Akbar pun Patrialis tak lupa menyinggung persoalan jenggot dan isbal (celana yang batasan bawahnya di atas mata kaki).

[Baca juga: Ceramah Patrialis Soal ‘Penistaan Agama’ di Youtube Kembali Ramai Dikomentari]

Meski demikian, Patrialis bukan-lah orang pertama yang senang dengan atribut agama tapi terjerat masalah suap, suatu perbuatan yang tak kalah buruknya dalam Islam.

Bicara soal atribut dan simbol Islam, lebih jauh cendekiawan Muslim Emha Ainun Najib pernah menyinggung soal tingkatan keislaman seseorang. Menurut Emha, ‘perkawinan’ Islam dengan manusia dengan segala kapasitas spiritual dan intelektualnya itu, juga melahirkan ragam tingkatan seorang Muslim. Level pertama adalah Muslim yang keislamannya mengandalkan simbol atau ikon kultural.

“Jadi, Islam itu cukup diwakilkan oleh simbol-simbol kultural,” kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini dalam pertemuan bulanan Mocopat Syafaat, Bantul, seperti yang diliput IslamIndonesia.id beberapa waktu lalu.

Sebagian orang menilai keislaman seseorang jika terlihat memelihara jenggot, pakai jilbab, peci, serban, tasbih dan atribut lainnya. Lebih dalam lagi, jika telah terlihat beribadah seperti shalat, zakat, atau haji. “Pokoknya, ada tanda-tanda yang terjangkau oleh panca indra.”

Perdebatan pada tahap ini juga hanya seputar tanda, simbol atau atribut lahiriah. Cak Nun lalu memberi contoh jamaah masjid yang ribut hanya karena perbedaan tinggi-rendahnya tirai pembatas antara pria dan perempuan. Orang yang memiliki pandangan dunia Islam sebatas ini akan kaget dengan realitas tidak berbanding-lurusnya simbol yang dibangga-banggakan itu dengan akhlak mulia.

“Yang penting dia hafal Al-Qur’an, sudah dianggap baik banget. Kemudian kaget, ternyata koruptor juga suka Yasinan. Bahkan, undangan pembagian uang korupsi itu disebut Tahlilan,” katanya sambil kembali menekankan bahwa simbol juga penting tapi Islam tidak sebatas simbolik.

[Baca juga: Pemuda Muhammadiyah: Mengapa Tidak Marah pada Koruptor, Penista Agama Sesungguhnya?]

Jika menyelam lebih dalam sedikit, akan sampai pada mazhabiyah. Mazhabiyah indikasinya ideologis, adanya sistem nilai, orang telah berpikir tentang negara Islam atau tidak, kesultanan atau kerajaan dan seterusnya. Tak lupa Cak Nun menyebutkan kelompok-kelompok pengusung khilafah Islamiyah di Indonesia sebagai salah satu contoh.

Sayangnya, tidak jarang kekuasaan yang berperan pada tingkat ini. Cak Nun lalu berbicara tentang fikih yang diejawantahkan sebagai pasal-pasal selama berabad-abad untuk kepentingan penguasa. “Apalagi Anda tahu sifat sejarah. Sejarah itu milik orang yang menang, orang yang berkuasa. Apabila Anda tidak punya kritisisme pada informasi sejarah berarti Anda orang yang kalah.”

Ditambah lagi, kata pria kelahiran Jombang ini, nasib ijtihad dalam umat Islam sudah sangat memprihatinkan. Sampai hari ini, di sejumlah belahan umat Islam berada, pemikiran Islam hampir tidak berkembang lagi.

Pada tingkat selanjutnya bukan lagi simbolik, bukan lagi sistem nilai tapi tingkat ruhani. Cak Nun mencontohkan orang-orang yang mencari kebenaran dan datang ke tempat-tempat diskusi untuk mencari ilmu sejatinya dia datang secara ruhani. “Anda ke sini bukan karena jasad Anda, tapi karena ruhani Anda. Seandainya Anda bisa ke sini hanya dengan ruh, pasti Anda ke sini tanpa jasad.”

Sejauh pantauan IslamIndonesia malam itu orang-orang yang hadir memadati pelataran tempat acara berlangsung  hingga ke jalan-jalan kampung. Meski dibantu dengan ‘layar raksasa’, masih banyak orang yang tidak bisa melihat langsung para nara sumber di panggung. Mereka itu, kata Cak Nun, tidak lagi butuh melihat wajah pembicara tapi yang mereka cari ialah kebenaran.

Ruhani, menurut Cak Nun, itu pun strukturnya bermacam-macam, dari kulit arinya ruh yaitu kesadaran-kesadaran teknis, sampai masuk sedikit yaitu mesin akal sampai kemudian naluri, gelombang ruhani, “hingga tajalli (manifestasi) Allah di dalam jiwa Anda.”

Jika konsisten dengan pandangan dunia Islam ini, dikotomi kesalehan individual dan kesalehan sosial juga terlalu dangkal. Bagi Cak Nun, jika perilakunya merusak di ranah sosial, sejatinya tidak layak disebut saleh meski secara lahir terlihat saleh. Karena orang saleh (secara individu) akan saleh secara sosial.[]

[Baca juga: Hakim MK Patrialis Akbar Kena OTT? Ketua KPK: Benar]

YS/ islamindonesia/ foto: Sarasehan Sastra dan Bahasa di Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *