Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 26 January 2017

Ceramah Patrialis Soal ‘Penistaan Agama’ di Youtube Kembali Ramai Dikomentari


hqdefault

islamindonesia.id –  Ceramah Patrialis Soal ‘Penistaan Agama’ di Youtube Kembali Ramai Dikomentari

 

Kabar operasi tangkap tangan (OTT) terhadap hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar akhirnya dibenarkan oleh Ketua KPK Agus Rahardjo. Menurut Agus, penangkapan itu dilakukan di Jakarta.

“Benar, informasi sudah kami terima terkait adanya OTT yang dilakukan KPK di Jakarta,” kata Agus seperti dilansir detik.com, Kamis (26/1).

[Baca juga: Pemuda Muhammadiyah: Mengapa Tidak Marah pada Koruptor, Penista Agama Sesungguhnya?]

Agus menyebut ada sejumlah pihak lain yang juga ditangkap. Agus menyebut para pihak itu saat ini sudah diamankan. “Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan pada hari ini,” imbuhnya.

Pasca tersiarnya kabar OTT sang hakim, sejumlah rekaman video cermahnya di TV “Islam” yang diunggah Youtube kembali ramai dikunjungi netizen.

Ceramahnya soal penistaan agama di Gunung Kidul yang diunggah Darush Sholihin misalnya, telah mendapat 10 komentar anyar hari ini pasca OTT. Nasihatnya seputar “Jenggot” di Rabbani TV juga mendapat 5 komentar terbaru terkait OTT dalam waktu satu jam.

“PA kena OTT KPK. Jadi siapa yang menista agama?” kata akun Rangga Chandra N.

“Muka gamis… tapi Korupsi…” kata akun lainnya seakan menumpahkan kemarahan pada sang pejabat publik.

Menurut okezone.com, pejabat di MK tersebut d‎itangkap di sebuah hotel di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat. Pejabat di MK tersebut diamankan saat tengah bersama seorang perempuan.

Dalam OTT kali ini, diduga oknum hakim di MK tersebut terlibat dalam skandal suap yang berkaitan dengan judicial review Undang-Undang di MK.‎ Turut diamankan pula dokumen dan sejumlah uang tunai dalam OTT tersebut.[]

[Baca juga- Cak Nun: Ada yang Kaget, Ternyata Koruptor Juga Suka Atribut Islami]

Berikut salah satu ceramah Patrialis Akbar yang diunggah Youtube:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *