Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 31 January 2017

Bung Karno: Jika Unsur Pancasila Teguh di Batin Ulama, Negara akan Jadi Terbaik di Dunia


wpid-collectie_tropenmuseum_president_soekarno_tijdens_een_wandeling_met_hadji_agus_salim_tmnr_10018810

islamindonesia.id-Bung Karno: Jika Unsur Pancasila Teguh di Batin Ulama, Negara akan Jadi Terbaik di Dunia

 

Hari ini, 31 Januari, Nahdlatul Ulama mencapai usianya yang ke- 91 tahun dalam sejarahnya yang panjang di Indonesia hingga menyebar ke berbagai wilayah di luar negeri. Sebagaimana namanya, ormas Islam Indonesia ini dirintis oleh sejumlah ulama, salah satunya yang paling dikenal, ialah Hadratu-Syeikh KH. Hasyim Asy’ari pada 31 Januari 1926.

Tepat hari ini juga, harian nasional Kompas menurunkan arsip tentang amanat salah satu proklamator negeri ini, Ir. Soekarno, kepada NU.  Di depan 100.000 massa yang memperingati milad NU ke-40 di Stadion Jakarta, Pemimpin Besar Revolusi ini mengingatkan hubungan erat antara jiwa bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila dan pribadi-pribadi bertakwa yang mencerahkan masyarakat dengan ilmunya.

“Kalau unsur Pancasila pada alim ulama teguh dalam batin, negara kita akan menjadi negara yang paling baik di seluruh dunia,” kata Presiden Pertama Republik Indonesia yang akrab disapa Bung Karno ini, pada tahun 1966.

[Baca juga-Survei ARC: Muhammadiyah Modern, NU Hargai Budaya Lokal, FPI dan HTI Kaku]

Ketua Umum PBNU saat ini, KH. Said Aqil Sirajd mengatakan, sebagai organisasi keagamaan yang memiliki pengikut terbesar di Indonesia,  NU sangat menghormati keberagaman dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa.

“Jadi perbedaan apapun di Indonesia penyatunya adalah Pancasila. Tak ada yang menentang kecuali kelompok-kelompok radikal, di antaranya para teroris,” kata Kiai Said.

Pentingnya persatuan dan kesatuan ini juga tercermin dalam pidato KH. Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU di Surabaya 91 tahun lalu.

“Satu kaum apabila hati-hati mereka berselisih dan hawa nafsu mereka mempermainkan mereka, maka mereka tidak akan melihat sesuatu tempat pun bagi kemaslahatan bersama. Mereka bukanlah bangsa bersatu, tapi hanya individu-individu yang berkumpul dalam arti jasmani belaka. Hati dan keinginan-keinginan bereka saling berselisih. Engkau mengira mereka menjadi satu, padahal hati mereka berbeda-beda,” kata Mbah Hasyim.

Bagi NU, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harga mati. Penegasan ini karena faktanya nilai-nilai Islam telah diakomodir dalam Pancasila.

Sedemikian sehingga, menurut NU,  sudah tidak relevan lagi mengusung jargon negara Islam di Indonesia. Alhasil, sudah selayaknya segala daya upaya untuk mengubah dasar negara atas nama agama tidak diperlukan lagi.

“Substansi Islam itu ada di Pancasila. Kalau Islami itu ada dua unsur, justice dan syuro. Justice di sila kelima dan syuro di sila keempat. Syuro merupakan strategi dan justice tujuannya,” kata Rais Syuriah Pengurus Besar (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi dalam seminar nasional memperingati Bulan Bung Karno dengan tema Soekarno dan Islam di Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, beberapa waktu lalu.[]

[Baca juga- Imam Besar Masjid Istiqlal: Pahami dan Amalkan Pancasila]

YS/ islam indoneisa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *