Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 31 August 2016

ANALISIS—Benarkah Islam Indonesia yang Ramah itu Terancam?


wp-1464336889276.jpg

Islamindonesia.id—Benarkah Islam Indonesia yang Ramah itu Terancam?

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Pada 15 Desember 2015, wartawan BBC Mike Thomson, pernah menurunkan laporan panjang ihwal ancaman ekstremisme terhadap mayoritas Muslim. Thomson yang kagum dengan keramahan para jamaah masjid Istiqlal saat itu lalu mencoba menelusuri betapa serius ancaman itu dalam kenyataannya.

Mula-mula Thomson mendatangi Yenny Wahid, putri Gus Dur yang pernah bekerja sebagai wartawati koran The Age dan The Sydney Morning Herald. Yenny menyatakan bahwa keramahan Muslim Indonesia itu sama sekali tidak mengejutkan. Katanya itu adalah contoh dari pendekatan Islam Indonesia atau yang juga dikenal dengan Islam Nusantara.

“Ini benar-benar menekankan pada moderasi, toleransi, perlindungan terhadap hak-hak minoritas dan pokoknya sangat menekankan pada harmoni,” tulis Thomson mengutip Yenny. “Jadi, tidaklah aneh ketika Anda melihat seorang wanita berjilbab berjalan bergandengan dengan biarawati di sini.”

Islam Nusantara dibangun selama berabad-abad di atas dasar Islam yang datang dari beberapa bagian dunia dan berjalin dengan agama Hindu dan agama-agama Jawa kuno lainnya. Di negara besar dan beragam yang terhampar sepanjang lebih dari 4828 km dari timur ke barat dan terdiri atas belasan ribu pulau ini, interpretasi inklusif dari esensi Islam telah dituangkan dalam Pancasila. Namun, nilai-nilai itu jelas tidak mungkin diterima oleh sejumlah simpatisan ISIS yang bergerak ke arah sebaliknya.

(Baca, WAWANCARA – Azyumardi Azra: ‘Islam Indonesia itu Berbunga-bunga, Bukan Wahabi Primitif”)

Dalam laporan itu, Thomson mencatat ada 500 orang Indonesia yang bergabung dengan kelompok-kelompok garis keras di Irak dan Suriah. Kedengarannya angka itu memang banyak. Tapi jika dibandingkan dengan situasi di Inggris nasib Indonesia jauh lebih baik. Per hari ini, ada sekitar 700 warga Inggris yang berperang di Suriah dan Irak dari sekitar tiga juta Muslim di sana, sementara jumlah Muslim di Indonesia 70 kali lipat lebih banyak.
Tapi ada perhitungan lain yang juga berubah. Sekitar 20 tahun lalu simbol-simbol Islam di jalan-jalan tak pernah semeriah hari ini. Sekarang lebih banyak orang yang mengenakan baju takwa, jilbab dan busana Muslim lain.

Sidney Jones, perempuan Amerika yang telah tinggal di Indonesia selama beberapa dekade, menyatakan bahwa konservatisme agama dan perhatian pada simbol dan atribut Islam terus tumbuh dari tahun ke tahun.

“Ketika saya pertama kali datang ke sini masih ada kontes kecantikan waria. Tapi sekarang di Indonesia Anda tak akan bisa melakukan hal seperti itu lagi,” kata Jones. “Ada upaya penegakan syariah oleh sekelompok orang di Indonesia yang sebelumnya tidak terjadi.”

(Baca, Apa Salah Islam Indonesia?)

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengakui bahwa ada dukungan yang berkembang untuk penerapan hukum Syariah—dan mengatakan bahwa Pemerintah sedang mempersiapkan undang-undang untuk mencerminkannya.
“Kita sekarang mempertimbangkan memperkenalkan larangan minum alkohol, perjudian dan prostitusi. Kami kemudian akan menyampaikan usulan ini kepada publik dan mereka akan membuat undang-undangnya jika ada kesepakatan demokratis untuk itu,” katanya.

Menag menegaskan bahwa langkah seperti ini tidak menandakan pergeseran ke arah fundamentalisme Islam, tetapi hanya mencerminkan semakin banyaknya orang bangga dengan agama mereka. Namun, gencarnya aksi minoritas ekstremis baru-baru ini telah menyebabkan banyak meragukan pertanyaan Pak Menteri.

Nah, kembali ke pertanyaan awal: apakah Islam Indonesia yang ramah itu terancam? Jawabnya ya. Dan ancaman itu nyata.

Tapi, berita baiknya, ada begitu banyak faktor yang dapat membuat ancaman itu seperti tak begitu serius. Salah satunya ialah fakta besarnya Indonesia secara geografis. Luasnya wilayah Indonesia menyebabkan bahaya apapun itu tampak sureal.

Kedua, begitu beragamnya orang Indonesia. Keberagaman yang demikian dahsyat ini menyebabkan ancaman dan bahaya apapun itu akan terserap dan mencair.

Ketiga, begitu banyaknya kekuatan Muslim yang tak bakal tinggal diam. Mayoritas Muslim ini akan bergerak makin keras ketika ancaman semakin nyata dan mendatangi pelataran rumah mereka. Tapi, dilematisnya, karena dua faktor pertama di atas, ancaman dan bahaya itu selalu terlihat terlalu jauh untuk disebut ancaman yang serius.

Keempat, terlalu cepatnya ideologi dan gerakan ekstremis model ISIS ini mati dan sirna di pusatnya sendiri. Jatuhnya Fallujah dan sebentar lagi Mosul di Irak, kemudian bersihnya Aleppo dan Raqqa dari mereka akan menyebabkan aliran darah kelompok ini terhambat dahsyat. Tanpa suatu ibukota yang dapat memberi mereka uang dan cita-cita, gerakan ini akan mudah lenyap. Ia datang dan tenggelam layaknya euforia, suatu dorongan andrenalin yang bersifat sesaat. Watak ekstremisme adalah bergerak ke arah yang lebih ekstrem sehingga ia akan selalu bersifat eksklusif dan memisahkan diri dari yang berbeda. Dan ini pada akhirnya akan menjadi sebab pertikaian internal yang tiada akhir—ihwal klaim siapa yang lebih “ekstrem” dari yang lain dalam perjuangannya—dan puncaknya adalah kehancurannya sendiri.

Kelima, seperti kata Gus Mus, Islam Indonesia bersifat otentik sebab mewarisi saripati ajaran Rasul. Karenanya, menurut Kiai asal Rembang itu, Muslimin Indonesia yang menetap di Eropa punya peluang  memperkenalkan wajah Islam yang toleran dan cinta damai.

“Kalau Nabi bersabda, ‘alaykum bis-sawadil-a’zham (ikutilah mayoritas ulama yang agung), maka siapa lagi yang dimaksudkan jika bukan ulama pendukung Islam Nusantara?” kata KH Mustofa Bisri saat bertemu pengurus Nahdatul Ulama kawasan Eropa dan Mediterania pekan lalu.

Menurut Gus Mus, wajah teduh Islam di masa awal perkembangannya di Nusantara kerap tenggelam oleh suara kelompok radikal yang datang belakangan lantaran Muslimin jarang mempertontonkan keagungan ajaran Rasulullah saw.

(Baca, Wajah Islam Indonesia Otentik, Kata Ulama NU)

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *