Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 10 March 2019

Wawancara – Tawfiq Ramadan al-Bouti: Jangan Biarkan Ekstremisme Membesar (1)


islamindonesia.id – Tawfiq Ramadan al-Bouti: Jangan Biarkan Ekstremisme Membesar (1)

 

Tawfiq Ramadan al-Bouti (70), Ketua Umum Persatuan Ulama Bilad Syam (Suriah), mengunjungi Indonesia. Dia menceritakan bagaimana negerinya berantakan akibat perang. Indonesia diharapkan terus menjaga perdamaian dan tidak dilanda konflik. “Jangan biarkan paham ekstremisme merasuki kaum muda,” pesannya.

Kami menemui Tawfiq di satu hotel di Jakarta, Minggu (3/3/2019). Dia mengenakan setelan jas dan peci gelap khas Nusantara. Di luar, hujan mengguyur deras. Di dalam kamar hotel, tempat kami ngobrol, suasana hangat. Guru Besar Damascus University itu ramah. Wajahnya teduh, suaranya lembut.

Tawfiq sering mengunjungi Indonesia. Pertama kali melihat Indonesia secara langsung 15 tahun silam, dan setelah itu, dia kerap datang ke negeri ini. Bukan hanya Pulau Jawa, dia juga sempat menyambangi pulau-pulau lain di Nusantara. “Bagi saya, Indonesia adalah negara kedua. Saya memuji kepada Allah SWT karena saya serasa di negara sendiri,” katanya.

Akhir Februari 2019, dia diundang untuk menghadiri Munas Alim Ulama oleh Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat. Lepas dari acara itu, dia berceramah di beberapa tempat lain. Dia kerap menceritakan perang di Suriah dengan harapan agar negara-negara lain tak mengalami hal serupa.

 

Bagaimana awal mula perang di Suriah?

Dulu, kami punya pengalaman hidup bersama, berwarna-warni, dari kelompok beragam. Di salah satu distrik di Damaskus, ada kelompok Sunni, Syiah, Yahudi, Kristen Orthodox, Kristen Protestan, dan Kristen Katolik yang hidup dalam satu flat. Kami tidak merasakan gesekan.

Di samping distrik kami, Ruknuddin, terdapat distrik bernama Zainal Abidin (yang dihuni kelompok Syiah). Mereka hidup bersama kami, bahkan kadang terjadi hubungan pernikahan. Di Damaskus terdapat distrik bernama Al-Amin yang dihuni orang-orang Syiah. Juga di wilayah al-Midan ada distrik bernama Al-Jorah.

Persentase Syiah sedikit, tapi mereka benar-benar ada dan hidup bersama kita. Kita juga sering berbisnis atau membuat proyek bersama. Itu adalah hal yang lumrah.

Kemudian, tahun 2000, Bashar al-Assad dilantik menjadi presiden (Suriah). Dia membuat terobosan ekonomi dan membuka kampus-kampus swasta. Ini keterbukaan yang positif.

Namun, wilayah regional mengalami krisis, dipertaruhkan dari intervensi internasional. Ada perang Ghaza, perang di Lebanon Selatan, dan perang Irak. Rakyat Libya berperang antar-sesama, kekayaan negerinya dikuasai Eropa. Tunisia berusaha menjadi negara bebas, tetapi malah tidak terkontrol. Mesir hampir saja dilanda perang saudara saat transisi antara Presiden Al-Sisi dan Al-Mursi. Yaman sekarang tidak seperti dulu.

Suriah menjadi target berikutnya karena berbatasan langsung dan mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Mereka ingin memecah Suriah sehingga memudahkan dominasi Israel.

 

Apa pemicu perang?

Perang diawali dari fitnah yang membenturkan antara Alawiyah dan Sunni, antara Syiah dan Sunni, antara Muslim dan Kristiani. Masyarakat diprovokasi agar menuntut perbaikan, kebebasan, kemudian menurunkan rezim. Kelompok Kurdi juga didorong untuk memberontak.

Lalu, milisi asing dari semua belahan dunia masuk ke Suriah. Ada Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dan Jabhah al-Nusra yang terkait dengan Al Qaeda, ciptaan Amerika Serikat. Hillary Clinton pernah mengakui bahwa Amerika-lah yang menciptakan Al Qaeda. Al-Nusra mendapat sokongan senjata dari Israel.

Banyak negara mengirimkan dana dan senjata ke Suriah. Negeri kami menjadi medan latihan tempur. Damaskus dikepung dari berbagai sisi.

Ini jelas upaya Amerika dan Israel untuk memecah belah negeri kami. Di Irak, mereka mampu mewujudkan rencana itu, tetapi di Suriah mereka tidak mungkin bisa melakukan hal serupa.

Peta diolah oleh Harian Kompas.

Peta diolah oleh Harian Kompas.

 

Banyak kelompok Muslim ke Suriah untuk perang yang diklaim atas nama Islam. Benarkah demikian?

Mereka yang datang itu tidak mengerti Islam. Banyak perempuan asing ke Suriah untuk menjadi istri para mujahid dan menganggap tindakan itu berpahala. Satu orang menggaulinya, lalu satu lagi, lalu satu lagi, apakah itu bagian dari ajaran Islam? Tentu bukan.

Sebagian besar mereka akhirnya menyadari kesalahannya. Banyak anggota NIIS sadar, pergi ke Turki, dan meninggalkan senjata. Mereka korban penipuan, seolah jihad di Suriah akan membawa mereka masuk surga.

Bersambung ke Bagian 2.

 

PH/IslamIndonesia/Sumber: Harian Kompas (9/3)/Ilham Khoiri & Mohammad Bakir/Photo Fitur: Wawan H Prabowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *