Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 21 September 2016

TASAWWUF—Berdoalah dengan Sopan, Jangan Pernah Sekalipun Mendikte Tuhan


berdoalah-dengan-sopan-jangan-pernah-sekalipun-mendikte-tuhan

IslamIndonesia.id—Berdoalah dengan Sopan, Jangan Pernah Sekalipun Mendikte Tuhan

 

Seorang Syaikh memberikan nasihat kepada para muridnya, “Jika kalian ingin mengetahui maqam spiritual seseorang, maka perhatikan dan simaklah—jika memungkinkan— bagaimana saat ia tengah berdoa. Namun yang demikian itu tidak akan banyak memberikan manfaat. Akan lebih baik jika kalian meneliti kedalaman batin kalian sendiri, saat kalian berdoa atau mengharapkan sesuatu dari Allah.”

Ketika para murid bertanya, “Doa apakah yang sebaiknya dipanjatkan?”

Syaikh menjawab, “Mintalah kepada Allah apa-apa yang paling kalian butuhkan. Jika kalian belum atau tidak tahu apa yang paling kalian butuhkan, maka janganlah kalian mengajari apalagi mendikte-Nya. Karena yang demikian itu bukan hanya tidak sopan, tetapi kalian telah berbuat kurang ajar.”

Dan, sang Syaikh pun menyampaikan salah satu ayat dari kitab Zabur yang biasa digunakan oleh para sufi sebagai dasar memanjatkan doa kepada Allah, “Ya ibna Adam, athi’niy fiymaa amartuka walaa tua’allmniy bimaa yashluhuk!” (Wahai putra Adam, taatilah apa-apa yang telah Aku perintahkan kepadamu dan tak usah kamu mengajari-Ku tentang apa saja yang baik menurutmu!).

Doa yang sesungguhnya menjadi media yang sangat privat saat seseorang berhubungan kepada Tuhan, terkadang justru digeser dari relnya karena berbagai kepentingan di baliknya. Tentu sah-sah saja yang demikian itu dilakukan, karena doa memang tak bisa dimonopoli oleh siapa pun termasuk oleh kaum sufi.

[Baca:  HIKMAH-Mengapa Sebagian Doa Tidak Dikabulkan?]

Namun demikian, hendaknya setiap pendoa menyadari dengan sesadar-sadarnya posisi dirinya sebagai hamba yang meminta kepada Tuannya, jangan sampai justru mendikte dan seolah merasa pantas memerintah-Nya.

Hal ini sebagaimana pernah disampaikan Ki Ageng Suryomentaram pada tahun 1935 silam. Yang melalui siaran radio di Solo, dengan caranya yang khas Ki Ageng mengkritisi hal ini dan secara implisit mengatakan bahwa di dalam berdoa, kebanyakan manusia sesungguhnya tidak sedang berhubungan dengan Tuhan, tetapi sekadar berusaha memaksakan keinginannya belaka.

Itulah tabiat pendoa dan hamba yang celaka, kata Ki Ageng. Karena dengan kesombongannya telah melakukan hal yang sungguh tak pantas dan melampaui batas, menurutnya.

[Baca juga:  RENUNGAN JUMAT – Doa dalam Al-Qur’an]

Dengan senantiasa berharap bimbingan dan kasih-sayang Allah, semoga kita tidak termasuk pada golongan para pendoa dan hamba yang celaka.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *