Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 19 September 2018

Haidar Bagir: Siap Menjadi Murid Tasawuf Saja Sulit


AP_18081659880533

islamindonesia.id – Haidar Bagir: Siap Menjadi Murid Tasawuf Saja Sulit

 

 

Berkaca kepada perjalanan Nabi Musa berguru pada Nabi Khidir, maka perjalanan mencapai Hakikat itu tidak mudah. Musa akhirnya berpisah dengan Khidir di tengah perjalanan setelah Musa menabrak syarat yang ditetapkan Khidir.

[Baca kisah Nabi Musa dan Khidir: Menjalani Laku Tasawuf Tanpa Irfan, Mungkinkah?]

Menurut penulis buku Belajar Hidup dari Rumi, Haidar Bagir, pengenalan terhadap Allah dan manisfestasi-Nya (irfan) memiliki peran penting sebagai persiapan suluk dalam tasawuf. Setidaknya, seseorang dapat mempersiapkan bekal seperti sifat sabar setelah mengenali sulitnya menempuh perjalanan mencapai Hakikat.

“Bersuluk itu susahnya setengah mati, bahkan untuk  siap menjadi murid pun susah,” kata Haidar dalam kajian irfan di Pesantren Tasawuf Virtual Nur al-Wala.

Syarat menjadi murid tasawuf bukan sekedar mengaku, “Saya siap menjadi murid.” Namun setidaknya ia harus melewati makam pertama: kesadaran bahwa dirinya masih jauh dari Allah.

“Kesadaran bahwa kita masih punya banyak kekurangan, bahwa kita harus punya semangat besar karena perjalanan ini sulit,” ujar Penulis Epistemologi Tasawuf ini. Ketika kesombongan tidak lagi berwujud pada diri seseorang, ia bisa bergerak menempuh makam selanjutnya.

Gambaran sulitnya perjalanan ruhani (suluk) ini telah diungkapkan oleh sejumlah sufi besar dalam dunia Islam. Satu di antaranya Fariduddin Attar dalam karyanya Mantiqu Thair.

[Baca juga: Perbedaan Irfan dan Tasawuf]

Bagaimanapun, Haidar menegaskan, pentingnya irfan sebagai pengetahuan pendahuluan sebelum menjalani suluk. Hal ini diisyaratkan juga dalam Al-Qur’an, Surat Az-Zariyat: 56, “Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.”

Mufasir Ibnu Abbas mengartikan liya’budun sebagai liya’rifun. Sehingga ayat di atas dapat berarti, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengenali-Ku.”

Tentunya, belajar irfan harus dilakukan dengan serius, terstruktur dan yang paling penting: semakin dalam seseorang belajar irfan, ia semakin rendah hati. Karena itu, irfan bagian penting dalam proses pendahulan sebelum menjalani suluk. “Jangankan menjadi sufi, menjadi murid Tasawuf saja perlu persiapan,” kata Haidar.

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *