Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 21 April 2016

TOKOH–Eric Winkel, Penerjemah Magnum Opus Ibn Arabi


Eric Winkel

Islamindonesia.id-Eric Winkel, Penerjemah Magnum Opus Ibn Arabi

Dalam khazanah keilmuan Islam, ada banyak kitab klasik berbahasa Arab yang hingga sekarang belum diterjemahkan ke bahasa lain secara komprehensif. Harap maklum, penerjemahan perlu pemahaman yang dalam terhadap tema yang dibicarakan sehingga pembaca tidak hanya mendapatkan “arti kata”, namun juga makna yang ingin disampaikan pengarang.

Salah satunya adalah kitab milik Ibn Arabi, Sufi abad 11 yang fenomenal dalam dunia tasawuf, yaitu Al-Futuhat Al-Makiyyah. Kitab yang terdiri dari 10.000 halaman ini sedang diterjemahkan Dr. Eric Winkel ke dalam buku berjudul Openings in Makkah atau Pembukaan-pembukaan di Makkah.

Untuk menunukkan keseriusannya menyelami bidang ini, Eric Winkel mengikuti sebuah tarekat dan mendapatkan nama “Sufi” Syuaib. Kini dia mengaku lebih nyaman dipanggil dengan nama Syueb ini. Dia bercerita bahwa dia mulai mengenal dunia sufi pada umur sepuluh tahun dan memulai terjemahan pada Kitab Futuhat saat memasuki umur 20 tahun.

Dia merupakan lulusan Universitas South Carolina dalam bidang teknik listrik sambil melanjutkan studinya di bidang agama, lebih khususnya yang terkait dengan hal-hal spiritual. Untuk S2, dia mengambil ilmu politik. Dalam rangka mendalami khazanah spiritual, Syueb mempelajari beberapa bahasa, di antaranya Arab, Sansekerta, Yunani, Koptik, Tamil, Jerman dan Prancis.

Syuaib menghabiskan waktu 20 tahun untuk belajar hingga akhirnya pada 2012 dia memulai proyek penerjemahan Futuhat Al-Makiyyah. Kini dia sudah menerjemahkan 3000 halaman. Rencananya, proses penerjemahan akan berakhir pada 2018.

Bagi dia Futuhat adalah kitab yang sangat spesial, dan karenanya dia merasa harus menerjemahkannya. Futuhat bagaikan Yusuf dan dia adalah Julaikha-nya. Maka tidak ada Yusuf lain bagi Julaikha dan tidak ada kitab lain yang harus diterjemahkannya kecuali Futuhat.

Dalam kurun waktu 6 tahun, dia telah menerjemahkan buku 1 hingga 12 dan akan terus berlanjut. Dalam penerjemahannya, dia berkata bahwa apa yang dia lakukan bukan hanya menerjemahkan, tetapi juga mentransmisikan nasihat-nasihat Ibn Arabi.

“Jadi jika ada yang bertanya apa yang akan saya lakukan setelah penerjemahan ini, saya tidak tahu. Karena terjemahan mungkin akan berakhir tapi tidak begitu dengan transmisinya,” ujar pria kelahiran Manhattan, Kansas, pada acara Apresiasi Penerjemahan Futuhat Al-Makiyyah di salah satu kampus di Jakarta Selatan (16/04).

Futuhat Al-Makiyyah sendiri adalah kitab yang ditulis Ibn Arabi saat dirinya berada di Mekah. Dia mendapatkan pembukaan-pembukaan atau dalam bahasa sufi penyingkapan terhadap rahasia-rahasia Ilahi. Pada masanya dia pergi ke tiap-tiap rumah kemudian memberikan ijazah pada orang yang dia anggap mampu sehingga orang itu bisa mempelajari dan menyalin kitabnya.

Dia memulai penerjemahan dari bab 1 dan bukan dari mukadimah. Alasannya karena Ibnu Arabi sendiri pada akhir pembukannya mengatakan bahwa mukadimah itu hanya ilawat atau tambahan; kamu bisa mengambilnya atau melewatinya. Tapi anehnya, para penerjemah karya ini dalam beberapa abad terakhir justru lebih fokus pada mukadimah tersebut.

Jika Anda melihat sampul dari semua buku yang sudah diterbitkan, maka masing-masingnya memiliki arti penting dan makna tersendiri. Sebagai orang yang mumpuni dalam bidang matematika, terjemahan Syuaib atas magnum opus ini diperkaya dengan sejumlah ilustrasi geometris. Menurutnya, banyak fakta yang “disingkapkan” Ibn Arabi sebenarnya kini telah dibuktikan oleh para ahli geometri. Tidak terkecuali visinya yang serupa dengan yang ditemukan oleh ahli-ahli quantum physics (fisika quantum).

Dalam terjemahannya, Dr. Syuaib mampu membumikan pesan-pesan Futuhat sehingga bisa dimengerti secara mudah dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena Ibn Arabi memang menginginkan kita untuk mengerti bukunya. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan Ibn Arabi memulai tulisannya dengan kalimat “Pelajarilah..!”, yang menunjukkan bahwa buku ini memang bisa dipelajari.

Saran Syuaib pada semua orang agar saat membaca buku ini dan mendapatkan sesuatu yang pas serta menarik, orang itu harus terus mengejar dan mengetahui maksud yang ingin disampaikan. “Ada dua pilihan yang mendorong kita untuk terus membaca, yaitu kita belajar dan mengikuti sunnah, syari’ah dan tariqah yang ada atau jika kita belum siap maka bagaimana caranya agar kita bisa bergerak lebih cepat dan lebih baik pada jalur yang benar,” ujarnya. []

(Baca juga: KAJIAN–Ibn Arabi: Hidup ini Hanyalah Mimpi)

 

Andi/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *