Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 29 December 2016

Mengenal Quraish Shihab, Sang Maestro Tafsir Al-Qur’an Asal Rappang


15726827_10202973510694265_2903690362106980658_n

islamindonesia.id – Mengenal Quraish Shihab, Sang Maestro Tafsir Al-Qur’an Asal Rappang

 

Entah apa yang membuat KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri hingga bertanya ke Fathi, cucu Prof. Muhammad Quraish Shihab, “Engkau memanggil apa kepada kakekmu ini?”

Dan sang cucu menjawab, “Kami memanggilnya Habib.”

Jawaban Fathi pun mengundang dialog segar hingga ‘sang kakek’ yang berada di sisi Gus Mus pun ikut  ‘nimbrung’. Menurut penulis ‘Tafsir Al Misbah’ ini, makna sejati “habib” ialah dikasihi dan mengasihi. Atau yang tidak hanya mau dikasihi tapi juga mau mengasihi orang lain.

>> Gus Mus: Quraish Shihab, Habib yang Alim dan Mengasihi

Dialog ringan namun sarat makna antara dua ulama dan kedua cucunya itu pun tersebar di media sosial. Seakan telah dinanti-nantikan sejak lama, tidak hanya apa yang diperbincangkan, setiap foto yang mengabadikan pertemuan kedua jebolan Al Azhar Mesir itu pun menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen.

“Anda akan mendapat pencerahan dan luberan ilmunya, Insyâ Allâh. Bila Anda belum berkesempatan dekat dan berkenalan dengan manusia yang mengasyikkan ini, sementara bacalah dulu buku Cahaya, Cinta, dan Canda M. Quraish Shihab,” kata Gus Mus setelah mengunggah sejumlah foto pertemuannya dengan sang habib di akun facebooknya (24/12).

Kata-kata ini juga lah yang menjadi endorsment Gus Mus untuk buku yang mengungkap sisi lain Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII ini. Dan tentunya, kenangan selama menimba ilmu di Al Azhar Mesir menjadi warna khas dalam karya ini.

Dikisahkan, sore hari Quraish kadang-kadang ingin jajan. Favoritnya, roti isi gula. Separuh ia makan, separuhnya lagi disimpan untuk makan malam.

Celakanya, dalam beberapa jam saja, roti murah itu sudah mengeras. Biar kembali enak, roti itu dipanaskan. Tak ada alat pemanas, yang ada hanya seterika. Quraish mengendap-endap ke ruang cuci dan menyeterika roti.

“Enak sekali, gulanya meleleh kena panas seterika.”

Lama kelamaan, semua pelajar makan roti seterika. Tak lagi sembunyi-sembunyi. Justru penghuni asrama sepakat, ada seterika untuk roti, ada khusus pakaian!.

Demikianlah sepenggal “Cahaya, Cinta, dan Canda Quraish Shihab” yang telah diterbitkan oleh Lentera Hati. Tokoh senior Muhammadiyah, Prof. Ahmad Syafi’i Maarif tak luput menyambut kehadiran karya yang lahir dari tangan Mauluddin Anwar dan kawan-kawan ini.

“Buku ini sekalipun menyuguhkan “sisi lain” dari sang maestro tafsir Al-Qur’an ini, benang merah pemikirannya tentang Islam dan kemanusiaan dapat kita telusuri di dalamnya dan pada karya-karyanya yang lain yang tidak sedikit jumlahnya,” kata pria yang akrab disapa Buya Syafi’i ini.

>> Quraish Shihab: Menghormati Pendapat Berbeda, Bukan Berarti Menerimanya

Seperti diketahui,  Quraish Shihab juga dikenal sebagai cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an. Ia lahir di Rappang – Sulawesi Selatan pada 16 Februari 1944 dari pasangan Abdurrahman Shihab dan Ibu Asma Aburisyi.

Pria yang kini berusia 72 tahun juga merupakan putra keempat dari 12 bersaudara. Di antara kakaknya ialah Umar Shihab yang juga ulama sepuh di Indonesia dan di antara adiknya ialah Alwi Shihab, Menteri Luar Negeri RI 1999 – 2001.

Adapun kakeknya bernama Habib Ali bin Abdurrahman Shihab dari Hadhramaut. Meski memiliki darah habaib, Quraish Shihab tidak mau dipanggil habib kecuali oleh cucunya saja.

Hal ini karena lebih cocok berdasarkan artinya – seperti ia kemukakan ketika berkunjung ke rumah Gus Mus. “Karena kakek itu sangat mencintai cucunya, terkadang lebih dari cinta kepada anaknya. Cucu juga kadang-kadang lebih mencintai kakeknya daripada bapaknya,” katanya.

>> KAJIAN: Beginilah Cara Habaib Terdahulu Berdakwah Islam

Alasan kedua, memata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Dan menurut Quraish,  gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebagaimana dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil habib,” kata Quraish merendah seperti dikutip portal resmi NU (27/12)

Apalagi, ada ajaran ayahnya, Habib Abdurrahman, agar tidak menonjolkan garis keturunan. Beliau enggan menggunakan gelar “Sayyid”, “Haji”, atau “Kiai”. Bahkan tidak juga gelar akademis.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang (Makassar), ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Malang, yang ia lakukan sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits al-Faqihiyyah.

Pada tahun 1958 ia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di Kelas II Tsanawiyah al-Azhar. Tahun 1967, ia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin – Jurusan Tafsir dan Hadits – Universitas al-Azhar.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir al-Qur’an dengan tesis berjudul Al-I’jaz at-Tasyri’i li al-Qur’an al-Karim.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor Bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang.

Selain itu, ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam lingkungan maupun di luar kampus. Di antaranya ialah Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur, Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam Bidang Pembinaan Mental.

Selama di Ujung Pandang, ia juga sempat melakukan beberapa penelitian, antara lain penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).

Quraish Shihab menikah dengan Fatmawaty Assegaf pada 2 Februari 1975 di Solo. Mereka dikaruniai lima orang anak, Najelaa, Najwa, Nasywa, Ahmad, dan Nahla.

Tahun 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di almamater lamanya. Tahun 1982 ia meraih doktornya dalam Bidang Ilmu-ilmu al-Qur’an dengan disertasi yang berjudul Nazhm ad-Durar li al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah.

Quraish akhirnya lulus dengan yudisium Summa Cum Laude disertai Penghargaan Tingkat I (mumtaz ma`a martabat asy-syaraf al-’ula).

>> Guru Besar Al-Azhar: Aswaja Tidak Mengkafirkan yang Shalat Menghadap Kiblat

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984 Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca-sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan.

Quraish Shihab juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari`ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Saat ini, Quraish Shihab aktif menulis artikel, buku dan karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Tafsir al-Mishbah, yaitu tafsir lengkap yang terdiri dari 15 volume dan telah diterbitkan sejak 2003.

“M. Quraish Shihab, sosok yang selama ini lebih kita kenal sebagai ulama yang ahli Tafsir. Dia adalah cerminan dari “ulul-albab Indonesia” sejati,” kata Presiden Indonesia III Bacharuddin Jusuf Habibie menilai ulama produktif ini.

Selain sebagai penulis, sehari-hari Quraish Shihab memimpin Pusat Studi al-Qur’an, lembaga non profit yang bertujuan untuk membumikan al-Qur’an kepada masyarakat yang pluralistik dan menciptakan kader mufasir (ahli tafsir) al-Qur’an yang profesional.[]

>> Quraish Shihab: Indonesia Bukan Negara Sekuler, Bukan Negara Agama

YS / islamindonesia/ sumber: quraishshihab.com dan berbagai sumber lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *