Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 17 January 2018

Kapal Kayu Masa Awal Islam, Seperti Apa?


Kapal Kayu Masa Awal Islam, Seperti Apa

islamindonesia.id – Kapal Kayu Masa Awal Islam, Seperti Apa?

 

Menurut buku Classic Ship of Islam karangan Dionisius A Aigus, pembuatan kapal dari bahan kayu diperoleh orang-orang Arab di Teluk Persia dari bangsa Persia dan India. Kota Aden menjadi pusat pembuatan kapal utama di kawasan ini. Di pesisir barat daya India di selatan Calicut ada galangan kapal Beyphore yang sangat terkenal karena terletak di persimpangan jalan antara Hindia Barat dan Timur Jauh.

Apalagi, wilayah itu mampu menyuplai berbagai macam kayu berkualitas untuk pembangunan kapal dengan berbagai bengkel dan galangan kapal berserakan di sepanjang pesisirnya. Pesisir barat daya India memang tempat cocok bagi kapal untuk berlabuh di tengah perjalanan menuju Cina atau ke Arabia, terutama karena angin musonnya yang bisa membantu mendorong kapal.

Posisi ini membuat Calicut juga menjadi tempat pembuatan kapal utama untuk para konsumen di Teluk Persia. Bahkan, penulis Portugis Duarte Barbosa pada awal abad ke-16 menyaksikan ada kapal dari Laut Merah membawa ahli kapal ke Calicut.

Para ahli kapal Arab membutuhkan kayu yang didatangkan dari India, seperti jati, untuk penutup badan kapal. Jati sangat ideal karena mudah ditekuk mengikuti bentuk kapal dan sangat kuat. Konon, ada kapal Bahrain yang kayu jatinya mampu bertahan sampai 200 tahun. Kayu lain yang disuplai dari India adalah kayu terap, kayu nangka, haldina, kayu mangga, bintangur, dan bungur.

Untuk kapal yang lebih kecil, kayu lokal digunakan untuk sambungan. Kayu kelapa yang diimpor dari Maladewa digunakan untuk lunas dan tiang layar. Misionaris Jesuit Jeronime Lobo pada 1678 bahkan melihat bahwa kayu kelapa juga dipakai untuk dayung dan jangkar.

Bentuk kapal kayu pada masa awal Islam tak banyak diketahui, tetapi diperkirakan badan kapalnya cenderung membulat, tak seperti kapal Romawi yang panjang dan meruncing. Mulanya, kapal galley atau kapal layar bertenaga dayung milik kerajaan Islam di Laut Tengah ukurannya lebih besar dan lamban dibanding kapal galley zaman Yunani, tetapi beberapa waktu kemudian bentuk kapal galley Islam menyerupai kapal Eropa.

Lagi-lagi, galangan kapal India yang menjadi tempat berkumpul kapal dari Barat menuju Timur Jauh memberi pengaruh besar pada bentuk kapal di kawasan Teluk Persia. Terjadi percampuran bentuk kapal dari berbagai budaya. Sejarawan Portugis Gaspar Correia pada abad ke-15 menceritakan bahwa ada pedagang Arab memesan kapal di Gujarat India dengan mengambil bentuk kapal Eropa.

[Baca juga: Tradisi ‘Penaklukan’ Laut dalam Peradaban Islam]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *