Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 21 December 2016

ANALISIS–Apa yang Terjadi di Aleppo: Pembebasan atau Pembantaian?


false-flag-pic

islamindonesia.id – Apa yang Terjadi di Aleppo: Pembebasan atau Pembantaian?

 

Media arus utama Barat, suka atau tidak, telah menjadi penyumbang terbesar bagi menguatnya paham/gerakan radikalisme di Dunia Islam. Perspektif mereka tentang Suriah dan krisis Timur Tengah setali tiga uang dengan perspektif gerakan-gerakan ekstremis tersebut. Kampanye massif media arus-utama untuk menyelamatkan para pemberontak Aleppo sudah sampai pada tingkat propaganda keji untuk memperpanjang perang dan memoles citra gerakan-gerakan ekstremis itu di mata dunia. Bukankah ini mengerikan?

Saat pasukan Suriah dibantu sekutu-sekutunya membebaskan Aleppo dari pengepungan selama 4 tahun, Washington dan Eropa bersama-sama meningkatkan agresi media dan sanksi ekonomi mereka terhadap kubu ini. Adakah ini suatu kebetulan? Jawabnya tentu saja tidak. Semua ini adalah suatu reaksi getir atas kekalahan proksi mereka di medan pertempuran.

Alih-alih merayakan kebebasan Aleppo bersama para penduduknya dari cengkraman para teroris dan pemberontak; alih-alih mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada puluhan ribu penduduk sipil yang terbebas dari teror gerakan-gerakan ekstremis; alih-alih memuji langkah tentara Suriah beserta segenap sekutunya yang berhasil memulihkan keamanan di kota terbesar kedua Suriah, media Barat dan sebagian media Arab justru mencoba merusak citra tentara Suriah dan sekutu-sekutunya.

Perilaku media Barat itu salah satu contoh dari penolakan terhadap kenyataan—ingat teori “anggur masam” dalam psikologi populer. Realitas Aleppo telah mengubur harapan Amerika Serikat, NATO dan sekutu-sekutunya terhadap kekuatan gerakan-gerakan ekstremis tersebut dalam menghadapi tentara Suriah dan sekutu-sekutunya di medan pertempuran yang sesungguhnya.

Barat kini menemukan apa yang mereka anggap sebagai “revolusi” Suriah berbalik 180 derajat. Mereka telah begitu salah dalam melihat realitas yang sebenarnya. Pembebasan Aleppo pekan lalu memperlihatkan kebohongan sistematis sejumlah pemerintahan Barat dan media mereka yang ikut serta sejak awal dalam perang atas Suriah. Dan perang itu sama sekali tidak pernah tentang gerakan pro demokrasi sebagaimana yang selama ini hendak mereka cekokkan. Apa yang terjadi di bumi Suriah sejak Maret 2011 silam adalah operasi penggulingan pemerintahan yang sah dengan dukungan penuh Barat. Dan operasi itu kini kian dekat dengan kekalahan akhirnya.

Bukanlah suatu kebetulan jika pasca pembebasan Aleppo Barack Obama dan elit AS memunculkan klaim bahwa Rusia meretas sistem pemilihan umum Amerika yang mengantarkan Donald Trump ke Gedung Putih. Tidak hanya itu. Gedung Putih menuduh langsung Presiden Vladimir Putin secara pribadi memerintahkan sebuah tim untuk meretas email pribadi Hillary Clinton. Obama lalu memperingatkan bahwa Amerika akan merespons ulah hacking itu dengan perang maya «di tempat dan waktu yang kita pilih sendiri ». Inilah salah satu klaim paling menggelikan dari negara adidaya yang memperlihatkan perilaku getir dari pecundang yang ingin mencari kambing hitam.

Sejurus dengan itu, pimpinan Uni Eropa memperpanjang sanksi ekonomi dan diplomatik atas Russia selama 6 bulan lagi. Alasan resminya tentu adalah konflik di Ukraina, tapi alasan yang lebih masuk akal adalah perkembangan dramatis yang terjadi di Suriah—dimana sekutu-sekutu Barat lari tunggang langgang dari medan tempur yang sebenarnya.

Di depan KTT Uni Eropa, Kanselir Jerman Angela Merkel mengutuk kekejian yang terjadi di bagian utara Aleppo yang menurutnya dilakukan oleh pasukan Suriah dan pasukan sekutunya dari Rusia dan Iran. Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, menyesalkan aksi-aksi kekejaman yang terjadi di Aleppo. Tapi, sayangnya, atau tentunya, baik tuduhan Obama terkait klaim peretasan maupun aksi kekejaman oleh pasukan Suriah dan sekutu-sekutunya di Aleppo sama sekali tidak berdasarkan pada bukti yang valid.

Klaim Barat dan sebagian kerajaan Arab tentang “pembantaian” di Aleppo sepenuhnya bersandar pada laporan media yang sejak semula telah menjadi bagian tak terpisahkan dari persekongkolan untuk menggulingkan pemerintahan sah Bashar Assad. Tidak ada bukti maupun kesaksian yang dapat diverifikasi dari puluhan ribu warga sipil yang keluar dari kantong-kantong yang dikuasai kelompok pemberontak tersebut. Seluruh klaim itu semata-mata adalah propaganda yang berpijak pada gosip yang dilontarkan kelompok-kelompok pendukung teroris dan didaurulang oleh media Barat.

Tragedi yang sebenarnya tetapi tidak dilaporkan media Barat adalah ketercekaman penduduk Aleppo yang hidup di bawah ancaman kelompok-kelompok teroris. Aspek lain yang tidak dilaporkan oleh media Barat adalah perayaan penduduk Aleppo yang berhasil bebas dari “pemerintahan” para pemberontak berkat upaya bersama tentara Suriah dan sekutunya dari Rusia, Iran dan Lebanon.

Kemana para pemberontak “moderat” yang selalu dielu-elukan oleh media Barat selama ini ketika tabir kelam Aleppo benar-benar tersingkap? Di mana para sukarelawan White Helmets (helm putih), yang baru beberapa pekan lalu dinominasikan menerima hadiah Nobel Perdamaian? Ternyata mereka semua melarikan diri menggunakan bus-bus yang sama dengan yang digunakan para jihadis ke kota Idlib sebagai bagian dari kesepakatan penyerahan diri.

Apa yang terjadi di Aleppo saat ini membawa pemerhati Suriah pada dua kesimpulan. Pertama, media dan pemerintah Barat selama ini mengandalkan sumber-sumber informasi dari para teroris yang selama ini mengepung penduduk Aleppo. Kedua, media dan pemerintah Barat selama ini mendukung para teroris dengan berbagai namanya, entah nama keren seperti White Helmets ataupun momok menakutkan seperti Daesh (ISIS).

Banyak warga Aleppo yang baru saja terbebas dari teror yang selama ini mengangkangi mereka mengisahkan soal bagaimana keluarga mereka diancam dengan eksekusi mati jika ada yang berani melarikan diri dari teritori yang mereka kuasai. Bantuan kemanusiaan, pasokan makanan dan obat-obatan yang menumpuk di gedung-gedung yang dikuasai para teroris selama ini hanya digunakan untuk memeras penduduk. Tidak ada laporan tentang kekejaman ini di media arus-utama Barat dan dunia. Sebaliknya, mereka terus berfantasi tentang berbagai pembantaian, eksekusi mati, dan aksi kekejaman lain yang dilakukan pasukan Suriah dan sekutu-sekutunya terhadap perempuan dan anak-anak. Laporan-laporan yang sama sekali tidak dapat didukung bukti dan tidak pernah diverifikasi itu lamat-lamat ditarik dari peredaran dan publikasi.

Salah satu yang menggelikan dalam konteks ini adalah apa yang dilakukan oleh jurnalis CNN sok-hebat, Christiane Amanpour, pekan lalu. Dia memberi waktu khusus kepada seorang dokter bernama Hamza al-Khatib yang menuduh tanpa bukti adanya pembantaian oleh tentara Suriah terhadap anak-anak di sebuah lantai bawah gedung di Aleppo. Amanpour pun memperlihatkan wajah ketakutan untuk meyakinkan pemirsa bahwa apa yang disampaikan “sang dokter” itu benar-benar sebuah fakta. “Fakta” yang sama lalu didaurulang oleh Duta Besar AS untuk PBB, Samantha Power, dalam sidang Dewan Keamanan. Lacurnya, Hamza al-Khatib itu bahkan bukan seorang dokter, sebagaimana disampaikan oleh staf Universitas Aleppo—almamaternya.

Hamza al-Khatib ini pernah berfoto bersama teroris yang bertanggungjawab atas penggorokan bocah dan pengungsi Palestina berusia 12 tahun bernama Abdullah Issa di sekitar Aleppo. Sejumlah sumber bahkan meragukan Hamza al-Khatib benar-benar berada di timur Aleppo seperti yang diklaimnya. Sumber-sumber itu menduga dia bersembunyi di Turki, dan dari tempat persembunyiannya itu dia memberikan wawancara kepada jurnalis macam Amanpour. (Perhatikan bagaimana lucunya mimik wajah Hamza saat Amanpour bertanya bagaimana dia bisa tetap aman di Aleppo.)

Tapi kebohongan soal Hamza al-Khatib ini ternyata juga tidak terlalu kreatif. Jika Anda mencari nama Hamza al-Khatib di Google, maka Anda akan menemukan nama ini telah digunakan untuk anak berusia 13 tahun yang konon pada 29 April  2011 ditahan oleh pemerintah Suriah karena ikut aksi protes di Deraa dan kemudian mati dalam penahanan. Berita kematian Hamza al-Khatib sang bocah di Deraa dan bukan Hamza al-Khatib sang dokter gadungan di Aleppo saat itu mengharubiru media massa di seluruh dunia.

Kebohongan dan kepalsuan media soal Suriah memang telah memecahkan banyak rekor. Tapi yang jelas, akibat kebohongan dan kepalsuan itu, ratusan ribu jiwa melayang, jutaan luka-luka dan terusir dari rumah mereka, bahkan sebuah negara bangsa terancam punah dan lenyap dari dunia. Sekarang kita berada di suatu era di mana media berhasil menciptakan kebencian dan permusuhan, perang dan teror, di atas tumpukan dusta yang sama sekali tidak berdasar.

 

AJ/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *