Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 25 December 2016

Bupati Purwakarta: Kita ini Bangsa Toleran, Jangan Impor Tradisi Konflik Agama Kemari


bupati-purwakarta-kita-ini-bangsa-toleran-jangan-impor-tradisi-konflik-agama-kemari

islamindonesia.id – Bupati Purwakarta: Kita ini Bangsa Toleran, Jangan Impor Tradisi Konflik Agama Kemari

 

Dinobatkan sebagai daerah paling toleran di Indonesia versi Dewan HAM PBB, tak membuat Purwakarta puas diri dan berpangku tangan. Begitu juga saat disebut sebagai Kabupaten paling toleran di Provinsi paling intoleran oleh Komnas HAM. Sebaliknya, berbagai langkah terobosan untuk merawat toleransi dan kebhinnekaan terus ditumbuhkembangkan. Semua upaya itu diperlukan agar Indonesia tetap menjadi Indonesia yang apa adanya, dengan warga negara yang tetap mampu berpegang teguh pada prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Karena dengan modal itulah, selama ratusan tahun nenek moyang bangsa Nusantara telah terbukti mampu menjaga kerukunan dan kedamaian hidup bermasyarakat dan berbangsa.

[Baca: Dewan HAM PBB Akui Purwakarta Daerah Paling Toleran di Indonesia]

Hal ini senada apa yang disampaikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di hadapan ribuan orang yang terdiri dari TNI, Polri, PNS, dan siswa yang menghadiri Pencanangan Pendidikan Kader Ideologi Kebangsaan Pancasila, Rabu (21/12/20160, bahwa Indonesia adalah negara yang toleran. Buktinya, berbagai agama bisa berkembang di Indonesia.

“Tidak ada (agama) yang masuk (ke Indonesia) melalui peperangan,” ujarnya. Karena itu, sambung Dedi, tidak ada konflik agama di negeri ini. Kalaupun ada, ia meyakini, konflik semacam itu pasti dibawa dari luar.

“Jangan impor konflik agama kemari (Indonesia). Orang Indonesia itu bertengkarnya paling urusan batas sawah, rebutan air di musim kemarau. Yang cukup parah, urusan sepak bola seperti Viking dan The Jack. Itu saja, tidak ada itu konflik agama,” ungkapnya.

Dedi memastikan bahwa tradisi konflik itu bukan budaya kita, melainkan datang dari luar Indonesia. Itu karena persoalan leluhurnya yang tidak bisa menyelesaikan konflik. Konflik itu pun diturunkan dalam bentuk keyakinan. Berbeda halnya dengan Indonesia, pertentangan pada zaman kerajaan dulu hanya sebuah cerita.

“Apakah cerita itu benar atau tidak, kita tidak tahu. Yang pasti, pertentangan itu tidak diteruskan ke generasi selanjutnya,” tutur Dedi.

Ia mencontohkan, cerita Majapahit dengan Padjadjaran dan Kerajaan Galuh tidak menjadi konflik yang berterusan hingga ke generasi berikutnya.

“Tidak pula dibawa ke ranah keyakinan,” ujarnya.

Dedi menambahkan, semangat toleransi ini terus ditumbuhkannya di Purwakarta. Berbagai langkah diambil, mulai dari pembentukan Satgas Toleransi hingga Sekolah Ideologi Kebangsaan.

“Sekarang, dua hal yang digagas Purwakarta, yaitu Satgas Toleransi dan Sekolah Ideologi Kebangsaan, mulai banyak ditiru kabupaten dan kota daerah lain. Kita bersyukur, meski Purwakarta kecil, bupatinya kecil, pemikirannya luas,” pungkasnya.

[Baca: Komnas HAM: Di Provinsi Paling Intoleran Ada Purwakarta Paling Toleran di Indonesia]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *