Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 21 September 2016

OPINI – Turki Versus ISIS


images

IslamIndonesia.id – OPINI – Turki Versus ISIS

 

Oleh Zuhairi Misrawi*

 

Serangan bom bunuh diri oleh Negara Islam di Irak dan Suriah di Gaziantep, Turki, Selasa (23/8), yang menewaskan 51 orang, dibalas Pemerintah Turki dengan melakukan operasi militer besar-besaran ke Jarablus, wilayah Suriah yang berbatasan langsung dengan Turki. Wilayah ini ditengarai sebelumnya berada di bawah kekuasaan ISIS.

Pemerintah Turki mengklaim menguasai penuh wilayah itu. Turki ingin memastikan bahwa ISIS tak boleh lagi mengganggu keamanan dalam negeri Turki. Perang melawan ISIS telah jadi prioritas utama Pemerintah Turki karena dalam setahun terkhir ISIS terbukti menjadi ancaman serius bagi keamanan Turki.

Dalam tiga tahun terakhir, ISIS berhasil memorakporandakan Turki. Setidaknya 46 orang tewas dalam serangan ISIS yang sangat mematikan di Bandara Istanbul. Sebelumnya, masih pada 2016, ISIS melancarkan dua kali serangan termasuk di Alun-alun Sultan Ahmet yang menewaskan 12 orang. Pada 2015, setidaknya bom menewaskan 100 orang di kereta bawah tanah Ankara, dalam bom bunuh diri di Reyhanli, wilayah perbatasan Turki dengan Suriah.

Menurut Mustafa Akyol (2016), pada mulanya pihak yang hendak disasar ISIS adalah suku Kurdi dan turis asing. Namun serangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuktikan, ISIS sudah tak lagi menyasar Kurdi saja, melainkan telah menjadikan warga Turki secara umum sebagai musuhnya. Konsekuensinya, Turki melakukan perlawanan serius atas ISIS.

Mesra

Pada mulanya, relasi Turki dan ISIS relatif mesra. Sejak berdiri pada 2013, ISIS hampir tidak mendapatkan perlawanan dari Turki yang dipimpin Erdogan. Bahkan, konon ISIS mendapatkan hak istimewa untuk memasok milisi melalui jalur perbatasan Turki-Suriah. Dikabarkan juga, Turki menikmati minyak yang dieksplorasi ISIS melalui jalur perdagangan gelap.

Hubungan mesra ISIS dan Turki tersebut bukan isipan jempol, tetapi koalisi strategis untuk menumbangkan rezim Bashar al-Assad di Suriah. Turki dan ISIS punya tujuan sama. Turki bersama AS, Eropa, Arab Saudi, dan negara Teluk lainnya memandang Assad sebagai ancaman. Karena itu, Turki mendukung segala upaya melengserkan Assad, terutama upaya ISIS untuk menumbangkan Assad. Turki menjadi pintu masuk pasukan ISIS yang akan berperang melawan tentara Assad.

Namun, dalam perjalanannya Assad tidak tumbang. Setelah hampir lima tahun digempur habis-habisan, rezim Assad justru makin kuat karena disokong Rusia dan Iran. Bersamaan dengan itu, ISIS mengambil keuntungan dengan mendirikan negara dalam negara. ISIS  yang semula hadir untuk menumbangkan rezim Assad justru belakangan tak terdengar melakukan perlawanan terhadap Assad.

ISIS punya agenda tersendiri: membangun “Negara Islam” dengan sistem khilafah yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi. Kini, ISIS menjelma sebagai kekuatan sangat menakutkan dengan menebarkan bom bunuh diri ke seantero dunia. Yang mutakhir, ISIS mulai menjadikan Turki  sebagai target operasi aksi terorisme. Pertanyaannya, kenapa ISIS justru menyerang Turki yang dulu banyak membantu masuknya pasukan mereka ke Irak dan Suriah?

Pertama, ISIS kecewa dengan kebijakan Turki yang menutup perbatasan dengan Suriah. Kebijakan tersebut secara nyata telah menghambat masuknya pasukan ISIS ke Irak dan Suriah. Di samping itu, pasukan ISIS juga tidak bisa keluar dari Irak dan Suriah. Akibatnya, pasukan ISIS yang tersebar di Irak dan Suriah ibarat berada dalam penjara karena mereka dikepung pasukan negara-negara adidaya, baik darat maupun udara.

Dalam beberapa bulan terakhir, ISIS semakin terdesak. Untuk memperkuat kekuatannya, mereka membutuhkan tambahan pasukan, yang biasa disuplai dari Eropa, AS, Asia, dan negara-negara Teluk. Ketika Turki menutup perbatasan dengan Suriah dan Irak, secara otomatis ISIS tidak akan mampu menambah pasukannya.

Kedua, ISIS ingin memberikan peringatan keras kepada Turki bahwa kebijakan menutup perbatasan dengan Irak dan Suriah akan berakibat fatal bagi keamanan negara yang menjadi destinsasi para wisatawan asing. ISIS seakan tak melihat positif jasa-jasa Turki selama ini.

ISIS membuat perhitungan yang serius dengan mengebom Bandara Istanbul yang jadi salah satu kebanggaan Turki. Bandara Istanbul  merupakan salah satu bandara yang padat karena merupakan pintu masuk ke Timur Tengah, Erupa, dan Israel. Serangan ISIS ke Bandar Istanbul merupakan bentuk perlawanan terhadap rezim Erdogan.

Ketiga, ISIS bertujuan melemahkan rezim Erdogan. Kita tahu, Erdogan  terus digoyang di dalam negeri akibat keinginannya untuk mengamandemen konstitusi Turki dengan menganut sistem presidensial. Meski popularitas partai penguasa, AKP, terus menanjak, keinginan Erdogan untuk memperkuat cengkraman kekuasaannya mendapatkan tantangan tidak hanya dari lawan-lawan politiknya, tetapi juga oleh para elite partainya sendiri.

Terkahir, David Oglo yang menjabat sebagai pemimpin AKP memilih mengundurkan diri karena Erdogan bersikukuh mengubah sistem pemerintahan Turki. ISIS melalui serangannya mematikan itu hendak mengingatkan Erdogan bahwa sikap memusuhi ISIS akan semakin memperlemah kekuasaannya. ISIS menggunakan momentum krisis politik sebagai kesempatan untuk terus menggerus kekuasaan Erdogan.

Dilema

Maka, sikap Turki memusuhi ISIS akan melahirkan dilema. Di satu sisi, Turki dapat keuntungan politik dari Uni Eropa dan AS, tetapi ketidakmampuan Erdogan menjaga keamanan akan berakibat fatal. Apalagi, Turki terbukti tak punya pengamanan kuat, yang mampu mendeteksi gejala serangan ISIS yang bisa terjadi kapan dan di mana saja.

Kendati demikian, sikap Turki menutup perbatasan bagi pasukan ISIS di Irak dan Suriah terbukti berdampak serius bagi ISIS. Praktis, ISIS hanya mengandalkan bom bunuh diri. Padahal, mereka juga butuh pasukan tempur darat dalam rangka menghambat masuknya pasukan Irak dan Suriah ke kantong-kantong kekuasaan mereka di daerah yang sedang memanas, seperti Mosul, Aleppo dan Raqqa.

Harus diakui, langkah yang diambil Turki dengan menutup perbatasan merupakan langkah strategis untuk memulihkan kembali kehidupan di Irak dan Suriah. Selama masih ada ISIS di dua negara tersebut, sulit rasanya akan terjadi stabilitas politik. ISIS terbukti sebagai gerakan makar karena mereka membangun negera dalam negara. Maka dari itu, salah satu cara memulai dialog dan jalan damai di antara fraksi yang berkonflik di Irak dan Suriah diperlukan stabilitas politik. Bahkan, kalau mau jujur, langkah yang daimbil Turki sebenarnya tergolong terlambat karena ribuan pasukan ISIS sudah kadung masuk melalui jalur perbatasan Turki.

Meski terlambat, langkah Turki patut diapresiasi. Dunia saat ini sangat berharap ISIS bisa benar-benar lumpuh, seperti Al-Qaeda. Eksistensi ISIS sudah terbukti menjadi ancaman serius dunia. Bahkan, serangan ISIS dianggap lebih brutal dari Al-Qaeda.[]

 

*Peneliti Pusat Kajian Pemikiran dan Politik Timur Tengah, The Middle East Institute

 

(Baca juga – Zuhairi Misrawi: Iran Negara Paling Stabil di Timur Tengah)

 

YS/IslamIndonesia/Sumber: Harian Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *