Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 03 May 2016

SEJARAH – Mengenal Abu Dzar Al Ghifary, Sahabat Nabi Muhammad (8)


ali6

IslamIndonesia.id – Mengenal Abu Dzar Al Ghifary, Sahabat Nabi Muhammad (8)

Pasukan Muslimin tidak akan menang melawan kekuatan Hercules. Demikian isu yang dihembuskan kaum munafik di Madinah setelah Rasulullah Saw mengumumkan untuk melawan penguasa Romawi itu. Rasulullah akhirnya memimpin pasukannya keluar meninggalkan Madinah dan menyebrangi gurun menuju Tabuk.  Di tengah perjalanan, sebagian pasukan yang termakan provokasi  kaum munafik akhirnya memilih pulang ke Madinah. Mereka sengaja memperlambat perjalanannya hingga terlihat ketinggalan dari rombongan Rasulullah.

Ketika pasukan Muslimin telah menelusuri padang pasir begitu jauh, salah satu prajurit melihat seseorang yang terpisah begitu jauh. Setelah mengamati dari kejauhan, prajurit itu melapor ke Rasulullah, “seseorang tertinggal di belakang,” katanya.

“Tinggalkan dia. Jika dia berbuat baik, maka Allah akan mengirimkan ia pada kita,” jawab Rasulullah.

Tidak lama kemudian, sang Nabi kembali mendapat berita dari prajuritnya bahwa Abu Dzar tertinggal di belakang. Seperti sebelumnya, Rasulullah berkata, “tinggalkan dia. Jika dia berbuat baik, maka Allah akan membimbingnya pada kita.”

Dan pasukan Muslimin pun terus menembus gurun di bawah panasnya terik matahari. Abu Dzar dengan untanya yang telah lemah, terus berusaha mengikuti jejak pasukan Rasulullah. Sedemikian hingga untanya tak lagi mampu berjalan. Abu Dzar tak bisa lagi memaksa untanya yang tak lagi berdaya itu. Pemuda dari suku Ghiffar itu kemudian berfikir keras agar bisa segera bergabung dengan pasukan Rasulullah.

Tak kunjung mendapat ide, kegelisihan mulai menyelimuti Abu Dzar. Sesekali ia duduk, merenung dan akhirnya kesedihan menyelimutinya. Dengan kondisi itu, Abu Dzar mulai bimbang, “haruskah saya kembali ke Madinah atau melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki?,” tanyanya dalam hati.

Tak lama kemudian, Abu Dzar bangkit dari duduknya. Pemuda dari desa pinggiran Madinah itu tidak lagi mengindahkan pikiran untuk pulang. Dengan iman dan kecintannya pada Nabi, Abu Dzar pun memutuskan berjalan kaki melawati hamparan gurun yang panas itu demi bergabung bersama Rasulullah.  Meskipun sedikit demi sedikit bekalnya yang tersisa akhirnya habis, Abu Dzar tetap berjalan.

Tibalah saatnya dimana tenggorokan Abu Dzar merasakan haus. Tanpa putus asa, pria bernama asli Jundub itu berusaha mencari air di padang yang tandus itu. Hingga kemudian ia menemukan air di dalam lubang sebuah bongkahan batu.  Abu Dzar mencoba mencicipinya dan ternyata airnya sangat segar. Begitu senangnya, Abu Dzar tak sabar lagi ingin membasahi tenggorokannya yang sudah kering kerontang. Namun ternyata ia membatalkan niatnya. Abu Dzar mengingat nabinya yang ia perkirakan masih mengarungi padang pasir.

“Saya tak akan minum sebelum Rasulullah minum,” katanya sambil berusaha menahan hausnya.

Abu Dzar pun mengisi wadahnya yang kosong itu dengan air segar lalu melanjutkan perjalananya. Siang, malam, dingin dan panas ia lewati demi menyusul makhluk yang ia sangat cintai, Rasulullah Saw. Nun jauh di sana, pasukan Muslimin berhenti berkemah setelah menemukan tempat yang strategis. Keesokan harinya, ketika matahari mulai menampakkan wajahnya, salah satu pasukan Muslimin melihat dari kejauhan seseorang berjalan mendekati kemah mereka.

“Ya Rasulullah, ada seseorang laki-laki berjalan sendirian.”

“Semoga itu Abu Dzar,” jawab Rasulullah.

Dengan penuh harap bercampur cemas, pasukan Muslimin itu mengamati laki-laki yang kian mendekat itu. Hingga kemudian nampaklah siapakah gerangan yang datang menyusul itu.

“Demi Allah, dia adalah Abu Dzar,” teriak pasukan Muslimin dengan penuh haru menyambut pemuda yang setia nan gigih itu.

Kelelahan dan kehausan begitu tampak di wajah Abu Dzar hingga Rasulullah pun segera meminta prajuritnya untuk menolongnya. “Selamatkan ia dengan air,” pinta Sang Nabi.

Namun Abu Dzar mendahului prajurit yang ingin mengambilkan air untuknya. Dengan kekuatan yang masih tersisa, tangannya mengeluarkan wadah yang berisi air segar untuk diberikan kepada nabinya. Semua mata yang menyaksikan terpana.

“Abu Dzar, mengapa engkau kehausan sedangkan engkau mempunyai air?” tanya ayah Fatimah itu.

“Ya Rasulullah, saya melihat air mengalir di bongkahan batu. Saya mencicipinya. Air  itu dingin dan segar. Namun saya tidak akan meminumnya sebelum engkau meminumnya,” katanya dengan bibirnya yang masih pucat.

“Abu Dzar, semoga Allah mengasihimu,” kata Rasulullah pelan dan penuh perhatian. Utusan Allah itu pun melanjutkan, “Abu Dzar, engkau akan tinggal sendiri, meninggal sendiri, dan memasuki surga sendiri. Beberapa orang Irak akan bahagia karenamu, mereka akan memandikan tubuhmu, mengkafanimu, mendokanmu dan menguburkanmu.” []

Bersambung…

 

Edy/ KS/ Islam Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *