Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 15 October 2016

KISAH — Al-Maidah 51 dan Amarah Nusron Wahid vs Tangis Yusuf Mansur dan Lomba Wudhu Dua Cucu Nabi


amarah-nusron-wahid-tangis-yusuf-mansur-dan-lomba-wudhu-dua-cucu-nabi

IslamIndonesia.id — Almaidah 51 dan Amarah Nusron Wahid vs Tangis Yusuf Mansur dan Lomba Wudhu Dua Cucu Nabi

 

Ramai diberitakan bahwa Ustadz Yusuf Mansur mengaku menangis sedih melihat Nusron Wahid yang tampil arogan membela Ahok dalam kasus Al-Maidah 51, lalu menghina serta merendahkan para ulama yang hadir dalam acara ILC TVOne, Selasa (11/10/2016) malam lalu.

[Baca: Keseleo Lidah Soal Al-Maidah 51, Akhirnya Ahok Minta Maaf]

Melalui tulisan dan video yang diunggahnya, Pengasuh Pesantren Daarul Quran itu pun mengingatkan para pemuda tentang akhlak dan etika, agar kaum muda menghormati para orangtua terutama ulama; tidak meninggikan suara apalagi melotot dan mengomeli ulama sebagaimana yang menurutnya, telah dilakukan Nusron.

“Bismillaah… Saya dan kita semua, berdoa, dan doakan Pak Haji Nusron. Supaya tidak amarah. Apalagi sampe penuh amarah, tidak arogan, menghargai ulama, menghargai para guru, yang dari para gurunyalah Nusron bisa baca Ayat Suci. Kalau bukan dari para guru dan para ulama, yang terus bersambung kepada Rasul, darimana beliau dan kita semua bisa tau baca dan paham makna ayat demi ayat?” kata Yusuf Mansur memulai nasihatnya.

Setelah itu, dia mengaku mendapatkan pelajaran untuk menghargai orang-orang tua, utamanya para guru dan ulama. Pelajaran agar tidak meninggikan suara di hadapan para ulama, apalagi disaksikan jutaan orang pemirsa TV. Menurutnya, apa yang dilakukan Nusron kelak akan menjadi value tersendiri yang ngeri kalau sampai menjadi standar perilaku bagi anak-anak muda. Apalagi kalau sampai anak-anak muda mengira, ternyata boleh melotot dan ngomelin ulama. Bahkan semua ulama, tanpa membatasinya. Sehingga berarti ulama terdahulu, sampai ulama akhir zaman. Padahal satu ulama saja, “beracun dagingnya” dan bisa membuat kita kualat, sakit dan mati sendiri kalau sampai merendahkan, membenci atau ribut dengan mereka.

Di akhir nasihatnya kepada Nusron, Yusuf Mansur menulis, “Terus terang, saya nangis. Yaa Allah, selamatkan ummatnya Nabi ini. Apalagi ini Bulan Suci. Yaaa Allah, tolonglah kami. Hilangkan semua penyebab kami menjadi gaduh ini.”

Mungkin kita masih ingat, ketika masa kecil dulu kerap diingatkan oleh Pak Kiai dan Guru Ngaji kita, sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Ashr bahwa manusia beruntung dan dijamin tak bakal merugi itu tidak lain adalah mereka yang beriman, melakukan amal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.

Dalam rangka mengamalkan tuntunan Al-Qur’an itukah tujuan Ustadz Yusuf Mansur menasihati Nusron? Itukah cara terbaik dan paling efektif di masa kita sekarang, untuk menegur sesama Muslim yang dianggap telah melakukan kesalahan? Dengan mempublikasikan tulisan dan video semacam itukah maka para kaum muda nantinya diharapkan dapat belajar bagaimana akhlak dan etika menegur dan memberikan nasihat? Sehingga nasihat dan teguran itu bukan saja hanya bisa mengena dan semata tertuju kepada orang yang ditegur, tapi juga menyasar orang lain yang dapat mengakses nasihat dan teguran dalam format multimedia yang dalam waktu singkat ternyata menjadi viral itu? Dapatkah dipastikan bahwa pihak yang ditegur akan merasa ikhlas menerima nasihat itu dengan senang hati dan lapang dada? Siapa bisa menjamin bahwa yang bersangkutan tidak justru merasa dipermalukan di muka umum?

Atau, adakah cara lain yang lebih baik dan lebih tepat dari itu? Kalau ada, seperti apa caranya? Bagaimana bentuk teguran yang bisa sekaligus bermuatan nasihat mujarab, tanpa mempermalukan, menyakiti hati dan perasaan orang yang ditegur dan dinasihati?

Untuk mengetahui hal tersebut, mungkin ada baiknya kita belajar dan mengambil tauladan dari dua cucunda Nabi.

***

Syahdan, Sayidina Hasan dan Sayidina Husein suatu ketika melihat seseorang sedang berwudhu. Sayangnya, cara wudhu orang tersebut tidak sempurna, dalam artian tidak sesuai dengan tuntunan agama sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Kedua cucu baginda Nabi yang tengah beranjak remaja itu pun berpikir, bagaimana cara terbaik mengoreksi kesalahan orang tersebut secara arif dan bijaksana. Hal itu dipandang perlu dilakukan, karena kedua putra Sayidina Ali itu sama sekali tak ingin menyinggung perasaan orang yang lebih tua dan berharap pesan nasihatnya dapat diterima dengan lapang dada oleh orang tersebut.

Setelah berunding sejenak, maka salah seorang dari keduanya akhirnya berkata, ”Wahai Paman, saya dan saudara saya beda pendapat mengenai siapa di antara kami yang paling benar dan bagus cara wudhunya. Karenanya, kami minta tolong Paman untuk menilai kami, siapa yang terbaik wudhunya, ya?”

Setelah si Paman setuju dengan usulan itu, maka Hasan dan Husein pun lantas berwudhu, sementara orang tersebut memperhatikan dengan saksama satu persatu tata-cara wudhu kedua cucu Nabi itu, disertai rasa kagum dalam hati. Saat itulah dia baru sadar dan merasa sangat beruntung karena telah mendapatkan pelajaran terbaik tentang praktik tata-cara berwudhu dari kedua anak itu. Pelan-pelan kesadarannya tumbuh, bahwa selama ini dirinyaa telah melakukan kesalahan.

Setelah Hasan dan Husein merampungkan “lomba berwudhu”, keduanya minta kepada si Paman agar segera menentukan pemenangnya.

Alih-alih memilih salah satu dari mereka, orang itu justru berkata, ”Wudhu kalian berdua sangat istimewa. Jadi, Paman putuskan tidak ada pemenangnya,” kata orang itu sembari tersenyum seolah mengucapkan terima kasih tak terhingga.

Dari kisah tauladan kedua cucu Nabi, yang mendapatkan gelar istimewa sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah, “Innal Hasana wal Husein Sayyida syababi Ahlil Jannah; Sungguh Hasan dan Husein adalah dua pemuka pemuda surga” itulah kita dapat memetik hikmah dan pelajaran berharga, tentang bagaimana akhlak dan etika saling nasihat-menasihati yang seyogianya dipraktikkan kaum Muslim yang beriman demi menjaga perasaan sesamanya.

Berhubung perkara nasihat-menasihati itu merupakan prinsip esensial dalam agama, maka tugas kita bersama untuk menjaga agar prinsip ini tak semakin luntur digerus zaman. Dengan cara yang santun dan lebih beretika itulah kita berharap akan membuat banyak orang tidak lagi merasa “berat” untuk menasihati orang lain dan banyak pula orang yang tak merasa “berat” untuk menerima nasihat orang lain.

Prinsipnya, dibutuhkan kiat yang tepat untuk menyampaikan nasihat, dan tidak harus selalu diungkapkan secara tersurat, seperti yang dilakukan dua pemuka pemuda surga tadi. Bentuknya bisa saja tidak terkesan menasihati walaupun secara tersirat kandungannya adalah nasihat.

Semoga dengan mempublikasikan tulisan ini, penulis sendiri tidak termasuk dalam kategori contoh buruk dalam menyampaikan kisah dan ibarat. Jika tidak, semoga Pak Haji Nusron dan Ustadz Yusuf Mansur khususnya, sudi kiranya membuka pintu maaf, agar Allah SWT berkenan memberikan pengampunan-Nya kepada kita semua.

Bukankah dalam pandangan Islam, meminta maaf adalah perbuatan terpuji, sebagaimana memberi maaf pun merupakan ajaran Islam yang sangat mulia?

Bukankah sikap murah hati semacam itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT pahala kebaikan berlimpah, baik di dunia maupun di akhirat?

[Baca: Kang Said: Ahok Salah dan Sudah Minta Maaf, Sebaiknya Ya Kita Maafkan]

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *