Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 08 May 2016

CERPEN – Nabi Tidak Menanamkan Kesadaran Menyembah Tuhan


images

IslamIndonesia.idNabi Tidak Menanamkan Kesadaran Menyembah Tuhan

 

Sambil menanti Anton datang, Joko menikmati buku yang bergambar wajah Nietzsche di sudut kantin kampus. Tidak lama kemudian mahasiswa Fisip yang lebih senior dari Joko itu tiba. Seperti hari-hari sebelumnya, kedua mahasiswa ini kerap duduk berjam-jam di kantin hanya untuk berdiskusi soal agama hingga persoalan bangsa.

“Tadi malam saya menyelesaikan buku yang bung Anton pinjamkan. Menarik. Cuman sejumlah pertanyaan muncul di kepalaku?” kata Joko sambil memesan secangkir kopi untuk kakak kelasnya itu.

“Sepertinya itu pertanda yang baik Jo. Kalau ngga salah, sebuah hadist mengatakan, pertanyaan itu separuh dari jawaban,” kata Anton sambil memperbaiki posisi duduknya.

Meskipun sedang menyelasaikan program studinya dalam bidang sosial-politik, sejak kecil Anton tumbuh di lingkungan pesantren. Dibanding teman-temannya yang lain, Anton lebih banyak memahami sejumlah persoalan dan  dialektika pemikiran dalam Islam. Itulah mengapa Joko senang mengajak Anton berdiskusi prihal agama, selain keduanya merupakan aktivis di organisasi mahasiswa yang sama.

“Begini bung. Saya masih bertanya-tanya, mengapa Tuhan memerintahkan makhluk-Nya untuk beribadah? Apakah perintah itu berarti pertanda adanya tujuan? Jika ya, bukankah dengan tujuan itu Tuhan ingin mencapai sesuatu yang belum ia capai alias Dia membutuhkan sesuatu?,” kata Joko menumpahkan sejumlah pertanyaan dari benaknya tanpa diminta.

Sambil mengaduk-aduk kopinya yang masih panas, Anton mengatakan, “sebagaimana diskusi kita sebelumnya, jelas Tuhan Maha Sempurna. Jika Dia butuh sesuatu di luar diri-Nya berarti sejatinya Tuhan tidaklah sempurna.”

Setelah mencicipi sedikit kopinya, mahasiswa asal Kalimantan itu mengutip ayat ketujuh dari surah Az Zumar dengan bahasa Al-Qur’an yang fasih, “jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan iman-mu …”

“Nah, jangankan ibadah. Iman kita saja tidak dibutuhkan Tuhan,” katanya menjelaskan makna di balik ayat itu.

“Lalu, mengapa Tuhan perintah makhluk-Nya untuk ibadah?” tanya Joko

“Sebagai makhluk, tanpa diperintah-pun sebenarnya kita ini, mau tidak mau, harus beribadah dalam arti menyembah kepada Yang Maha Agung.”

“Maksudnya?”

“Di dalam diri setiap makhluk, khususnya manusia, memiliki akar-akar yang menjadikan dirinya sendiri sebagai hamba. Adanya perintah dari Tuhan atau tidak, akar-akar penghambaan ini inheren pada diri kita.”

“Saya belum terlalu paham, bisa diberi contoh Bung?”

“Contohnya setiap dari kita ini ketika berhadapan dengan orang atau tokoh yang kita anggap penting, akan timbul dalam diri perasaan untuk menghormati atau memuliakan orang itu. Jika kepada mereka saja kita mengharuskan diri kita hormat, bagaimana di hadapan Yang Memiliki Segala Keagungan, Keindahan dan Kesempurnaan?”

Joko masih diam seribu bahasa. Entah apa yang ada di pikirannya. Anton pun membiarkan mahasiswa asal Boyolali mencerna apa yang dia dengar. Setelah menyantap sepotong pisang goreng yang masih hangat, Anton melanjutkan, “ingat ngga waktu kamu belum dapat kiriman uang dari rumah padahal esok hari SPP harus dilunasi? Kamu minta pinjaman ke saya, saya pun lagi ngga ada duit…”

“Ya, ingat bung,” jawab Joko sambil tertawa mengenang hari yang cukup menegangkan itu.

“Nah, setelah itu kita hubungi bung Aryo untuk pinjam duit dan alhamdulillah ia menyanggupi. Tapi, waktu itu bung Aryo minta ke kita untuk datang ke rumahnya di atas jam 11 malam. Sampai di sana, kita dapat khutbah malam berjam-jam dulu sebelum dikasih duit,” kisah Anton yang lagi-lagi membuat Joko tertawa lepas.

Setelah Joko kembali konsentrasi, Anton menjelaskan, “jika melihat kondisi waktu itu, kita mengharuskan diri ini patuh pada permintaan bung Aryo. Bahkan ketika kita diminta untuk datang sebelum subuh pun, kita akan patuh. Apalagi pada malam itu tidak ada lagi yang kita kenal bisa memberi pinjaman sebanyak itu.”

Belum juga Joko berkomentar, Anton kembali berbicara, “naluri manusia begitu Jo. Ia cenderung tunduk pada sesuatu yang ia butuhkan atau perlukan. Sebelumnya kita pernah diskusi tentang hubungan makhluk dan Pencipta, bahwa kita adalah makhluk yang maha miskin dan maha membutuhkan. Sedangkan Dia Yang Maha-memiliki segalanya.”

Anton lalu memberi ilustrasi berupa kisah tentang penumpang kapal laut. Ketika ombak besar dan badai menghantam, kapal yang sedang membawa ratusan penumpang itu pun terombang-ambing. Hujan lebat semakin membuat seluruh penumpang yang sedang berada di tengah lautan ketakutan. Di luar sana hanya ada hamparan laut yang bertepikan langit yang gelap.

Karena tidak ada lagi yang dapat menolong mereka, termasuk anak buah kapal sendiri, masing-masing dari mereka meminta tolong pada Tuhan secara spontan. Tanpa diminta dan tanpa melakukan kesepakatan, masing-masing dari mereka memohon, memelas, berdoa, mengakui kedurhakaan mereka selama ini, dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Zat yang mereka yakini Maha Kuasa.

“Ketergantungan kita sebagai makhluk yang lemah dan fakir kepada Yang Maha Kuasa adalah salah satu akar-akar  mengapa manusia menyembah Tuhan.”

“Lalu mengapa harus diperintahkan jika memang demikian adanya bung?” Joko buru-buru memotong Anton.

“Kalau menurut saya nih Jo, ruh penyembahan memang sudah ada secara fitri atau alami di dalam diri manusia. Namun pertanyaan berikutnya, apakah setiap manusia itu menyembah Yang Seharusnya disembah?”

“Faktanya tidak,” jawab Jo singkat.

“Pertanyaan berikutnya lagi, jika seseorang paham “siapa” yang seharusnya disembah, apakah setiap dari mereka tahu bagaimana penyembahan yang benar itu? Jangan-jangan maksud kita berterimakasih pada orang lain tapi ternyata prilaku kita menghina dia.”

Diskusi pun kembali mengalir hingga kantin kampus mulai sepi dan kedua cangkir mereka tinggal menyisakan ampas.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut!” kata Anton mengutip surah An Nahl ayat 36 setelah menjelaskan salah satu alasan mengapa para Rasul diutus.

Adakalanya, lanjut Anton, manusia tergelincir dalam mengarahkan fitrah penyembahannya. Mereka kemudian terseret menyembah duit, properti, wanita, jabatan, popularitas dan segala sesuatu yang sebenarnya fana dan nisbi. Tak lupa Anton menyinggung sedikit kapitalisme berkedok agama.

“Para Nabi tidak diutus untuk menanamkan kesadaran menyembah. Namun mereka diutus untuk mengarahkan naluri alamiah itu ke jalan yang benar…”

Setelah sedikit diskusi soal konsep kenabian, mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan diskusi lain waktu. Sebelum pulang ke kost masing-masing, Anton tak lupa mengutip perkataan khalifah keempat Ali bin Abi Thalib.

“Allah mengutus Muhammad dengan kebenaran agar meluruskan hamba-hambaNya dari menyembah berhala kepada menyembah Allah.” katanya membuat Joko mengambil pena dan menulis sejenak di catatan hariannya.

Sampai sore itu Joko menangkap bahwa perintah peyembahan bukan lagi berkaitan dengan kesadaran penyembahan, tapi pada arah penyembahan. Apakah kita telah menyembah Sesuatu yang seharusnya disembah dan apakah kita sebenarnya telah menjelmakan kesadaran penyembahan kita dengan benar.

Belum puas dengan diskusi sore itu, deretan pertanyaan kembali menghampiri Joko namun waktu kembali memisahkan mereka sejenak. Matahari terlihat telah tenggelam di ufuk barat, meski demikian akar-akar penyembahan tak akan tenggelam begitu saja. []

 

YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *