Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 03 September 2016

KAJIAN–Bolehkah Jama’ah Haji Berseru “Ya Muhammad” Saat Berziarah? (Bagian 2-Tamat)


kajian ziarah nabi muhammad

Islamindonesia.id – KAJIAN–Bolehkah Jama’ah Haji Berseru “Ya Muhammad” Saat Berziarah? (Bagian 2-Tamat)

Musim haji telah tiba. Umat Islam dari berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia bersiap menunaikan ritual agung.

Di antara ibadah ruhani yang digandrungi umat Islam Indonesia adalah berziarah ke makam Kanjeng Nabi Muhammad Saw di Madinah. Inilah momen perjumpaan umat Islam dengan Nabi mereka.

Meski demikian ada saja yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah mati tidak dapat mendengar peziarah. Lebih dari itu, ulama mazhab resmi kerajaan Saudi menyatakan berdoa di makam Nabi sebagai perbuatan syirik dan kufur. Benarkah demikian? Bagaimana sesungguhnya kedudukan berziarah di dalam Islam?

Pada kajian sebelumnya telah disebutkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang memastikan bahwa orang-orang yang wafat dapat mendengar orang-orang yang menziarahinya.

Kajian ini mengetengahkan hadis lain dan pendapat ulama klasik yang menguatkan kajian sebelumnya. Di antaranya adalah riwayat yang disampaikan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, penjelasan dari Imam Nawawi, Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah dan Syekh Al-Albani.

1. Bahwa sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash berpesan menjelang ajalnya tiba, “Jika kalian menguburku, maka taburkanlah tanah lalu berdirilah kalian di sekitar kuburanku seukuran kalian menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikan dagingnya. Sehingga aku akan merasa senang kepada kalian dan akan melihat kebenaran pada utusan Tuhanku.” (Shahih Muslim, hadis 121)

shahih-muslim-hadis-121

2. Imam Nawawi dalam menjelaskan riwayat di atas berpendapat, “Dari keterangan matan di atas dipahami bahwa mayat mendengar orang-orang di sekitar kubur.” (Syarh Shahih Muslim oleh Imam An-Nawawi, juz 1, h. 305)

3. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya, Ar-Ruh, secara panjang lebar menjelaskan hadis-hadis yang telah disebutkan pada kajian sebelumnya. Selain itu, Ibnu Al-Qayyim juga menyebutkan hadis-hadis lainnya. Di antaranya adalah hadis tentang sunnah Rasulullah Saw untuk mengucapkan salam kepada ahli kubur, “Salam atas kalian penduduk kaum beriman.” (Shahih Muslim, hadis 249 dari Abu Hurairah r.a)

Setelah itu, Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah memberikan keterangan tentang hadis mengucapkan salam kepada ahli kubur, “Percakapan ini adalah bagi yang mendengar dan berakal. Para salaf bersepakat tentang hal ini. Hadis-hadis dari para salaf bersifat mutawatir bahwa mayat mengenal orang-orang hidup yang menziarahinya dan bahagia karena kehadiran mereka.” (Kitab Ar-Ruh, h. 8)

“Mustahil ada salam bagi orang-orang yang tidak mengindra dan tidak mengetahui orang yang mengucapkan salam.” (Kitab Ar-Ruh, h. 16)

Nabi Saw telah mengajarkan umatnya agar mengucapkan salam ketika berziarah kubur, “Salam atas kalian penduduk kubur, mukminin dan mukminat. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon kebaikan bagi kami dan kalian.” (Shahih Muslim, hadis 975, dari Siti Aisyah r.a.)

Setelah mengutip hadis di atas, ulama yang dikagumi kelompok salafi ini menyatakan, “Salam ini merupakan seruan bagi orang yang hadir, mendengar, bercakap-cakap, berfikir, dan membalas (salam), sekalipun orang yang memberikan salam tidak mendengar jawaban (dari mayat). Dan apabila seseorang shalat/berdoa di dekat mereka, maka mereka menyaksikannya, mereka mengetahui doa-doanya dan mereka terhibur dengan semua itu.” (Kitab Ar-Ruh, h. 17)

Sebagai penutup, adalah hadis yang dibawakan oleh Syekh Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Al-Shahihah (Serial Hadis-hadis Shahih). Al-Albani memasukkan hadis dari Musnad Abu Ya’la ini sebagai hadis shahih dalam kitabnya tersebut.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Demi Yang jiwa Abul Qasim di Tangan-Nya, Isa putra Maryam pasti turun sebagai Imam yang adil dan hakim yang bijak. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, memediasi perselisihan, melenyapkan permusuhan. Jika ditawarkan harta kepadanya, dia tidak menerimanya. Kemudian jika dia berdiri di atas kuburanku, dia akan berkata: “Ya Muhammad,” niscaya aku menjawabnya.” (Silsilah Al-Ahadits Al-Shahihah, juz 6, h. 524, hadis 2733)

Dari penjelasan di atas, kiranya cukup sebagai bekal para jama’ah haji dari Indonesia agar tidak sungkan untuk menyeru “Ya Muhammad”, “Ya Rasulallah” atau panggilan rindu lainnya saat berziarah ke makam Kanjeng Nabi Muhammad Saw di Madinah. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *