Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 02 June 2016

KAJIAN–Metode Al-Qur’an dalam Menyikapi Perbedaan (2)


kajian metode al-qur'an dalam menyikapi perbedaan

Islamindonesia.id–Metode Al-Qur’an dalam Menyikapi Perbedaan (2)

Berikut adalah bagian kedua dari dua tulisan seputar metode Al-Qur’an dalam menyikapi perbedaan. Dalam bagian sebelumnya, kita telah membahas fakta bahwa Allah memang melestarikan perbedaan dan perselisihan untuk berbagai hikmah. Di antara hikmahnya ialah agar manusia belajar dan menerapkan cara-cara yang tepat dalam menyelesaikan berbagai masalah yang muncul akibat perbedaan dan perselisihan tersebut. Bagian kedua ini akan menjelaskan beberapa metode yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an untuk menyikapi dan menyelesaikan perselisihan.

 

Metode Pertama

Al-Qur’an memberikan contoh kepada Rasulullah Saw,

kajian metode dakwah al-quran dalam menyikapi perbedaan

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah!” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (QS. Saba’ [34]: 24)

Bahkan kepada Rasulullah Saw saja, Allah sama sekali tidak memerintahkan untuk memberi cap kepada orang-orang musyrik bahwa mereka dalam kesesatan. Namun, Allah memerintahkan Rasulullah Saw untuk mengatakan kepada mereka dua pilihan di antara dirinya dan oran-orang musyrik; berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata.

Dengan logika Al-Qur’an ini, maka pada saat terjadi dialog meskipun kita menganggap diri kita dalam posisi benar, maka kita harus menganggap pihak lain memiliki kemungkinan berada dalam kebenaran juga.

Kita tidak diajarkan memvonis orang lain sebagai sesat, penghuni neraka dan tidak benar. Kemudian Allah mencela logika yang digunakan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Allah Swt berfirman,

kajian metode dakwah al-quran dalam menyikapi perbedaan

Dan orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai pegangan,’ padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak mengetahui. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang hal-hal yang mereka perselisihkan. (QS. Al-Baqarah [2]: 113)

Al-Qur’an mengabarkan kepada kita bahwa umat Yahudi berselisih pendapat dengan Nasrani, padahal sama-sama membaca Kitab Suci. Sementara kita di kalangan kita sendiri juga melakukan hal yang demikian. Seolah-olah kebenaran hanya ada di pihak kita dan menafikan kebenaran di pihak lain.

Hal ini terjadi di kalangan santri di pondok yang sama. Atau juga di antara kiai di sebuah yayasan yang sama. Lebih luas lagi adalah yang terjadi di antara santri pondok yang berbeda. Lalu di antara mazhab yang berbeda di kalangan umat Islam, dan seterusnya.

Selain itu, ayat tersebut juga mengajarkan kepada kita bahwa di antara sesama pelajar bahkan ulama tidak boleh menyesatkan satu sama lain. Ayat di atas bukan hanya menggambarkan perihal umat Yahudi dan Nasrani atau di antara ulama Yahudi dan Nasrani. Namun juga memberikan peringatan kepada umat Islam bahkan seluruh umat manusia.

Demikian pula yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak mengetahui. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang hal-hal yang mereka perselisihkan. (QS. Al-Baqarah [2]: 113)

Al-Qur’an menggambarkan bahwa sikap mengolok-olok, meremehkan dan menyesatkan orang lain adalah karakter orang-orang yang tidak berilmu (لا يعلمون).

Jika para ulama Islam kembali kepada logika Al-Qur’an di atas, tentu semua akan saling menerima pendapat satu sama lainnya. Satu pihak akan menganggap dirinya telah mencapai kebenaran A dan pihak lain telah mencapai kebenaran B, dan demikian sebaliknya dan seterusnya. Lebih dari itu, masing-masing akan menganggap pihak lain bebas dengan kebenaran yang telah dicapainya.

Karena itulah Allah menutup ayat tersebut, “Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang hal-hal yang mereka perselisihkan.”

Jika ada yang mengatakan bahwa ayat tersebut sebatas memberikan contoh tentang umat Yahudi dan Nasrani, maka bukankah Nabi Muhammad dengan Al-Qur’an diturunkan untuk manusia secara umum?

Allah Swt berfirman,

kajian metode dakwah al-quran dalam menyikapi perbedaan

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

Bahkan Rasulullah Saw diperintahkan untuk berdoa,

kajian metode dakwah dalam menyikapi perbedaan

dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’ (QS. Thaha [20]: 114)

 

Metode Kedua

Allah Swt berfirman,

kajian metode dakwah al-quran dalam menyikapi perbedaan

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Nahl [16]: 125)

 

Metode dakwah yang ditekankan oleh Al-Qur’an hanyalah tiga macam,

? Hikmah.

? Nasihat yang baik.

Makna ayat di atas menyiratkan adanya nasihat yang tidak baik. Dengan demikian, metode Al-Qur’an menekankan pilihan nasihat yang baik dan bukan sembarang nasihat.

? Perdebatan yang terbaik.

Dari penggalan ayat ini dapat disimpulkan bahwa perdebatan terbagi atas tiga macam: yang buruk, yang baik dan yang terbaik.

Al-Qur’an menjelaskan fakta adanya perselisihan, namun juga memberikan tiga metode bagi yang berselisih sebagaimana yang dijelaskan di atas. Lebih dari itu, Al-Qur’an menjelaskan bahwa penggunaan metode sebagaimana yang dimaksud justru dapat menjadikan musuh layaknya teman yang setia. Metode Al-Qur’an itu sebenarnya dapat dijadikan sebagai asas bagi resolusi konflik (conflict resolution).

Pada ayat berikut ini, Allah menerangkan suatu cara yang manusiawi dan beradab dalam menghadapi perbedaan pendapat dan perselisihan yang berpusat pada kata kunci “tolaklah (kejahatan, permusuhan dan kebencian) dengan sesuatu yang paling baik”. Allah berfirman,

kajian metode dakwah al-quran dalam menyikapi perbedaan

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fusshilat [41]: 34)

Metode dakwah yang digambarkan dalam ayat di atas memang sulit. Menjadikan musuh seolah seperti kawan dekat tentunya tidak mudah dan karenanya memerlukan kesabaran sebagaimana firman Allah pada ayat berikutnya,

kajian metode dakwah al-quran dalam menyikapi perbedaan

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS. Fusshilat [41]: 35)

Sebagai penutup adalah ayat Al-Qur’an yang menggambarkan dialog antara penghuni neraka akibat di dunia suka menyesatkan orang lain. Allah Swt berfirman,

kajian metode al-quran dalam menyikapi perbedaan

Allah berfirman, “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raf [7]: 38)

 

Kesimpulan

Pertama, Al-Qur’an mengajak kepada umat yang satu di tengah fakta adanya perbedaan pendapat dan perselisihan.

Kedua, Al-Qur’an menerangkan metode mengelola perbedaan pendapat dan perselisihan di antara manusia, yaitu dengan hikmah, nasihat yang baik dan perdebatan yang terbaik.

Ketiga, memberikan dua pilihan, dengan metode ahli surgawi ataukah metode ahli neraka sebagaimana disebutkan pada Al-A’raf ayat 38.

 

Tom&AJ/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *