Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 22 November 2016

KAJIAN — Mengapa Nabi Tak Menyuruh Bunuh Para Musuhnya?  


opini-mengapa-nabi-tak-menyuruh-bunuh-para-musuhnya

islamindonesia.id — Mengapa Nabi Tak Menyuruh Bunuh Para Musuhnya?

 

Beberapa bulan terakhir, terutama sejak mencuatnya kasus Ahok yang diduga telah menista agama dan Al-Qur’an, hampir seluruh media mainstream dan media sosial kerap dipenuhi perdebatan tentang bagaimana sikap Islam yang sebenarnya terhadap para penista agama dan Al-Qur’an. Tak hanya diramaikan “perang” antar tokoh intelektual dan ulama, bara perseteruan pandangan itu pun tampaknya potensial merembet ke kalangan awam dan tak mustahil makin menyulut api perpecahan di akar rumput. Terlebih setelah adanya pernyataan salah seorang petinggi MUI, yang di depan publik menyatakan bahwa si pelaku penistaan agama dan Al-Qur’an layak dihukum bunuh dan semacamnya.

Mengapa hal ini terjadi? Mungkin, setidaknya karena sebagian dari para “petarung” argumen dan justifikasi itu belum punya banyak waktu luang untuk terlebih dahulu bertanya-tanya dan menelusuri referensi tentang bagaimana sikap dan keputusan Nabi saw terkait hal yang diperdebatkan itu? Jika dalam hal lain, mereka terbiasa mengatakan untuk mengambil suri tauladan dari Nabi saw, mencontoh dan mengikuti jejak atau sunnah beliau, lalu mengapa dalam hal penyikapan terhadap penista agama dan Al-Qur’an ini seolah ada pengecualian perlakuan?

Senyampang ada waktu luang, mungkin ada baiknya kita lakukan bersama sedikit penelusuran, diawali dengan beberapa pertanyaan.

Pernahkah Anda mendengar nama Abu Jahal dan Abu Lahab? Bukankah keduanya adalah dua tokoh kafir Quraisy yang paling anti terhadap Nabi Muhammad saw sekaligus Al-Qur’an?

Pernahkah kita mendengar Nabi menyuruh membunuh kedua musuh bebuyutannya itu?

Keduanya dibiarkan hidup sampai akhirnya mereka datang dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan memerangi Nabi saw dan kemudian tewas dalam peperangan itu.

Abu Sufyan, yang setiap tarikan nafasnya membenci Nabi Muhammad saw dan Al-Qur’an, pernahkah Nabi saw memerintahkan untuk membunuhnya? Alih-alih keluar perintah membunuh, saat Fathul Makkah (pembebasan kota Mekkah), oleh Nabi, yang bersangkutan justru dimaafkan. Bahkan siapa saja yang masuk ke rumah Abu Sufyan dari orang-orang kafir yang memusuhi Islam pun turut dimaafkan.

Musailamah Al-Kadzab yang mengaku dirinya nabi dan menggubah syair dan prosa untuk menyaingi Al-Qur’an. Lagi-lagi Nabi saw tidak pernah memerintahkan agar orang yang boleh dikata sudah sangat keterlaluan ini untuk dibunuh. Sebaliknya, Musailamah dibiarkan hidup sampai Nabi saw sendiri wafat. Sampai ketika pada zaman Abu Bakar dia membunuh dua orang Islam karena tidak mau mencela Al-Qur’an dan memuji alqur’an palsu yang dia buat, baru pada saat itulah Abu bakar membunuhnya karena dia telah membunuh dua orang Islam.

Mungkin sebagian besar dari kita sudah seringkali mendengar kisah tentang siapa sosok Abu Jahal dan Abu Lahab. Tapi, siapakah sebenarnya Musailamah Al-Kadzab?

Dialah Musailamah bin Habib berasal dari suku Bani Hanifah, yang dengan terang-terangan di hadapan Nabi saw mengaku dirinya sebagai Nabi. Dia menemui Nabi Muhammad saw di Madinah. Pada perjalanannya menuju Madinah Musailamah berangkat bersama-sama tokoh dari sukunya. Tujuan awal keberangkatan ke Madinah adalah untuk masuk Islam.

Entah kenapa, keinginan untuk dianggap Nabi ini muncul ketika dalam perjalanan pulang dari Madinah. Saat dilihatnya bahwa Bani Hanifah terhitung sebagai kelompok yang besar dibanding golongan-golongan yang lain. Maka Musailamah pun pada suatu saat mengatakan kepada Bani Hanifah, “Aku ingin tahu kenapa orang Quraisy lebih dianggap pantas dibandingkan kalian untuk menjadi khalifah dan imam?” Dengan cara itulah Musailamah berserapah, sekadar ingin menyadarkan orang-orang bahwa jumlah Bani Quraisy tidak lebih banyak dari Bani Hanifah. Terlebih lagi, Bani Hanifah memiliki banyak daerah, wilayah, dan asset. Bahkan terkenal dengan keberaniannya yang tinggi.

Tanpa pikir panjang, Musailamah pun akhirnya mengaku dirinya seorang Nabi. Pada suatu kesempatan Musailamah mengirimkan surat kepada Nabi Muhammad saw, “Aku kini mitramu dalam kenabian, separuh daerah milik kami, sedangkan separuh lagi milik Quraisy. Orang Quraisy adalah orang yang cenderung membawa madharat bagi orang lain,” katanya kepada Nabi.

Nabi saw pun kemudian menjawab surat dari Musailamah. Surat dari Nabi berbunyi. “Bumi ini milik-Nya, dan kenabian adalah milik orang-orang yang saleh.”

Surat-menyurat antara Nabi dan Musailamah itu berlangsung pada tahun ke 10 Hijrah. Setelah Rasulullah wafat, Musailamah pun merasa mendapat peluang besar untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya. Dia pun semakin gencar menyerukan kepada orang-orang bahwa dirinya adalah seorang Nabi. Orang-orang ditarik untuk menjadi pengikutnya.

Kegiatan pemurtadan yang dilakukan Musailamah semakin menjadi-jadi. Salah satu caranya, Musailamah menggubah prosa berirama hasil karangannya untuk meniru Al-Qur’an. Lalu dibacakannya di hadapan para pengikutnya. Begitulah caranya meniru Al-Qur’an yang diterapkannya pada prosa untuk memikat pengikutnya.

Namun alih-alih mendapatkan banyak pengikut, akibat kebohongan yang banyak dilakukannya,  Musailamah justru mendapat sebutan Al-Kadzab yang artinya pembohong. Musailamah Al-Kadzab artinya Musailamah si tukang bohong. Kebohongannya pada akhirnya menjadikan dirinya sebagai orang yang sesat dan tidak dipercaya.

Kesesatan Musailamah semakin menjadi-jadi. Kepada orang-orang Musailamah menyatakan telah membebaskan mereka dari kewajiban shalat Subuh dan shalat Magrib. Musailamah betul-betul mengingkari bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir.

Pada suatu saat, Sajah, anak perempuan Harits Tamim juga mengaku Nabi. Setelah bertemu Musailamah, Sajah menikah dengan Musailamah. Dalam pernikahan tersebut mahar yang diberikan berupa membebaskan orang dari kewajiban shalat Subuh dan shalat Magrib. Hal ini betul-betul sebuah kesesatan. Musailamah berkata, “Untuk mahar Anda, maka aku bebaskan bangsa Anda dari kewajiban shalat Subuh dan shalat Magrib.”

Pada pertemuan dengan Musailamah, Sajah berkata bahwa “Aku telah mendengar sifat-sifat terpuji Anda.”

Sajah mengatakan bahwa kedatangannya kepada Musailamah untuk menjadi istri dan sama-sama bisa menjadi Nabi. Sajah bertekad membuat dunia taat kepadanya dan Musailamah.

Ketika perjalanan kaum Muslimin ke Yamamah di bawah komando Khalid bin Walid mereka bertemu sebagian pengikut Musailamah. Kepada pengikut Musailamah ditanyakan tentang agama mereka. Mereka mengatakan, “Kami punya Nabi sendiri, kalian punya Nabi sendiri.”

Sampai disini, coba kita renungkan sejenak. Adakah penghinaan yang lebih keterlaluan dari apa yang dilakukan Musailamah dan istrinya? Bukankah itu semua merupakan tindakan penistaan yang sangat nyata terhadap Nabi dan Kitab Suci Al-Qur’an?

Tapi, sekali lagi, apakah Nabi kemudian menyuruh agar Musailamah dan istrinya dibunuh?

Jika dari setumpuk bukti di atas sudah sangat tampak jelas bagi kita bahwa, bahkan Rasul yang diutus Allah SWT untuk membawa risalah Islam saja sebegitu pengasih dan penyayangnya bahkan kepada para musuh atau orang-orang yang sudah jelas-jelas memusuhinya, menista agama dan Al-Qur’an. Tidakkah cukup semua itu menjadi bukti bahwa Islam ini adalah agama cinta damai, agama pemaaf, yang lebih mendahulukan kasih-sayang dan benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam?

Maka siapa yang merasa dirinya lebih berhak dan lebih patut mengambil sikap paling tepat daripada Nabi ketika memperlakukan sesama manusia, tak terkecuali para musuhnya?

Dengan alasan apa mereka merasa lebih pantas menjadikan agama kasih-sayang ini justru berubah garang, menyulut dan menyebar api kebencian serta gelombang permusuhan?

Mungkin ada benarnya ketika orang bijak berkata, “Jika yang kau anggap sebagai agama dan kau yakini itu sebagai kebenaran, lalu agama itu justru menyuruhmu melakukan tindakan kejahatan, menyebar kebencian, permusuhan dan ketidakadilan, maka saatnya bagimu mulai berpikir dan segera memutuskan untuk mencari dan menemukan agama baru yang benar-benar agama dan kebenaran.”

 

EH / Islam Indonesia

0 responses to “KAJIAN — Mengapa Nabi Tak Menyuruh Bunuh Para Musuhnya?  ”

  1. Denny Basuki says:

    Kalimat pada paragraf penutup sangat pas..

  2. fajri says:

    jaka sembung..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *