Satu Islam Untuk Semua

Monday, 19 September 2016

KAJIAN—Hakikat Dunia (Bagian 2-Selesai)


bodily-functions-that-continue-after-death

Islamindonesia.id— KAJIAN — Hakikat Dunia (Bagian 2-Selesai)

 

Akar-akar Persoalan

Pada hakikatnya, keberatan-keberatan orang terhadap kematian timbul dari minimnya pengetahuan tentang manusia dan alam. Dengan kata lain, keberatan-keberatan tersebut didasarkan pada pandangan-dunia yang sempit dan tidak kukuh.

[Baca: KAJIAN – Hakikat Dunia (Bagian 1)]

Memang, jika kematian betul-betul merupakan akhir kehidupan, maka hasrat akan keabadian dan cita-cita yang bergantung di sekitarnya akan menjadi siksaan dan nestapa bagi manusia. Kemudian, gambaran kematian yang tercermin dalam pikiran yang tercerahkan dan pandangan jauh manusia akan melahirkan ketercekaman yang tak bertepi.

Adanya orang-orang yang memandang kehidupan sebagai kesia-siaan berasal dari sikap mereka yang mengharapkan keabadian, tapi mereka memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin bisa direalisasikan. Kalaulah mereka tidak berharap untuk hidup abadi, niscaya mereka tidak akan memandang kehidupan ini sia-sia, apapun akhirnya, biarpun bakal berujung pada non-eksistensi mutlak.

Paling-paling, kehidupan akan mereka pandang sebagai kebahagiaan sesaat dan negeri yang terlalu cepat berlalu. Tetapi, semua itu tidak akan menyebabkan orang mengutamakan non-eksistensi atas eksistensi ini. Sebab, menurut asumsi ini, satu-satunya cacat eksistensi ini adalah kesementaraannya yang diikuti dengan non-eksistensi. Jadi, seluruh cacat itu muncul dari kesementaraan dan non-eksistensi. Lantas, bagaimana mungkin timbul anggapan bahwa kalau eksistensi sementara dan terbatas ini digantikan dengan non-eksistensi, maka keadaannya akan menjadi lebih baik?

Di sini hasrat dan harapan untuk hidup abadi itu sendiri harus dibahas sedikit mendalam. Harapan itu adalah hasil dari konseptualisasi mengenai keabadian. Yakni konseptualisasi mengenai kekekalan beserta segala keindahan dan daya tariknya. Daya tarik ini telah melahirkan desakan dalam diri kita untuk hidup abadi dan beroleh semua karunia kehidupan secara terus-menerus.

Jika serentetan gagasan materialis menyerbu pikiran kita dan menegaskan bahwa harapan seperti itu tidak ada gunanya sama sekali dan bahwasanya keabadian adalah pikiran dusta, maka mungkin kita akan terguncang, tersiksa dan selalu dihantui oleh kengerian. Dan pada gilirannya, kita akan berteriak, “Duhai, sekiranya aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini, niscaya aku tidak akan tersiksa dan tersia-siakan seperti ini.”

Jadi, ide tentang kesia-siaan eksistensi ini diakibatkan oleh kontradiksi antara naluri bawaan dan doktrin-doktrin (rancu) yang diterima oleh seseorang. Sekiranya naluri bawaan ini tidak ada di dalam diri kita, pasti ide tentang kesia-siaan eksistensi ini tidak pernah mengemuka. Begitu juga, sekiranya doktrin-doktrin materialistis yang rancu itu tidak tertanam dalam diri kita, niscaya ide seperti itu pun tidak akan pernah mengemuka.

Susunan inheren dan batin manusia telah diciptakan sedemikian sehingga dalam dirinya tertancap harapan untuk abadi sebagai saranan untuk meraih segenap kesempurnaan yang sanggup dicapainya. Kalau penciptaan dan kesiapan-kesiapan yang tersembunyi tersebut lebih besar dari kehidupan yang terbatas oleh hitungan hari di dunia ini, dan kalau kehidupan hanya terbatas pada kehidupan duniawi ini, maka semua kesanggupan untuk meraih puncak kesempurnaan itu akan menjadi sia-sia dan tidak berguna sama sekali.

Orang yang tidak memercayai kehidupan abadi akan menemukan adanya kontradiksi antara susunan eksistensi nya di satu sisi, dan semua pikiran dan kerinduannya di sisi lain. Manusia semacam ini akan berkata kepada dirinya, “Sesungguhnya akhir eksistensi ini adalah non-eksistensi, dan semua jalan berujung dengan kebinasaan. Karena itu, kehidupan adalah sia-sia dan tidak ada artinya sama sekali.”

Namun, secara eksistensial dan di dalam hatinya yang terdalam, dia pasti akan mengatakan, “Tiada non-eksistensi. Di depan pasti ada jalan yang tidak berujung. Sekiranya hidupku terbatas sampai di sini, niscaya aku tidak akan diciptakan untuk mendambakan keabadian dengan segala kesanggupan dan potensinya.”

Karena itu, Al-Quran, seperti telah saya kutipkan, membandingkan pikiran yang menafikan akhirat ini dengan kesia-siaan eksistensi sebagai berikut: Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada kami? (QS Al-Mu’minûn [23]: 115).

Sungguh, manusia yang memandang dunia ini sebagai “sekolah” dan tempat penempaan diri, dan beriman kepada tahap kehidupan selanjutnya, tidak mungkin berkeberatan dan berkata, “Sebaiknya kita tidak dilahirkan ke dunia sama sekali, atau, kalau sudah lahir, kita tidak boleh mati.”

Tidak akan ada seorang berakal pun yang berkata, “Sebaiknya jangan kirimkan anak ke sekolah sama sekali, atau kalau sudah mengirimkannya ke sekolah syaratnya dia harus selamanya tinggal di sana.”

Hikmah di balik kematian manusia adalah pembebasan ruh dari penjara alam fisik untuk pindah ke surga yang luas seluas petala-petala langit dan bumi, bertempat di sisi Raja Mahakuasa dan Rabb Mahaagung untuk menerima segala kesempurnaan berdekatan dengan-Nya.

[Baca: KAJIAN – Falsafah Kematian]

Itulah makna firman Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156). Maksudnya, kita—dengan segala perwujudan kita—bergantung kepada Allah, dan bahwasanya temapt kembali kita adalah di sisi-Nya. Muncul keberatan berikut: “Mengapa kita harus mati?”

Jawaban yang sangat indah atas pertanyaan ini dapat kita temukan pada salah satu anekdot dalam Matsrawi Mawlawi berikut ini: Musa berkata, “Tuhanku Yang Maha Menghisab! Sungguh telah Kau ciptakan, tapi kemudian ciptaan-mu itu Kau hancurkan. Telah Kau ciptakan makhluk-makhluk bernyawa, lelaki dan perempuan. Kemudian, Kau hancurkan mereka. Mengapa Kau lakukan semua itu?

Berfirmanlah Allah Yang Mahabenar, “Sesungguhnya Aku tahu bahwa pertanyaan-Mu tidak termasuk pengingkaran, kelalaian, dan hawa nafsu. Kalau tidak, sungguh akan Kucela dan Kudidik engkau serta Kutuangkan kepadamu siksa. Tetapi, engkau ingin mencari hikmah dan rahasia ketetapan dalam perbuatan-Ku. Dan semua itu dimaksudkan agar ia menjadi pijakan pendapat umum, dan agar semua akal yang kerdil menjadi dewasa.”

Allah berfirman: “Karena itu, wahai orang berakal, karena engkau bertanya, maka dengarlah jawaban-Ku. Hai Musa, taburkan benih di bumi sampai bisa kau atasi persoalan yang kau pertanyakan.”

Tatkala Musa telah menabur benih, dan benih itu pun tumbuh, kemudian tumbuh tinggi dan teratur, (Allah berfirman): “Peganglah sabit dan tuailah tanamanmu.”

Lalu terdengarlah seruan dari balik tabir kegaiban, “Mengapa kau tabur benih, kemudian kau urus, dan setelah sempurna kau menuainya?”

Musa menjawab, “Tuhanku, di sini ada biji gandum yang bercampur dengan jerami. Biji ini akan rusak bila disimipan di atas tumpukan jerami Begitu juga, jerami akan rusak di atas tumpukan biji,
Tidaklah bijak mencampur kedua jenis ini. Memisahkan keduanya adalah kebijakan yang harus dilakukan.”

Allah berfirman, “Dari mana kau pelajari ilmu ini? Dan dari mana kau dapat cahaya ini?”

Musa menjawab, “Sesungguhnya, Engkaulah wahai Tuhanku, yang telah memberiku.”

Allah menjawab, “Apakah, dengan begitu, kau ingkari perbedaan, hai Musa? Sesungguhnya pada makhluk-makhluk itu ada ruh-ruh yang bersih, dan ada juga ruh-ruh yang kotor. Dalam kemasan badan ini tidaklah semuanya bermartabat sama; pada sebagiannya ada mutiara, sebagian lain kulit biasa. Adalah wajib memilah yang baik dari yang jelek, seperti dipisahkannya gandum dari jerami.”

Kematian adalah Perluasan Kehidupan

Dalam diskusi ihwal fenomena kematian, salah satu pin yang harus digarisbawahi ialah bahwa fenomena “kematian dan kehidupan” sama-sama membentuk rangkaian sistem dalam penciptaan. Kita bisa menyaksikan bahwa kematian sebagian mempersiapkan kehidupan yang lain. Jasad-jasad yang mati tidaklah terbujur tanpa manfaat. Ia akan memunculkan tetumbuhan atau makhluk hidup yang baru.

Dari selubung yang terpecah itu keluar mutiara yang bersinar, kemudian dari benda dan materi yang sama tercipta selubung baru yang menumbuhkan mutiara yang lain lagi.

Pecahnya selubung dan keluarnya mutiara, terjadilah pengulangan tanpa henti, dan dengan cara ini pula pelimpahan rahmat kehidupan berlangsung sepanjang zaman. Sekiranya manusia yang hidup sebelum seribu tahun yang lalu tidak mati, niscaya benih kehidupan tidak akan sampai pada manusia yang hidup sekarang.

Demikian pula, sekiranya manusia yang hidup sekarang ini terus hidup, kemungkinan adanya manusia yang lain pada masa mendatang akan berkurang. Sekiranya bunga-bunga yang tumbuh sejak tahun lalu tidak layu sampai sekarng, niscaya bunga baru dan segar yang tumbuh di tahun ini tidak akan muncul.

Dengan demikian, suatu materi, dari segi ruang, menerima kehidupan pada kondisi yang terbatas. Sedangkan kondisionalitasnya, dari segi waktu, tidaklah terbatas. Kalau bunga tahun lalu tidak layu dan mati, maka untaian bunga segar tahun ini tak berpeluang untuk mekar.

Ranah material alam memiliki kapasitas yang terbatas dari sudut-pandang dimensi ruangnya, tapi ia memiliki keluasan dimensi waktu yang tiada habisnya. Menarik untuk dicatat bahwa sebagaimana materi alam raya ini terus merentang secara ruang dan waktu, tapi rentangan dimensi waktu dalam eksistensi ini jauh lebih besar daripada rentangan dimensi ruang.

Barangkali seseorang akan menyela dengan mengajukan keberatan berikut, “Kalau memang kekuasaan Allah itu tidak terbatas, sehingga faktor apakah yang menghalangi makhluk-makhluk yang ada sekarang itu untuk terus hidup, dan pada saat yang sama tetap tersedia ruang dan makanan bagi mereka yang akan datang?”

Penyela itu tidak mengetahui bahwa segala sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk mewujud, sudah Allah wujudkan dan sudah Allah ciptakan. Adapun yang tidak mewujud, maka hal itu tidak lain karena memang tidak ada kemungkinan baginya untuk mewujud.

Pengandaian adanya ruang-ruang dan lingkungan-lingkungan lain yang memadai—dengan asumsi adanya kemungkinan untuk itu—bagi pewujudan makhluk-makhluk lain, tidak menjawab keberatan yang mereka ajukan. Keberlangsungan maujud-maujud yang sekarang akan menutup pintu kemungkinan hadirnya makhluk-makhluk lain pada masa mendatang.

Hasil bersih kedua catatan itu ialah bahwa materi alam, melalui proses alami dan gerakan trans-substansialnya (harakah jawhariyyah), akan memunculkan mutiara-mutiara yang bercabang dari ruh-ruh yang imaterial. Ruh membebaskan diri dari materi dan pindah kepada kehidupan lebih sublim dan lebih kuat.

Adapun materi akan diisi oleh ruh lain untuk pematangan. Di dalam tatanan seperti ini, yang ada hanyalah penyempurnaan dan perluasan kehidupan. Dan perluasan dan perentangan ini terjadi melalui perpindahan, transmutasi dan transubstansiasi.

Keberatan terhadap kematian dengan mengumpamakannya bagai pemecahan piala oleh pembuatnya sendiri dan harapan agar Sumber wujud dan Pengatur alam bisa mengambil pelajaran berharga dari pembuat piala itu adalah pemikiran kekanak-kanakan yang tidak cocok untuk dikaji secara serius.

Pemikiran-pemikiran demikian hanya cocok untuk penyair yang mau bermain-main dengan nuansa dan merajut fantasi indah yang nilainya terbatas pada bidang kesusastraan semata-mata. Ada dugaan kuat bahwa maksud syair yang dinisbatkan kepada Khayyam ini adalah seperti itu, atau lahir dari pemikiran materialistis yang sempit dan dangkal.

Sedangkan dalam pandangan yang mengatakan, “Kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun dari tidur,” semua kemusykilan di atas dengan mudah akan teratasi. Orang seperti ini, bukan saja tidak takut pada kematian, melainkan—seperti Ali bin Abi Thalib—justru merindukannya, dan memandang kematian sebagai keberuntungan dan bahkan kemenangan.

Seorang teosof besar, Mir Damad, mengatakan: “Janganlah kau takut dari pahitnya kematian, karena kepahitannya terletak pada ketakutanmu padanya.”

Sedangkan Suhrawardi, teosof dari aliran iluminasionisme Islam, mengatakan: “Kita tidak akan menilai teosof (hakim) sebagai teosof sebelum ia, dengan kehendaknya sendiri, sanggup menanggalkan badan dari ruhnya.”

Bagi Suhrawardi, pengalaman keluar-dari-tubuh merupakan perkara gampang dan mudah, bahkan kebiasaannya. Pernyataan serupa juga dinukil dari Mir Damad, seorang filsuf dan pemikir Muslim terkenal. Itulah logika orang-orang yang mengetahui hakikat mutiara yang berada di kedalaman tubuh manusia. Sedangkan orang-orang yang hidup dengan wawasan pemikiran materialistis yang sempit dan dangkal, selalu gusar menghadapi kematian, karena dalam pandangan mereka kematian adalah ketiadaan.

Mereka begitu tersiksa oleh pertanyaan, mengapa tubuh ini—menurut keyakinan mereka tubuh adalah seluruh hakikat manusia—harus hancur, sehingga pikiran mengenai kematian telah mendorong mereka untuk memandang alam ini dengan pesimistis. Mereka harus meninjau kembali interpretasi mereka terhadap alam dan kehidupan, dan hendaknya mereka mengetahui bahwa kemusykilan-kemusykilan mereka itu diakibatkan oleh pandangan-dunia mereka yang keliru.

Demikianlah, penciptaan ini bagaikan suatu perdagangan. Alam ini adalah pasar untuk memproduksi, menjual dan membeli, mendapatkan keuntungan, serta mengulang siklus itu secara berkesinambungan. Kematian dan kehidupan adalah proses pertukaran yang bertujuan untuk menumbuhkan dan menyempurnakan perdagangan di pasar.

Orang yang menolak sistem “pertukaran” takwini ini berarti gagal memahami hukum dan tujuan alam. Salah seorang penyair mengatakan: Segala sesuatu yang kau lihat bersumber dari Allah. Jika ada yang hilang darimu, janganlah bersedih, karena Sumbernya tetap Abadi.[]

 

[Baca: KAJIAN – Kematian adalah Kesempurnaan]

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *