Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 01 May 2016

KAJIAN—Haidar Bagir: Tafsir Al-Qur’an Muhammad Asad (1)


tafsir_mohdasad-islamindonesia.id

Islamindonesia.id—Pertemuan Saya dengan Tafsir Al-Qur’an Muhammad Asad (1)

Oleh: Haidar Bagir

Tidak jarang orang atau media dengan gampang mengatributkan identitas “intelektual atau pemikir Islam”, atau bahkan “ahli filsafat dan tasawuf Islam”, kepada saya. Kalaupun ada yang benar—sesedikit apa pun—dalam atribusi itu, kali ini saya ingin memastikan kepada Anda bahwa penulis pengantar ini adalah seorang awam di bidang ilmu tafsir. Maka, komentar-komentar saya tentang The Message of the Quran harus dilihat sebagai komentar-komentar seorang Muslim yang bisa berpikir—sebutlah inteligen, kalau mau—terhadap karya Muhammad Asad ini. Bukan komentar seorang “intelektual atau pemikir Islam”, atau bahkan “ahli filsafat dan tasawuf Islam”. Lebih dari itu, posisi saya bukanlah pengamat atau pelajar di bidang tafsir, melainkan sebagai semata-mata seorang Muslim pengguna, yang memang sudah lama mendambakan adanya suatu karya tafsir Al-Quran yang ringkas—sehingga handy (praktis) dan dapat membantu kita memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja—tetapi, pada saat yang sama, dapat menyampaikan kepada kita makna Kitab Suci ini secara masuk akal (makes sense) serta relevan dengan konteks kekinian kita.

Inilah persis sebagian dari kelebihan-kelebihan The Message of the Quran di mata saya, dibanding buku-buku tafsir ekspansif terkemuka seperti Fî Dzilâl Al-Qur’ân, Nûr Al-Qur’ân, Al-Mîzân, Al-Mishbâh, dan sebagainya—betapapun kesemuanya memiliki beberapa sifat kelebihan The Message of the Quran dalam hal kualitas dan relevansinya. Baiklah, di bawah ini agak saya perinci.

Pertama, berbeda dengan banyak tafsir Al-Quran lainnya, tafsir ini ringkas, hampir-hampir seperti kumpulan catatan-catatan kaki yang diperluas sedemikian sehingga dapat diatur agar selalu muat dalam halaman yang sama dengan pemuatan lafaz asli ayat dalam bahasa Arab dan terjemahannya. Ringkasnya, tafsir ini memungkinkan penggunanya untuk mengaji dan mengkaji pada waktu yang sama. Sebelum ini, kecuali dengan beberapa jenis tafsir al-muyassar yang sudah pernah terbit (dalam bahasa Arab), orang harus memilih untuk mengaji—membaca Al-Quran biasa (untuk mendapatkan berkah dan pahala)—atau mengkaji tafsirnya. Yang pertama biasanya dilakukan dengan menggunakan mushhaf Al-Quran biasa, paling banter yang dilengkapi terjemahan. Sementara yang kedua memerlukan buku-buku tafsir yang panjang-panjang, sehingga menjadikan kegiatan mengaji biasa akan berjalan sangat lambat, kalau tak malah mustahil sama sekali akibat kita harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca tafsir panjang ayat per ayat. Dengan The Message of the Quran, persoalan ini terpecahkan.

Namun, ringkasnya tafsir ini sama sekali tak berarti dangkal. Sebaliknya, tafsir dalam The Message of the Quran bukan hanya cukup mendalam, melainkan juga—umumnya—selalu diupayakan agar merujuk pada tafsir-tafsir tradisional yang sudah diakui, seperti tafsir Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, dan sebagainya. Inilah kelebihan kedua dari The Message of the Quran.

Masih terkait dengan ini, kelebihan ketiga dari The Message of the Quran terletak pada pendasarannya atas penelitian bertahun-tahun dan mendalam yang dilakukan penulisnya atas berbagai tafsir tradisional, hadis, sejarah Rasul, bahkan juga Bibel (hampir-hampir tak perlu diingatkan lagi bahwa Muhammad Asad—yang bernama asli Leopold Weiss—sebelum masuk Islam adalah pengikut agama Yahudi, berasal dari keluarga rabi Yahudi dan sejak kecil telah mempelajari kitab-kitab Yahudi, Mishnah, Gemara, Targum, dan lain-lain, dalam bahasa Ibrani). Bukan saja dia melakukan penelitian yang amat mendalam, penulis yang awalnya berprofesi sebagai wartawan ini bahkan sampai sejauh melakukan penelitian bahasa Arab di kalangan suku Badui di Semenanjung Arabia. Khususnya, suku-suku yang tinggal di wilayah Arabia Tengah dan Timur, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.—yakni, ketika Al-Quran diturunkan dan dipahami pada awalnya.

TafsirMuhammadAsad-islamindonesia.id

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *