Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 24 August 2016

KAJIAN–Bolehkah Jama’ah Haji Berseru “Ya Muhammad” Saat Berziarah? (Bagian 1)


kajian ziarah nabi muhammad

KAJIAN–Bolehkah Jama’ah Haji Berseru “Ya Muhammad” Saat Berziarah? (Bagian 1)

Sebentar lagi musim haji tiba. Umat Islam dari berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia bersiap menunaikan ritual agung.

Di antara ibadah ruhani yang digandrungi umat Islam Indonesia adalah berziarah ke makam Kanjeng Nabi Muhammad Saw di Madinah. Inilah momen perjumpaan umat Islam dengan Nabi mereka.

Meski demikian ada saja yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah mati tidak dapat mendengar peziarah. Lebih dari itu, ulama mazhab resmi kerajaan Saudi menyatakan berdoa di makam Nabi sebagai perbuatan syirik dan kufur. Benarkah demikian? Bagaimana sesungguhnya kedudukan berziarah di dalam Islam?

Ayat Al-Qur’an

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al-Baqarah [2]: 154)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali ‘Imran [3]: 169)

Sesungguhnya dari dua ayat di atas sudah cukup menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah hidup. Apatah lagi para Nabi dan para wali Allah! Dengan landasan itu pula, maka umat Islam diwajibkan mengucapkan salam kepadanya dalam setiap shalat mereka sehari-hari.

Lagi-lagi kelompok Wahabi sebagai mazhab resmi kerajaan Saudi tidak memahami ayat ini. Bagaimana halnya dalam kitab-kitab hadis?

Hadis Isra’ dan Mi’raj

1. Dalam menceritakan pengalamannya pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Nabi Saw menuturkan, “…Aku telah melihat diriku bersama sekumpulan para Nabi. Dan tiba-tiba aku diperlihatkan Nabi Musa yang sedang berdiri melaksanakan shalat, ternyata dia adalah seorang lelaki yang kekar dan berambut keriting, seolah seorang dari bani Syanuah. Aku juga diperlihatkan Isa bin Maryam yang juga sedang berdiri melaksanakan shalat. Urwah bin Mas’ud At-Tsaqafi adalah manusia yang paling mirip dengannya. Telah diperlihatkan pula kepadaku Nabi Ibrahim yang juga sedang berdiri melaksanakan shalat, orang yang paling mirip denganya adalah sahabat kalian ini; yakni diri beliau sendiri. Ketika waktu shalat telah masuk, aku pun mengimami mereka semua. Dan seusai melaksanakan shalat, ada seseorang berkata, ‘Wahai Muhammad, ini adalah Malik, malaikat penjaga api neraka, berilah salam kepadanya! ‘ Maka aku pun menoleh kepadanya, namun ia segera mendahuluiku memberi salam” (HR. Muslim no. 172)

Dalam hadis tersebut di atas, Nabi menceritakan Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim hidup dan beliau menjadi imam shalat. Jika Nabi-nabi lain saja hidup pada saat Rasulullah hidup, maka bukankah Rasulullah juga hidup pada saat ini? Lantas apa salahnya jika umat Islam yang berziarah ke makam Nabi Muhammad Saw berdoa dan shalat di sisinya?

2. Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya juga membawakan riwayat dari Ibnu ‘Abbas r.a, “Ketika masuk masjid Al-Aqsha, Nabi Saw mendirikan shalat, kemudian para Nabi shalat di belakangnya.” (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, juz 4, hadis 2324, h. 167)

Hadis di atas juga secara gamblang menggambarkan para Nabi yang datang sebelum Nabi Muhammad hidup dan ikut shalat berjama’ah di belakang Nabi saat Isra’ di masjid Al-Aqsha. Jika demikian adanya, maka mengapa kelompok Wahabi menyebut kepada jama’ah haji yang berziarah ke makam Nabi Muhammad bahwa Nabi telah mati dan tidak dapat mendengar doa mereka?

Lebih dari itu, pihak keamanan di sekitar masjid Nabi juga akan menangkap siapa saja yang berdoa di makam Nabi Muhammad Saw. Mereka dianggap telah melakukan tindak kriminal jika mengangkat tangan dan berdoa di makam Nabi.

Rasulullah Berbicara kepada Jenazah Perang Badar

Hadis lain di dalam kitab Shahih Bukhari menyebutkan bahwa Nabi Saw menyeru dua puluh empat pembesar Quraisy yang telah mati pada perang Badar. “Wahai fulan bin fulan, wahai fulan bin fulan, apakah kalian senang jika dulu kalian menaati Allah dan Rasul-Nya? Sungguh kami telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan benar. Apakah kalian juga telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian dengan benar?” Sayidina Umar berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda berbicara dengan jasad-jasad yang tidak lagi bernyawa?” Maka Rasulullah Saw bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, kalian tidaklah lebih dapat mendengar apa yang aku katakan dibanding mereka.” (Shahih Bukhari, kitab Al-Maghazi hadis 3975)

Pada hadis di atas, Rasulullah jelas berbicara kepada bangkai para pembesar Quraisy yang telah mati. Bagaimana halnya dengan para jama’ah haji yang ingin meluapkan emosi, mengutarakan keluhan, dan menyampaikan rasa rindu mereka di makam Rasulullah Saw di Madinah? Mengapa diharamkan? Jika jasad orang-orang kafir bisa mendengar seruan orang-orang yang masih hidup, maka apatah lagi Rasulullah Saw.

Mayat Mendengar Suara Langkah Sandal Orang yang Mengantarkannya

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Nabi Saw bersabda, “Jika suatu jenazah telah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya, dia mendengar gerak langkah sandal-sandal mereka,..” (Shahih Bukhari, kitab Jenazah, hadis 1338)

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis senada dengan di atas.

Jika jenazah manusia biasa saja dapat mendengar langkah sandal peziarahnya, maka apatah lagi Nabi Saw yang pasti mendengar suara peziarahnya, tangis rindu, doa-doanya, dan mengetahui keadaan umatnya.

 

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *