Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 11 May 2016

RENUNGAN–Semarak Majelis Zikir dalam Al-Qur’an


semarak majelis zikir dalam al-qur'an

IslamIndonesia.id – RENUNGAN–Semarak Majelis Zikir dalam Al-Qur’an

Majelis zikir kian semarak di tanah air. Di Jakarta saja, majelis zikir bisa mencapai puluhan bahkan ratusan. Sebut saja di antaranya yang terbesar jama’ahnya, Majelis Rasulullah saw dan Nurul Mustofa. Bahkan majelis-majelis zikir kian menjamur di daerah-daerah lain di Indonesia. Adakah Al-Qur’an menyebutkan tentang keutamaan berzikir sehingga orang berbondong-bondong menghadiri majelis-majelisnya?

Sebagai bahan renungan perhatikanlah penggunaan frasa “banyak berzikir” dalam beberapa ayat Al-Qur’an berikut ini. Allah Swt berfirman,

qs. al-ahzab 35

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Ahzab [33]: 35)

Renungkanlah ayat di atas. Predikat ‘banyak’ di dalam ayat tersebut tidak menyifati laki-laki dan perempuan yang bersedekah, berpuasa dan lain-lain, melainkan laki-laki dan perempuan yang berzikir kepada-Nya. Artinya, ayat di atas tidak menyifati banyak bersedekah atau berpuasa, namun banyak berzikir (mengingat) Allah.

Dalam ayat lain, Allah Swt berpesan kepada Nabi Zakaria as agar banyak berzikir,

semarak majelis zikir dalam al-qur'an

Berkata Zakaria, “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 41)

Nabi Musa as juga memperoleh hakikat dengan banyak berzikir sebagaimana firman Allah Swt,

semarak majelis zikir dalam al-qur'an

Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. (QS. Thaha [20]: 33-34)

Kemudian Allah Swt memerintahkan kita untuk banyak berzikir kepada-Nya,

semarak majelis zikir dalam al-qur'an

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab [33]: 41)

Bahkan di tengah pertempuran sekali pun, Allah Swt memerintahkan kita untuk banyak berzikir. Allah Swt berfirman,

semarak majlis zikir dalam al-qur'an

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. al-Anfal [8]: 45)

Sebaliknya, Allah Swt menyebutkan sifat-sifat orang munafik yang salah satunya adalah orang yang sedikit berzikir kepada-Nya. Allah Swt berfirman,

semarak majelis zikir dalam al-qur'an

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit. (QS. an-Nisa’ [4]: 142)

Zikir kepada Allah Swt adalah ibadah yang tidak memerlukan wudhu, menghadap kiblat, harta, usaha keras dan waktu tertentu. Kita hanya memerlukan tafakur sejenak dan taufik dari Allah Swt. Tahap pertama yang diperlukan adalah usaha sungguh-sungguh untuk konsisten dalam berzikir. Fase inilah yang paling sulit. Namun setelah melewati fase ini, maka kita akan merasakan lezatnya berzikir kepada Allah Swt.

Karena alasan-alasan itu, maka ibadah ini mesti dilakukan dalam jumlah yang ‘banyak’ dan sering. Jika untuk ibadah-ibadah lain perlu berbagai syarat yang mungkin memberatkan, maka untuk berzikir nyaris tidak ada syarat yang memberatkan. Namun demikian, ibadah zikir ini tidak terbatas pada gerakan lidah semata, melainkan memerlukan kehadiran hati dan kesadaran yang utuh.

Imam Syafi’i r.a berkata, “Pada hari Kiamat nanti akan disingkap pahala perbuatan manusia. Mereka tidak akan melihat pahala yang lebih utama selain berzikir kepada Allah Swt. Ketika itu sekelompok manusia akan menyesal dan mereka berkata, ‘Aduhai, padahal tidak ada suatu (amal) yang lebih ringan bagi kami selain berzikir.'”

Jadi, sudah sewajarnya jika majelis zikir menjadi semarak dimana-mana sehingga tak ada yang tersisa selain gemuruh menyebut nama Allah Swt.

 

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *