Satu Islam Untuk Semua

Friday, 13 May 2016

RENUNGAN JUM’AT–Kutukan bagi Koruptor dalam Al-Qur’an


kutukan bagi koruptor dalam al-quran

IslamIndonesia.id – Renungan Jum’at – Kutukan bagi Koruptor dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memulai ayatnya dengan kutukan pada dua surah, Al-Humazah dan Al-Muthaffifin. Surah pertama adalah kutukan bagi orang-orang yang suka mengumpat. Sementara surah terakhir adalah kutukan bagi orang-orang yang curang.

Pada renungan Jum’at kali ini kita akan membahas kata Al-Muthaffifin. Semenjak kecil kita sering membaca dan mendengar ayat (ویل للمطففین) “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”. Ayat pertama surah Al-Muthaffifin ini menyebutkan kutukan bagi orang-orang yang mencurangi timbangan dengan mengurangi hak orang lain.

Apakah arti sesungguhnya muthaffif? Thafîf adalah sesuatu yang diremehkan orang saking kecilnya barang tersebut. Sementara tathfîf perbuatan mengurangi sesuatu yang thafîf. Sebut saja seorang pedagang mengurangi 50 gram saja dari 1000 gram. Bukankah ini sesuatu yang sedikit dan tak bernilai? Lantas mengapa Allah Swt menjanjikan ancaman dalam sebuah surah khusus bagi mereka?

Siapa sesungguhnya muthaffif itu?

qs-almuthaffifin-2-3

(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. al-Muthaffifîn [83]: 2-3)

Namun demikian, ayat tersebut tidak terbatas untuk pedagang saja.

❎ Al-Muthaffif juga termasuk seorang suami yang ingin istrinya memenuhi haknya secara sempurna, tapi di saat yang sama sang suami berlaku tidak adil dan mengurangi hak istrinya.

❎ Al-Muthaffif juga berlaku atas seorang guru yang memperoleh gaji, namun lalai dari tugasnya. Dia tidak membimbing siswanya dengan sepenuh hati, terlambat datang dan bahkan meninggalkannya.

❎ Al-Muthaffif juga bermakna seseorang yang menginginkan kerabatnya memperhatikan dirinya, meminta kepadanya namun dia sendiri memutuskan hubungan dengan mereka.

❎ Al-Muthaffif juga bermakna setiap orang yang tidak sungguh-sungguh kepada Allah dalam setiap amal yang dilakukannya. Dengan demikian dia telah mengambil hak-Nya secara sempurna.

Boleh jadi kita sebenarnya termasuk ke dalam golongan al-muthaffifin ini tanpa kita sadari. Ayat ini memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk merenungi apakah kita telah berbuat sungguh-sungguh dalam pekerjaan kita untuk keluarga, masyarakat dan negara.⁠⁠⁠⁠ Wallahu A’lamu bis-shawab.

 

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *