Satu Islam Untuk Semua

Monday, 16 May 2016

TAFSIR–Ihwal Meminta Pertolongan ke Selain Allah


meminta pertolongan kepada selain Allah

IslamIndonesia.id – TAFSIR–Meminta Pertolongan kepada Selain Allah

Dalam shalat kita senantiasa membaca wa iyyâka nasta’în (hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Lalu bagaimana dengan meminta pertolongan kepada selain Allah?

Penjelasan sederhananya adalah ketika seseorang meminta pertolongan dari saudaranya, sesungguhnya penolongnya hanyalah salah satu sebab dari serangkaian sebab akibat dari Allah. Bukankah Allah berfirman,

qs. al-fath ayat 7
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Fath [48]: 7)

Oleh karena itu, jika Allah berkenan, Dia bakal membolak-balikkan hati hamba-Nya. Boleh jadi yang dimintai tolong malah tidak mengabulkan hal-hal yang kita inginkan.

Di zamannya, Fir’aun membunuhi bayi-bayi lantaran mendapat bisikan akan lahirnya seseorang yang akan melengserkannya. Namun tatkala Fir’aun memegang Nabi Musa as yang masih bayi, seketika hatinya yang beringas menjadi manusia yang lunak, bahkan mengangkatnya sebagai anak.

Al-Qur’an merekam kata-kata Fir’aun setelah Nabi Musa as melakukan revolusi,

qs. as-syu'ara ayat 18

Fir’aun berkata, “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, sebagai anak, dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun?” (QS. As-Syu’arâ’ [26]: 18)

Fir’aun hanyalah salah satu perantara yang tidak jadi membunuh Nabi Musa as lantaran dilembutkan hatinya oleh Allah. Dengan demikian, hati seseorang berada di tangan Allah. Pada akhirnya, Dia-lah Hakikat yang sesungguhnya sebagai Sebab Utama dalam semua hal, termasuk permintaan tolong hamba-Nya.

Satu contoh lainnya adalah ketika seorang dokter bedah berhasil melakukan operasi untuk pertama kalinya. Dia telah memberikan pertolongan kepada pasiennya.

Kemudian dia bersyukur kepada Allah atas nikmat keberhasilannya, seraya berdoa, “Tuhanku segala puji bagi-Mu dan segala rasa syukur atas-Mu, yang telah menundukkan seseorang.”

Setelah itu, Allah memudahkan dirinya pada operasi selanjutnya sebagaimana janji-Nya,

ibrahim ayat 7

Dan tatkala Tuhanmu memberitahu, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Keterlibatan seorang Fir’aun yang jahat dan seorang dokter yang baik dalam menolong hamba Allah meniscayakan terjadinya hubungan sebab akibat dalam kehidupan. Dengan demikian, meminta pertolongan kepada selain Allah tidak mengingkari pernyataan wa iyyâka nasta’în (hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan) dalam shalat kita. Bahkan boleh jadi, dengan sebab meminta pertolongan kepada orang lain justru mengakibatkan rasa syukur orang yang akan membantu kita kepada Allah Swt. Dengan kata lain, hal itu bukanlah perbuatan syirik.[]

 

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *