Satu Islam Untuk Semua

Friday, 27 January 2017

RENUNGAN JUMAT-Mengapa Ada yang Kehilangan Arah di Puncak Kekayaannya?


Radhanath-Swami-on-wealth

islamindonesia.id – RENUNGAN JUMAT – Mengapa Ada yang Kehilangan Arah di Puncak Kekayaannya?

Selama sejarah-hidupnya di muka bumi, manusia didefinisikan dengan banyak cara. Hewan yang berjalan tegak, hewan-tukang pembuat barang-barang, hewan yang berpikir, dan sebagainya.

Pada sebutan yang pertama ia disamakan dengan hewan apa adanya, pada yang kedua dengan mesin, dan pada yang ketiga dengan – paling jauh – robot atau artifcial intelligence.  Padahal, di atas semuanya itu, manusia paling tepat didefenisikan sebagai pencinta.

Dalam semua kesibukannya mencari apa-apa yang dikiranya merupakan sumber kebahagiaan hidup – harta, kekuasaan, popularitas – sesungguhnya yang dia cari adalah cinta. Hanya dengan mendapatkan cinta sejati, dia mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan hidup.

Manusia hanya tak menyadari bahwa sesungguhnya, ketika mengejar harta, kekuasaan dan popularitas, semuanya itu adalah sarana untuk mendapatkan kebahagiaan. Bukan sumber kebahagiaan itu sendiri. Dia telah mengacaukan sarana dengan tujuan.

Karena itu, tidak aneh jika banyak orang justru mengalami puncak kesedihan ketika berada di puncak kekayaan, kekuasaan, atau popularitas. Kenapa, karena harapannya kandas ketika kenyataan semuanya itu terbukti tak memberikan kebahagiaan yang dicarinya.

[Baca juga: Zakat Untuk Keseimbangan Kekayaan, Bukan Dikotomi Miskin-Kaya]

Dia pun menjadi bingung,  kehilangan arah, dan tak tahu lagi kemana harus mencari makna hidupnya. Yang banyak dilakukan orang kemudian ialah membenamkan diri lebih jauh ke dalam kesibukan gila-gilaan mencari lebih banyak lagi kesemuanya itu.

Atau melarikan diri dengan mencoba menghilangkan kesadaran mereka tentang realitas kehidupan, atau justru meluncur masuk ke lubang hitam kesedihan yang tak ada habis-habisnya.

Yang diperlukan manusia modern sekarang adalah, pertama, menyadari bahwa cinta, dan hanya cinta, yang dapat membawanya pada kebahagiaan. Selanjutnya, terus berjuang untuk membawa kehidupan ke arah yang dapat memberikannya kesempatan untuk menyebarkan cinta sebanyak-banyaknya dan, sebagai imbalan-alaminya, mendapatkan cinta sebanyak-banyaknya.

Dengan begitu, hidupnya telah berlabuh kepada kepuasan puncak yang menjadi ujung-pangkal keberadaannya di muka bumi manusia ini.[]

Haidar Bagir (dalam buku Percikan Cinta dan Kebahagiaan)

[Baca juga- Cak Nun: Ada yang Kaget, Ternyata Koruptor Juga Suka Atribut Islami]

YS/ islam indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *