Satu Islam Untuk Semua

Friday, 01 July 2016

KISAH NYATA—Rahasia Cinta Sejati tanpa ‘I Love You’ Gus Mus dan Nyai Fatma


Rahasia Cinta Sejati Tanpa I Love You Gus Mus dan Nyai Fatma

IslamIndonesia.id—Rahasia Cinta Sejati Tanpa “I Love You” Gus Mus dan Nyai Fatma

 

Hari ini, Kamis 30 Juni 2016, tepat pukul 14.30 WIB, istri Gus Mus, Nyai Hajah Siti Fatma berpulang ke hadirat Allah, setelah kurang lebih empat dekade lamanya, setia menemani Kiai sahaja asal Rembang itu sejak awal pernikahan mereka pada 19 September 1971 silam.

Tak hanya kaum Nahdliyin, seluruh kaum Muslimin di Tanah Air pun turut kehilangan dan berduka. Kepergian almarhumah yang membuat banyak orang—dalam istilah Jawa, ketenggengan (yang kurang lebih berarti: kaget, takjub, campur heran dan tak percaya) itu, tak terkecuali dialami juga oleh kerabat dekat Gus Mus yaitu putri Gus Dur, Alissa Wahid yang dalam ciutannya berujar, “Masih ketenggengan dengan kabar duka dari Rembang. Semoga Bulik Nyai Fatma diampuni segala dosanya, dan tenang dalam pelukan Cinta Allah SWT.”

Seperti kata pepatah, bahwa di balik kehebatan dan kesuksesan seorang suami, pasti ada isteri hebat yang senantiasa setia mendampingi atau berada di belakangnya. Begitu pula kiranya yang terjadi dengan gemilangnya kehidupan Gus Mus, yang tentu tak luput dari andil dan peran besar dari sosok almarhumah Nyai Fatma, istrinya.

“Selain putra-putrinya, banyak saksi hidup cinta deras beliau berdua. Termasuk saya yang selalu haru melihatnya,” aku Alissa, seraya menyertakan link berisi sajak cinta Gus Mus yang beliau tulis 21 tahun silam dan dimuat laman Islami.co berikut ini:

Sajak Cinta

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta Romeo kepada Juliet si majnun Qais kepada Laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu

aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

Rembang, 30-9-1995

Apakah artinya biduk rumah tangga Gus Mus senantiasa berjalan mulus? Selalu rukun dan akur karena dipertemukan oleh cara pandang dan selera yang selalu sama? Ternyata, tidak juga.

“Selera kami sering berbeda. Tapi kami selalu saling menghargai selera masing-masing,” tutur Gus Mus awal April 2016 lalu di akun FB-nya.

Sementara pada 21 September 2015 silam, sekelumit cerita kehidupan dan bahtera rumahtangganya bersama Nyai Fatma, juga pernah dituliskan agak lebih panjang oleh Gus Mus.

Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan “Qabiltu nikãhahã…” ketika Kiai Abdullah Chafizh –Allahu yarham– mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan puterinya, Siti Fatma, menjadi isteriku.

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan. 

Selama itu –hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu– seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada teman hidupku ini: “I love you”, “Aku cinta padamu”, “Anä bahebbik”, “Aku tresno awakmu”, atau kata-kata mesra sejenis. Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami.

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara ‘serius’ tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius. 

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada. 

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati. 

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah ‘alã kulli hãl..”

Subhanallah, betapa menyejukkan kisah dua insan sahaja yang sama-sama arif dan berilmu ini dalam menempatkan posisi cinta dalam kehidupan mereka.

Semoga kita semua mampu mengambil pelajaran dan hikmah berharga dari kisah kasih beliau berdua dalam menjalani kehidupan rumahtangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Dan sekali lagi, atas nama redaksi dan seluruh kru Islam Indonesia, kami haturkan dukacita mendalam atas wafatnya Nyai Hajah Siti Fatma. Semoga almarhumah menemui Allah SWT dan kembali ke haribaan Rabbul ‘Alamin dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya..

 

EH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *