Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 30 June 2016

OBITUARI—Mengenang Almarhumah Nyai Siti Fatmah, Istri Gus Mus


Gus Mus bersama Almarhumah Nyai Siti Fatmah

IslamIndonesia.id—Mengenang Almarhumah Nyai Siti Fatmah, Istri Gus Mus

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun, turut berdukacita atas wafatnya Ibu Nyai Hajah Siti Fatmah, isteri KH Mustofa “Gus Mus” Bisri hari ini, Kamis, 30 Juni 2016, tepatnya pukul 15.15 WIB yang baru lalu, sebagaimana dibenarkan Tun Mardiyah, putri dari Munfaridjah Basyuni yang merupakan adik bungsu almarhumah kepada beberapa awak media yang menghubunginya via telepon.

Sementara laman NU Online memberitakan, istri Mustasyar PBNU tersebut telah berpulang ke rahmatullah di RSUD Rembang sekira pukul 14.30 WIB.

Tentu saja dukacita ini bukan hanya menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh Rembang yang diasuh Gus Mus, melainkan juga duka bagi seluruh warga NU, terutama kaum ibu dan remaja putrinya yang kembali kehilangan Ibu Nyai teladannya.

Nyai Fatmah Dimakamkan Jumat

Menurut Hanna, salah seorang keponakan Gus Mus, jenazah Ibu Nyai Fatmah akan disemayamkan di rumah duka terlebih dahulu sebelum dimakamkan Jumat (1/7/2016) besok.

Kita doakan semoga almarhumah diterima di sisi Allah dan semoga keluarga dan mereka yang ditinggalkan, khususnya Gus Mus diberikan kesabaran dan ketabahan.

***

Lalu, seperti apa sebenarnya sosok istri Gus Mus?

Berhubung Nyai Fatmah selama ini jarang muncul di hadapan publik dan tak kerap muncul dalam liputan media, mungkin ada baiknya kita telusuri sosok almarhumah dari untaian puisi yang biasanya ditulis khusus oleh Gus Mus untuk beliau.

Seperti kita ketahui, Gus Mus sangat gemar membuat syair atau puisi yang ditujukan kepada sang istri, sebagai pertanda cintanya. Salah satu dari puisi romantis itu pun pernah dibacakan sendiri oleh beliau dalam acara talkshow di salah satu TV swasta beberapa bulan lalu.

Dalam acara itu juga Kiai yang menetap di Rembang ini mengisahkan salah satu episode cintanya dengan sang istri. Kisah sarat hikmah yang layak diketahui kaum Muslimin yang mendamba keberkahan dalam berumahtangga.

Gus Mus mengaku dijodohkan oleh ayahnya dengan Siti Fatmah saat dirinya tengah berada Mesir untuk menimba ilmu. Sementara calon istrinya itu berada di Indonesia. Karena kendala jarak itu, keduanya sering berkirim surat untuk berkenalan. Sosok Gus Mus yang piawai meramu kata, serta-merta—seperti pengakuan Siti Fatmah sendiri, telah mampu membuat sang istri jatuh hati. Terpikat keromantisan Gus Mus.

Sepulang Gus Mus ke Tanah Air dan hidup berdua, ada episode menarik tentang “persembahan tanda cinta” sang istri kepada suaminya yang baru pulang dari Mesir; masakan khas opor ayam spesial. Tak tanggung-tanggung, Nyai Fatmah memakai dua kelapa sebagai bahan membuat santan, supaya kental. Supaya berkesan. Supaya rasanya berbekas di lidah sang pujaan hati.

Malangnya, ketika masakan dihidangkan, Gus Mus hanya mencicipinya tak lebih dari satu sendok makan saja. Membuat sang istri meradang. Nangis tiada henti, lalu mengadu kepada Ibu mertuanya, ibu kandung Gus Mus.

“Bagaimana to Bu? Saya memarut dua kelapa sampai tangan saya luka, tapi hanya dicicipi satu sendok makan,” tutur Nyai Fatmah kepada Ibu mertuanya.

Ibunda Gus Mus hanya tersenyum. Lalu menyampaikan sebuah rahasia. Gus Mus, demikian dikisahkan oleh ibunya, tidak terlalu menyukai masakan bersantan kental. Anak laki-lakinya itu lebih suka sambal jeruk.

Keesokannya, sang istri pun mengikuti saran sang Ibu mertua. Menyajjikan sambal jeruk spesial penuh cinta. Benar saja, meski hanya sambal jeruk, Gus Mus makan dengan lahap, nambah berkali-kali. Istilahnya, nasi sebakul hampir dihabiskan.

Apa hikmah dari cerita Gus Mus yang juga sempat beliau sampaikan di salah satu majlis pengajian di Banguntapan itu?

Cintailah dengan cara orang yang dicintai, bukan dengan cara kita. Jalan yang harus dilalui adalah dengan saling mengenal secara baik. Hal ini penting, sebab mencintai dengan cara kita sangat mungkin menimbulkan kesalahan, sebab yang dicintai tidak menyukai cara kita mencintainya.

Gus Mus mengakhiri kisahnya ini dengan perenungan. Saat kita mengakui mencintai Allah, hendaklah melakukan perbuatan-perbuatan yang benar-benar Dia cintai, bukan dengan cara kita. Sebab banyak kejadian, seorang hamba merasa melakukan perbuatan atas nama cinta kepada Allah, tapi dia justru mengundang Murka-Nya.

Benar kata Gus Mus, untuk bisa romantis itu juga butuh ilmu.

 

EH/IslamIndonesia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *