Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 09 September 2017

HIKMAH – Tiga Ciri Perilaku Bermotif Ria


dull-heart

islamindonesia.id – HIKMAH– Tiga Ciri Perilaku Bermotif Ria

 

Pada artikel  sebelumnya (Baca: Tingkatan Ria: Dari Pamer Akidah Hingga Ibadah), telah diurai tahapan dan derajat penyakit hati yang bernama ria.  Artikel ditutup dengan hadist nabi soal ria bagian dari syirik kecil yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Kali ini, IslamIndonesia menurunkan artikel tentang ciri ria. Sayidina Ali bin Abi Thalib  berkata, “Ada tiga ciri yang menandakan bahwa seseorang melakuakn ria, yaitu menyatakan suka cita dan kegembiraannya ketika disambut dan dihormati; menjadi sedih dan murung ketika sendiri (tak ada orang lain); dan ingin dipuji untuk semua hal yang dikerjakannya.”

Seseorang kadang sulit mengetahui keberadaan sifat buruk yang bersemayam dalam dirinya. Bahkan, seseorang sering kali tidak menyadari bahwa sejatinya ia adalah munafik. Hal ini karena sifat buruk itu halus dan tersembunyi.  Dengan demikian, menurut para ahli hikmah, tanda sifat buruk itu dijabarkan agar manusia dapat mengenali  motif-motif tersembunyinya dengan memeriksa batin, sehingga ia dapat mencegah serta menyembuhkannya.

Setiap orang harus melihat apakah ia tidak ingin mengerjakan kewajiban agamnya ketika sendirian, bahkan jika ia dengan penuh kesungguhan memaksa dirinya, atau terbiasa melakukannya? Apakah ia tidak melakukannya dengan keikhlasan dan kemurnian hati, melainkan hanya sebagai latihan jasmani, namun saat melakuan salat di masjid dalam suatu jamaah, ia menjadi berubah dan melakukan salatnya dengan riang gembira dan bersemangant. Ia memperpanjang rukuk dan sujudnya; ia melakukan semua sunnah dengan tepat dan sangat memperhatikan hal-hal yang paling kecil.

Jika orang itu memberikan perhatian sedikit saja pada keadaan batinnya, ia mungkin akan menemukan alasan bagi perbuatannya itu. Mengapa ia menebarkan jaring-jaring kesalehan palsunya untuk menjerat perhatian orang lain? Ia mungkin membohongi dirinya sendiri dengan berkata bahwa ia lebih senang melaksakan salat di masjid karena hal itu lebih bermanfaat dan pahalanya lebih besar. Ia bakal meyakinkan dirinya dengan berkata bahwa lebih baik melakukan salat yang baik di depan orang banyak agar mereka mengikuti contohnya dan membuat orang lain lebih tertarik pada agama.

Manusia menipu dirinya dengan segala cara dan tidak pernah berpikir untuk memperbaiki dirinya. Bagi orang sakit yang menganggap dirinya sehat, tidak ada harapan untuk disembuhkan. Lubuk hati terdapan manusia yang buruk tidak hanya secara diam-diam bertujuan memamerkan perbuatan-perbuatan baiknya di depan orang banyak dan tetap tidak menyadari dorongan batinnya, tetapi juga menampilkan perbuatan dosanya sebagai ibadah dan tipu dayanya sebagai dakwah agama – meskipun sebetulnya salat sunnah dianjurkan untuk dilaksanakan sendirian.

Mengapa diri kita, misalnya, selalu ingin tampil di depan umum dan mengapa kita meratap ketakutan kepada Allah dalam sebuah pertemuan umum, sedangkan dalam kesendiran kita tak mampu menitikkan setetes air mata pun? Di manakah rasa takut kita kepada Allah (di saat kita sedang sendirian)? Apakah rasa takut kita itu hanya menyergap kita di hadapan orang banyak? Apakah rasa takut itu menguasai diri kita hanya dalam majelis zikir yang dihadiri ratusan orang?

Jika seseorang melakukan sesuatu hanya demi Allah atau untuk memperoleh rahmat-Nya, atau karena takut neraka dan mengharapkan surga-Nya, lalu mengapa ia ingin perbuatan-perbuatannya dihargai dan dipuji oleh orang lain? Telinganya begitu ingin mendengar pujian untuk dirinya, dan hatinya bersama orang-orang yang mengamati ibadahnya dan berkata, “Betapa mulianya orang itu, karena ia selalu tepat waktu melaksanakan salat wajib dan sangat memperhatikan yang sunnah”.

Jika perbuatan kita itu ditujuak pada Allah, apakah arti semua kecenderungan yang berlebihan pada orang banyak itu?  Jika rasa takut pada neraka dan harapan akan surga mendorong kita untuk melakukan segenap perbuatan, lalu apakah arti kecintaan kita pada kemasyhuran itu? Seseorang harus menyadari bahwa keinginan tersebut muncul dari pohon ria yang tercela. Oleh karena itu, sebaiknya kita sedapat mungkin menyucikan diri dan kecenderungan- kecenderungan absurd itu, serta berusaha memperbaiki diri kita.

 

RK/ YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *