Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 05 September 2017

TASAWUF – Tingkatan Ria: Dari Pamer Akidah Hingga Ibadah


heart midical

islamindonesia.id – TASAWUF –  Tingkatan Ria: Dari Pamer Akidah Hingga Ibadah

 

Dalam kamus Bahasa Indonesia, ria atau riya’ diartikan sebagai perbuatan membanggakan diri karena telah berbuat baik. Secara istilah, ahli hikmah mendefenisikan riya’ sebagai tindakan menampakkan atau menonjolkan amal-amal saleh, sifat-sifat terpuji atau akidah yang benar demi memperoleh kekaguman dalam hati orang banyak dan dikenal di antara mereka  sebagai orang baik, orang yang lurus, jujur, dan taat, tanpa niat untuk Allah yang sejati.

Riya’ pada diri setiap orang dapat berlangsung beberapa tahap dimana tahap pertama terdiri atas dua derajat. Derajat pertama, seseorang memamerkan akidah yang benar dan mempertontonkan makrifat Ilahi dengan tujuan untuk mengesenkan dirinya sebagai orang yang taat di mata manusia dan untuk memperoleh penghargaan dari mereka. Manusia seperti itu ingin memamerkan kepercayaannya kepada Allah dan kekuasaan-Nya dengan berkata bahwa ia tidak memercayai adanya wujud lain selain Allah.

Ia juga mencoba bahwa dirinya adalah seorang Mukmin yang teguh dengan menyatakan bahwa ia hanya bergantung kepada Allah. Atau, orang itu, dengan perbuatan dan ucapannya, menampilkan dirinya sebagai pengikut setia agama. Semua ini adalah jenis ria yang paling umum terjadi.

Sebagai contoh, ketika ada pembicaraan tentang tawakkal dan kerelaan pada qada’ Allah, ia mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengesankan kepada orang lain bahwa ia berada dalam golongan tawakkal kepada Allah.

Derajat kedua dalam ria tampak pada orang-orang yang membersihkan dirinya dari akidah-akidah yang batil untuk memperoleh kedudukan dan penghargaan dari masyarakat. Terkadang mereka menunjukkannya secara eksplisit dan terkadang juga secara tersembunyi dan implisit.

Adapun tahap kedua ialah ria dalam perbuatan, yang juga terdiri atas dua derajat. Pertama, memperlihatkan sikap-sikap baik dan watak-watak luhur; dan kedua, membersihkan dirinya dari sikap-sikap dan watak-watak buruk serta berujar bahwa dirinya telah terbebas dari seluruh sifat buruk itu untuk tujuan-tujuan yang sama dengan di atas.

Tahap ketiga adalah ria dalam ibadah, yang dianggap oleh para ahli fikih sebagai ria yang paling jelas, yang juga terdiri atas dua aspek. Pertama, ditandai dengan penampilan terang-terangan dalam melakukan salat dan perbuatan-perbuatan baik di hadapan orang lain, dengan maksud menunjukkan sifat-sifat baik dan kebiasaan- kebiasaan yang patut dipuji. Atau, dengan menunjukkan dirinya sebagai orang yang benar-benar mengikuti perintah-perintah agama dan sikap-sikap rasional untuk menarik hati masyarakat kepada dirnya.  Adapun aspek kedua ialah meninggalkan perbuatan haram atau makruh dengan motif ria.

Penyakit moral seperti ini mengingatkan kita pada Nabi Saw agung yang pernah bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik terkecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik terkecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ria.” (HR. Ahmad)[!]

 

RK/ YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *