Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 11 October 2016

Peringati Kesyahidan Sayidina Husein, Warga Pariaman Gelar Festival Tabuik


peringati-kesyahidan-sayidina-husein-warga-pariaman-gelar-festival-tabuik

IslamIndonesia.idPeringati Kesyahidan Sayidina Husein, Warga Pariaman Gelar Festival Tabuik

 

Festival Tabuik yang merupakan pesta budaya adat Pariaman, tahun ini akan kembali diselenggarakan tepat pada tanggal 12 Oktober 2016 mendatang.

Sekadar info, Tabuik berasal dari bahasa Arab yang berarti “tabut” atau peti kayu. Tabut sendiri diambil dari legenda kemunculan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut Buraq.

Legenda ini mengisahkan, konon setelah syahidnya cucu Nabi, Husein bin Ali di Karbala, peti kayu yang berisi potongan jenazah Sayidina Husein diterbangkan ke langit oleh Buraq. Maka untuk memperingati peristiwa tersebut, masyarakat Pariaman membuat tiruan dari Buraq yang mengusung tabut di punggungnya.

Pembuatan tabuik ini dilakukan di dua tempat yang berbeda yaitu di Tabuik Pasa (pasar) dan Tabuik Subarang (seberang) yang berada di utara sungai atau daerah yang dikenal sebagai Kampung Jawa. Keunikan dari pembuatan tabuik ini adalah terlebih dahulu dilangsungkan semacam perang dengan melukai lawan hingga menimbulkan korban, tetapi setelah festival tabuik selesai warga yang berperang pun akan segera berdamai. Namun dalam Festival yang berlangsung beberapa tahun ini, ritual perang tersebut ditiadakan dan hanya digelar secara simbolik saja.

Karena festival ini sudah menjadi kalender pariwisata rutin di Pariaman, maka waktu untuk perayaannya juga disesuaikan dengan akhir pekan walaupun ritual awal tabuik ini tetap dimulai pada tanggal 1 Muharam.

[Baca: Sambut Bulan Muharram, Mengapa Masyarakat Jawa Menyebutnya ‘Suro’?]

Setidaknya ada tujuh tahapan ritual tabuik mulai dari mengambil tanah pada tanggal 1 Muharam, menebang batang pisang pada tanggal 5 Muharam, ritual mataam pada hari ke 7, mengarak jari-jari Husein pada malam harinya dan dilanjutkan esok harinya dengan mengarak sorban Husein keliling kota diiringi dengan gendang tasa. Tepat pada tanggal 10 Muharam ritual tabuik naik pangkat dilakukan dengan menyatukan dua bagian tabuik yakni dengan cara mengangkat tabuik yang terbuat dari rangka bambu dihiasi kain dan kertas tersebut.

Pada puncak acara, Tabuik yang tingginya mencapai belasan meter ini diarak di tengah kota dengan iringan gendang tasa dan sorak khas “Hoyak Tabuik”. Masyarakat memutar, menggoyang-goyangkan, dan perlahan membawa tabuik ke pantai untuk dibuang pada sore menjelang malam hari. Ritual ini melambangkan Buraq yang membawa jenazah Sayidina Husein telah terbang ke langit.

Selain ritual-ritual adat, selama acara tersebut Kota Pariaman juga mengadakan pameran dan bazaar budaya, seperti pakaian adat, miniatur tabuik, kuliner khas, kesenian, dan masih banyak lainnya yang bisa dinikmati.

 

[Baca: BUDAYA -– Mengintip Tradisi Jawa di Malam Kesembilan Bulan Suro]

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *