Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 20 July 2016

KHAS—Tembang Macapat Ungkap Sebelas Daur Hidup Manusia (Bagian Kedua)


Tembang Macapat

IslamIndonesia.id—Tembang Macapat Ungkap Sebelas Daur Hidup Manusia (Bagian Kedua)

 

Dalam tulisan terdahulu, Tembang Macapat Ungkap Sebelas Daur Hidup Manusia (Bagian Pertama), sudah kita bahas lima di antara sebelas macam Tembang Macapat; Maskumambang, Mijil, Kinanti, Sinom dan Asmarandana, dengan makna masing-masing.

Berikut ini enam macam Tembang Macapat yang akan kita bahas lebih lanjut. Apa saja?

***

Keenam, Gambuh.

Berasal dari kata jumbuh atau sarujuk yang berarti bersatu. Mengacu pada dua insan yang hatinya telah sama-sama ditumbuhi asmara maka harus segera disatukan dalam satu ikatan suci pernikahan, hidup berkeluarga. Karena dengan cara inilah yang akan menghindarkan kedua insan itu dari berbagai godaan dan gangguan. Pernikahan dan hidup berumahtangga itulah yang bakal menjadi pengendali dan pengarah tumbuhnya asmara itu, agar tetap dalam kerangka tatanan moral dan agama.

Periode ini dinilai sangat menentukan, karena muda-mudi yang sedang kasmaran ini dianggap sudah waktunya untuk membuat sebuah keputusan besar dalam hidup. Jika dia salah untuk menentukan pilihan, atau kesusu (terburu-buru) dalam mempertimbangkan, atau keliru dalam menentukan tujuan, maka yang akan ditemuinya kemudian, tak ada lain kecuali kesengsaraan dan kepedihan hidup.

Ketujuh, Dandanggula.

Dandanggula berarti tempat yang berisi gula. Menggambarkan kebahagian yang sangat. Bermakna tidak ada lain kecuali kebaikan. Oleh karena itulah tidak keliru jika Dandanggula ini menggambarkan kebahagiaan dan kegembiraan.

Dalam fase ini, sang anak telah menjadi orang tua. Semua yang diharapkan telah terwujud. Dari ketercukupan pangan, sandang, papan, keluarga dan momongan. Semua harapan terwujud. Gambaran masa tua pun menjadi sangat indah karena sudah direncanakan begitu rupa dalam kehangatan keluarga yang bersahaja.

Kedelapan, Durmo.

Berasal dari kata darma yang berarti memberi. Dengan perasaan ketercukupan maka akan tumbuh keinginan untuk berbagi kebahagian kepada sesama. Ini adalah tahap manusia menyempurnakan hidupnya. Ketika masih muda dan berjuang keras untuk hidup berkeluarga dan bahagia, dia selalu bergulat dengan persoalan yang menuntutnya selalu bersabar. Pada gilirannya semua sudah tercukupi, maka saatnya dia menyempurnakan kecukupannya dengan bersyukur kepada Gusti Allah Kang Maha Murah, melalui tindak berbagi, berderma kebaikan kepada sesama.

Kesembilan, Pangkur.

Berasal dari kata mungkur yang berarti berpaling atau menghindari kadunyan (keduniaan, cinta dunia). Pada masa tua jika tidak mampu memalingkan diri dari hawa nafsu dan angkara murka, maka tindak lakunya akan bubrah, alias tidak jelas. Karena semakin tua, keinginannya akan semakin aneh-aneh, sehingga banyak menuntut kepada dunia di luarnya, karena energi yang dimilikinya sendiri sudah banyak berkurang. Ini akan berakibat merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama anak-anak dan keluarganya. Disinilah mengapa kadang anak mantu tidak betah tinggal bersama dengan mertua.

Manusia dalam tahap ini harus berusaha memungkuri atau membelakangi kehidupan dunia. Obsesi-obsesi liarnya harus bisa ditaklukkan, dan berusaha memperbanyak amal budi untuk kehidupan berikutnya.

Kesepuluh, Megatruh.

Dari kata megat ruh, atau terputus nyawanya. Inilah akhir periode perjuangan manusia. Batas akhir dia bisa menambah amal atau memperbanyak taubat.

Megatruh juga bisa dimaknai sebagai sebuah tingkatan makrifat tertinggi, yaitu mati sa jroning urip, kemudian menjadi husnul khatimah di akhir kehidupannya. Ibarat kata pepatah, “Sejatine iku ora ana, seng ana iku dudu.”

Terputusnya ruh ini menjadi akhir sekaligus awal kehidupan. Akhir hidup di dunia dan awal kehidupan di alam yang baru. Jika terputus ruh, maka terputuslah semua pertalian manusia dengan dunia. Hanya tinggal iman, amal dan buah perbuatannyalah yang akan dibawa serta. Semua sudah bersifat ruhani.

Kesebelas, Pucung.

Ini adalah tahap akhir kehidupan manusia, yaitu dibungkus dengan kain mori dipocong untuk kemudian dikuburkan. Pocong memberikan pelajaran kepada manusia-manusia yang masih hidup, bahwa semua di dunia yang dahulu diklaim menjadi miliknya, ternyata tidak ada yang dibawa “pulang”, kecuali secarik kain mori yang membungkus dirinya. Hanya amal dan ibadahnya saja yang akan menemaninya dalam kehidupan mendatang, ketika dia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya. Begitulah manusia lahir dengan tidak membawa apa-apa, maka meninggal pun dengan tidak membawa apa-apa.

***

Itulah sebelas daur kehidupan yang pasti kita lalui. Dari dalam kandungan hingga mati berkalang tanah. Namun kondisi kita dalam setiap jenjang tidak mesti sama. Ada yang gembira ada yang sedih, ada yang berkecukupan ada yang kekurangan. Ada yang selamat, ada yang tersasar.

Setiap kita menginginkan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Lahir dari rahim yang sehat, dididik dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang, punya masa muda terarah, mendapatkan pasangan hidup saleh dan salehah, memiliki kehidupan keluarga yang bahagia, lalu “kembali“ kepada Gusti Allah dalam keadaan husnul khatimah.

Namun manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Karena tak mustahil, ada bayi yang dikandung tetapi tidak diinginkan. Berkali-kali berusaha digugurkan. Sudah lahir diterlantarkan, tidak dituntun, tidak dididik. Ketika anak sudah menggelandang, menjelang muda mulai berbuat onar dan kejahatan. Begitu berhasrat asmara, malah merusak pagar ayu orang lain dengan paksa. Saat tumbuh dewasa malah menjadi penggoda pasangan orang lain. Matinya pun karena terlalu banyak minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Bagaimanapun juga, perbedaan kondisi dan posisi yang kita sebut nasib itulah yang akan menjadikan roda kehidupan terus berjalan. Begitulah Tuhan menata hidup kita dalam hukum-hukumnya yang tak kasat mata namun berjalan begitu rapi.

Yang terpenting bukan kita menjadi seperti apa dalam setiap tahap kehidupan itu, namun seberapa besar usaha kita untuk selalu menjadi yang terbaik dalam setiap fasenya. Tidak terkecuali jika yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah tetap bertahan untuk tidak terjatuh dalam kemunduran.

Melalui sebelas tembang macapat itu, kita belajar kehidupan, bagaimana menjadi anak, bagaimana menjadi orang tua, dan lebih lagi bagaimana menjadi manusia. Berusahalah tetap berada dalam tingkat kesadaran dan kewaspadaan.

Hal ini sebagaimana piwulang Raden Ngabehi Ranggawarsita, seorang pujangga Jawa, dalam karyanya Serat Kalatidha, yang mewanti-wanti kita semua,

//Amenangi jaman edan/ ewuh aya ing pambudi/ milu edan ora tahan/ yen tan melu anglakoni/ boya keduman melik/ kaliren wekasanipun/ ndilalah karsa Allah/ begja-begjane kang lali/ luwih begja kang eling lan waspada// 

Piwulang yang jika diterjemahkan, kurang lebih adalah sebagai berikut:

//Menyaksikan zaman gila/ serba susah dalam bertindak/ ikut gila tidak akan tahan/ tapi kalau tidak ikut-ikutan (gila)/ tidak akan dapat bagian/ kelaparan pada akhirnya/namun telah menjadi kehendak Allah/ sebahagia-bahagianya orang yang lalai/ akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada//

Peringatan Ranggawarsita tersebut tentu sangat relevan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an kepada kita semua untuk selalu bersiaga, menjaga diri dan keluarga dari kerusakan hidup yang berbalas neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at Tahrim:6)

***

Orang bijak mengatakan bahwa salah satu kemahiran seorang menaiki kendaraan adalah berkait dengan penguasaan medan jalan. Semakin sering dia melalui jalan itu, maka semakin mahir dia memacu kendaraannya. Dalam kehidupan, tidak harus kita hidup dan mati berkali-kali untuk bisa menjalani hidup ini dengan benar, tenang, dan gembira. Menimba sebanyak-banyaknya pengalaman dari siapapun dan belajar menyerap ilmu dari beragam sumber apapun, adalah kunci bagi kita untuk semakin mengenal lebih dekat tentang hidup. Tak terkecuali melalui kearifan lokal, berupa warisan kebijaksanaan para leluhur sebagaimana yang terdapat dalam Tembang Macapat.

Akhirnya kita harus menyadari bahwa jiwa atau ruh kita, setidaknya akan melalui lima alam perpindahan, yaitu alam barzah, alam rahim, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat.

Dengan pemahaman itu kita mesti sadar bahwa sejatinya kehidupan di dunia yang kita lalui dengan susah payah ini, hanyalah satu episode dari beberapa episode hidup kita. Namun satu episode itulah yang akan menentukan kondisi dan nasib kita pada episode-episode berikutnya. Jika baik perilaku kita di dunia, maka nikmat pula penerimaan kita kelak. Mungkin itulah sebabnya, para pinisepuh kerap berpesan kepada kita agar jangan pernah “main-main” dengan kehidupan di dunia ini. Karena disini, ibarat musafir, kita mung mampir ngombe, hanya sekadar numpang ngaso sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang ke rumah asal, ke kampung akhirat nan penuh keabadian.

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa berkenan memberikan karunia taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dengan menunjuki kita jalan-Nya yang lurus.

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *