Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 17 July 2016

KHAS—Tembang Macapat Ungkap Sebelas Daur Hidup Manusia (Bagian Pertama)


Tembang Macapat Ungkap Daur Hidup Manusia

IslamIndonesia.id—Tembang Macapat Ungkap Sebelas Daur Hidup Manusia (Bagian Pertama)

 

Tembang Macapat dan Pujangga Jawa

Macapat adalah sejenis tembang atau puisi tradisional, yang meski dapat pula ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, Palembang dan Banjarmasin, namun tetap saja lebih dikenal luas sebagai hasil karya para pujangga Jawa. Karena itulah macapat, dalam lidah orang Jawa diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yang secara sederhana mengacu pada cara membaca tembang per empat suku kata. Beberapa karya kesusastraan klasik Jawa yang ditulis para pujangga Jawa menggunakan metrum macapat ini di antaranya adalah Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Kalatidha dan Serat Wirid Hidayat Jati.

Seperti kita ketahui, masyarakat Jawa adalah masyarakat sangat hierarkis yang sejak lama telah mengenal strata sosial yang terdiri dari keluarga kerajaan, abdi dalem, sampai wong cilik. Meski pada masa kita sekarang batasan hierarki itu tak lagi sekentara dulu, tapi tetap saja tidak sama sekali hilang. Artinya, penghormatan kepada seseorang karena kedudukan dan status sosialnya masih sangat kuat pengaruhnya di kalangan masyarakat Jawa.

Dalam hierarki masyarakat Jawa semacam inilah para pujangga memiliki tempat terhormat dan kedudukan khusus serta status sosial yang cukup terpandang. Kenapa demikian?

Karena di antara keluarga kerajaan (penguasa dan kaum bangsawan), abdi dalem dan rakyat biasa, ada satu ruang penghubung yang mesti diisi oleh orang-orang mumpuni dan menguasai dua ujung komunikasi sekaligus, ke bawah dan ke atas; ke bawah untuk menemukan, menggali dan meramu aspirasi, sedangkan ke atas, adalah kepiawaian dalam menyampaikan dengan sistematis suara-suara yang berasal dari bawah. Inilah ruang yang hanya dapat diisi oleh para pujangga tersebut. Dan karena posisi strategisnya itulah, mereka pun beroleh tempat terhormat di kalangan masyarakat Jawa.

Di sisi lain, menjadi pujangga Jawa ternyata memang tak mudah. Karena siapapun yang ingin dirinya diakui sebagai pujangga, dia harus memiliki kekuatan lahir dan batin atau setidaknya mesti menguasai delapan kecakapan standard yang dipersyaratkan dalam berkarya:

Pertama, parameswara atau ahli dalam bahasa dan sastra.

Kedua, paramengkawi atau ahli dalam penciptaan sastra.

Ketiga, awicarita atau ahli dalam merangkai cerita secara mengesankan.

Keempat, mardawa lagu atau ahli dalam urusan tembang dan gending.

Kelima, mardawa basa atau ahli dalam merangkai bahasa sehingga menghanyutkan pembaca.

Keenam, mandraguna atau ahli dalam merangkai ilmu.

Ketujuh, nawungkridha atau peka perasaannya sehingga mampu menangkap maksud orang lain.

Kedelapan, sambegana atau sempurna hidupnya.

Maka dengan terpenuhinya delapan kecakapan itulah, karya-karya pujangga Jawa—tak terkecuali juga macapat, kemudian tak hanya dianggap pantas menjadi piwulang atau pelajaran berharga bagi masyarakat luas, tapi juga dapat dinikmati sebagai karya sastra atau tembang dengan gubahan bahasa dan irama yang indah menyentuh kalbu.

Begitu pun ketika macapat berkembang pada era masuknya pengaruh Islam melalui para Sunan, yang hampir kesemuanya merupakan pribadi-pribadi mumpuni dan dikenal telah menguasai kedelapan kecakapan standard sebagai pujangga, tak heran jika karya-karya mereka yang sarat warna dan nilai-nilai Islam pun pada akhirnya menjadi salah satu media dakwah paling utama dan berpengaruh di tengah masyarakat Muslim Jawa kala itu.

Tembang Macapat dan Daur Hidup Manusia

Ada sebelas tembang macapat yang kesemuanya melambangkan daur hidup manusia, sejak dalam kandungan sampai berbungkus kain kematian. Inilah karya brilian, kearifan lokal bernilai tinggi dan sekaligus tuntunan aplikatif dari para pujangga yang dianggap sangat berguna dalam mengajarkan nilai-nilai etika, budi luhur dan tata cara hidup bermasyarakat di kalangan kaum Muslim Jawa.

Apa saja kesebelas tembang macapat yang dimaksud?

Pertama: Maskumambang.

Tembang ini melambangkan bayi yang masih ada dalam kandungan. Mas berarti jabang bayi yang belum diketahui dengan jelas jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan karena masih kumambang, masih belum lahir, masih dalam kandungan.

Ini adalah masa awal persiapan manusia hidup di dunia, ketika kedua orang tuanya sangat berperan menyangkut kualitas si jabang bayi. Perilaku orang tua ketika sang bayi masih dalam kandungan, sedikit banyak akan membawa pengaruh kepada kualitas dan sifat sang anak kelak.

Kedua: Mijil.

Mijil berarti kelahiran, yaitu lahirnya jabang bayi ke alam dunia. Inilah masa ketika bayi dalam kondisi paling lemah tapi sekaligus paling berkuasa, sehingga semua orang di sekitarnya harus mau melayani semua kebutuhannya. Inilah tantangan terberat orang tua, yang harus mampu menangkap, tanggap atau sasmita dengan kemauan dan keadaan si bayi. Secara tidak sadar, pada masa inilah hubungan batin antara anak dan orang tua itu mulai dibangun.

Dalam penafsiran lain yang lebih kontemporer, mijil dapat dimaknai pula sebagai lahirnya sebuah gagasan. Sehingga lahirnya gagasan cemerlang itu bukan akhir, melainkan permulaan, yaitu mula atau awal untuk merealisasikannya. Ini mengajarkan kita untuk tidak hanya pintar bicara, namun juga dituntut mampu mewujudkan apa yang kita bicarakan.

Ketiga: Kinanti.

Berasal dari kata kanthi atau tuntun. Artinya, untuk bisa menghadapi dunia, seorang yang masih kecil harus dituntun, diajari dan dididik. Tentu tidak untuk menjadi seperti ayah maupun ibunya, namun menjadi dirinya sendiri yang memiliki satu garis edar kehidupannya sendiri.

Tembang ini pun memberikan tuntunan bahwa orang tua sebagai guru utama sang anak, harus mampu mengenalkan kepada anak-anaknya tentang hakikat rasa, benda-benda, dan peristiwa, bukan hanya sekadar mengenalkan nama-nama dan identitas. Pada masa inilah mesti mulai diajarkan tentang dasar-dasar agama, moral dan ilmu pengetahuan. Inilah masa ketika orang tua, keluarga dan lingkungan sangat menentukan kuat atau tidaknya pondasi agama, moral, dan ilmu serta ketahanan mental sang anak.

Keempat: Sinom.

Berarti masa enom atau muda. Masa muda adalah masa paling potensial untuk ngudi atau menuntut ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya untuk bekal masa depan. Pada masa inilah mesti ditanamkan cita-cita untuk bisa diraih dengan kesungguhan.

Tembang ini mengingatkan, karena masa ini merupakan masa ketika anak muda ingin memuaskan rasa penasarannya, namun pertimbangan-pertimbangannya sering masih kurang matang, maka peran terpenting orang tua selain memberikan dorongan adalah mengarahkan anak-anaknya agar tak terjerumus pada jalan dan pilihan salah yang bakal merugikan kehidupannya.

Kelima: Asmarandana.

Artinya, tumbuhnya rasa cinta atau asmara kepada lawan jenis, sebagai fitrah yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap manusia. Cinta yang dituntun dengan moral dan keimanan akan menjadi cahaya penerang, atau jalan keluar dari keruwetan hidup. Cinta semacam itulah yang akan mampu menjadi penabur kemaslahatan bagi dunia.

Tembang ini mengajarkan bahwa asmara yang tumbuh dengan perawatan yang benar akan menghasilkan keselamatan, kehormatan, kemuliaan dan kebahagiaan. Namun jika asmara itu dibiarkan tumbuh liar, maka dia akan menjadi bumerang yang justru akan membuahkan keruwetan, kehinaan dan kenistaan, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar.

(Bersambung….)

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *