Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 13 July 2016

KHAS—Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa (Bagian 2)


Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa (Bagian 2)

IslamIndonesia.id—Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa (Bagian 2)

 

Pada tulisan sebelumnya, Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa (Bagian 1) sudah kita bahas makna tersirat yang terkandung dalam angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0.

Dalam pembahasan tersebut setidaknya sudah kita temukan jawaban atas pertanyaan: kenapa angka 1 mesti diletakkan paling depan, sedangkan 0—berbeda dengan kelaziman yang selama ini kita kenal, justru ditempatkan di urutan paling belakang?

Tak lain karena manusia Jawa berpandangan bahwa kehidupannya ini tidak akan berarti apa-apa jika mereka menempatkan kedaulatan dan kemahaan Tuhan Yang Maha Esa di belakang kehidupannya yang tak berarti alias kosong tersebut.

Lalu bagaimana halnya dengan angka-angka selanjutnya? Berikut ini penjelasannya.

Angka Welasan

Jika dalam bahasa Indonesia, kita mengenal penyebutan dua puluh satu untuk angka 21, apa sebab angka 11 tidak disebut dengan sepuluh satu? Kenapa angka tersebut justru diucapkan dengan “sebelas”, mirip “sewelas” dalam penyebutan angka Jawa?

Dalam bahasa Jawa, angka 11 tidak disebut sebagai “sepuluh siji”, tapi sewelas; 12 bukan “sepuluh loro”, tapi rolas; 13 pun bukan “sepuluh telu”, tapi telulas; 15 bukan “sepuluh limo”, tapi limolas dan seterusnya sampai dengan angka 19 yang tidak disebut sebagai “sepuluh songo”, melainkan disebut dengan songolas. Sedangkan angka 20 disebut “rong puluh” atau “kalih doso” (kalih = dua, doso = sepuluh/puluh).

Mengapa dalam angka Jawa, muncul sebutan welasan?

Secara filosofis, hal itu ternyata dilatarbelakangi oleh pemahaman dan kepercayaan orang Jawa bahwa pada umur di atas 10 tahun, atau tepatnya umur 11 sampai dengan 19 tahun bagi kebanyakan manusia, adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (kasih sayang) dan cinta dalam jiwanya, terutama kasih sayang dan cinta terhadap lawan jenis. Itulah rentang usia ketika seseorang telah memasuki masa akil balig atau masa remaja.

Angka Likuran

Jika dalam bahasa Indonesia urutan penyebutan bilangan mulai dari angka 21 diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, dan begitu seterusnya sampai dengan angka 29, maka dalam bahasa Jawa justru terjadi “ketidaklaziman”. Karena angka 21 tidak disebut sebagai “rongpuluh siji’, tapi selikur; angka 22 tidak disebut “rongpuluh loro”, tapi rolikur dan seterusnya sampai dengan 29 yang disebut songo likur, kecuali angka 25 yang disebut dengan selawe.

Apa makna satuan likur dalam hal ini?

Ternyata likur itu adalah singkatan dari “lingguh kursi”, sebuah perumpamaan yang berarti “duduk di kursi”. Karena orang Jawa paham dan percaya bahwa pada rentang usia antara 21 sampai dengan 29 tahun itulah manusia pada umumnya sudah mendapatkan “tempat duduk” atau lebih tepatnya “kedudukan” dalam arti beroleh pekerjaan tetap dan sudah seharusnya memilih profesi yang jelas, yang layak ditekuni dalam kehidupannya sehari-hari. Inilah pesan moral dari para orang tua di Jawa kepada anak-anak mereka agar senantiasa memiliki semangat dalam mempersiapkan masa depannya, dan giat bekerja demi kehidupan terbaik sebagaimana yang diharapkan. Tentu saja tanpa melupakan pemenuhan kriteria terbaik dalam memilih pekerjaan tersebut, terutama dalam hal halal dan haramnya. Karena pilihan itulah yang akan menentukan nasib kita, baik di dunia saat ini maupun di akhirat kelak.

Kenapa Angka 25 disebut “Selawe”?

Ada hal menarik pada angka 25 yang meskipun terdapat dalam deretan angka likuran tapi tidak disebut limo likur, melainkan selawe. Apa makna dari penyimpangan penyebutan angka 25 ini?

Ternyata sebutan selawe itu merupakan singkatan dari seneng-senenge lanang lan wedok (senang-senangnya pria dan wanita). Artinya, pada usia 25 tahun itulah manusia rata-rata berada pada puncak asmaranya. Tak heran, di kalangan masyarakat Jawa, tahapan hidup dadi manten atau pernikahan antara pria dan wanita, biasanya dilangsungkan pada kisaran usia selawe ini. Meski tak semua orang Jawa menikah tepat pada umur 25 tahun, tapi di antara usia 21 sampai dengan 29 tahun itulah biasanya pernikahan banyak dilangsungkan. Hal ini juga terkait dengan pemahaman bahwa pada umur 21 sampai dengan 29 tahun ketika kedudukan dan pekerjaan yang layak sudah mampu diperoleh itulah, yang dianggap oleh orang Jawa sebagai rentang usia terbaik untuk menikah. Terutama bagi kaum pria, yang nantinya harus bertanggungjawab penuh dalam mencukupi kebutuhan keluarganya saat sudah berumahtangga.

Kenapa Angka 50 disebut “Seket”?

Jika penyebutan angka 30 dengan telung puluh, 40 dengan patang puluh, sampai dengan 49 yang disebut patang puluh songo, dapat dikatakan masih normal sesuai pola urutan, tapi ada yang ‘tak lazim” atau terjadi penyimpangan lagi pada penyebutan angka 50. Alih-alih disebut dengan limang puluh, angka 50 dalam bahasa Jawa justru disebut dengan istilah seket.

Apa makna di balik sebutan seket tersebut?

Lagi-lagi, ternyata kata seket itu pun merupakan singkatan. Tepatnya singkatan dari kalimat “seneng kethunan”  yang berarti suka memakai kethu. Kethu dalam bahasa Jawa mengacu pada penutup kepala yang kita kenal dengan sebutan lain songkok, peci atau kopiah.

Apa hubungan antara umur 50 tahun dengan kopiah atau kethu? Karena orang Jawa percaya bahwa pada umur 50 tahun itulah penanda usia lanjut bagi kebanyakan manusia, dan tutup kepala atau kopiah merupakan lambang dari semua itu.

Pesan moralnya adalah, dengan senang memakai kethu (seneng kethunan) itulah manusia Jawa yang sudah berusia lanjut hendaknya makin taat beribadah sebagai upaya mempersiapkan bekal yang cukup dalam menyongsong kehidupan abadinya di akhirat kelak.

Kenapa Angka 60 disebut “Sewidak”?

Seperti halnya angka 50 yang tidak disebut “limang puluh” tapi seket, angka 60 pun tidak disebut “nem puluh”, melainkan sewidak.

Apa sebenarnya arti sewidak?

Sewidak ternyata adalah singkatan dari “sejatine wis wayahe tindak yang artinya: sejatinya sudah saatnya pergi. Pergi yang dimaksud di sini adalah pergi ke haribaan Yang Maha Kuasa atau ke rahmatullah.

Karena di usia 60-an inilah seseorang sudah dapat dikatakan berusia makin lanjut dan semestinya kepribadiannya menjadi kian matang, lebih berhati-hati dalam hidup dan tak lupa pula makin lebih banyak bersyukur, karena karunia usia selebihnya ibarat bonus tambahan dari Gusti Allah. Keinsyafan ini mengacu pada usia rata-rata “pergi” atau wafatnya manusia pada umumnya, yakni di usia 60-an tahun sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad saw. Maka sudah selayaknya bila pada umur 60 tahun itu, setiap manusia mesti bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini, dengan bekal yang cukup bagi kehidupan akhiratnya nanti.

***

Itulah sekilas makna filosofis di balik penamaan atau penyebutan angka-angka Jawa, yang jika dicermati secara saksama, dapat kita temukan hikmah mendalam yang telah ditanamkan oleh para leluhur kita yang cerdas dan bijaksana di baliknya.

Upaya leluhur yang demi kebaikan dan keselamatan kita, para anak cucunya, telah merangkumkan pesan-pesan tauhid dan moral atau akhlakul karimah di balik angka Jawa, sungguh patut kita hargai dan teladani.

Semoga kita semua mampu mengambil sebesar-besar manfaat dari saripati perenungan mendalam para leluhur ini bagi kehidupan kita, karena sejatinya semua itu ternyata sarat dengan nilai-nilai utama dalam ajaran agama kita.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *