Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 10 July 2016

KHAS—Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa (Bagian 1)


Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa

IslamIndonesia.id—Falsafah Tauhid dan Akhlakul Karimah di Balik Angka Jawa (Bagian 1)

 

Secara umum, selama ini kita mengenal urutan angka atau bilangan, yang biasanya dimulai dengan 0 (nol) sampai dengan 9. Tepatnya, 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Sedangkan angka 10, tidak berdiri sendiri sebagai kelanjutan dari 9, karena 10 sejatinya dianggap bukan bilangan mandiri sebagaimana 0, 1, 2, 3, dan seterusnya sampai dengan 9, melainkan merupakan gabungan dari angka 1 dan 0.

Tapi berbeda 180 derajat dengan kebiasaan dan pakem lazim tersebut, mengapa penyebutan dan pengurutan angka atau bilangan Jawa justru dimulai dari angka 1 dan berakhir dengan 0 (nol). Yakni, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0?

Apakah hal itu hanya perbedaan biasa alias tanpa makna istimewa di baliknya? Atau justru sebaliknya, leluhur bangsa Jawa yang dikenal cerdas dan bijaksana bahkan sudah secara sadar dan bersengaja, mampu menyelipkan pesan moral dan tuntunan sikap hidup mulia (akhlakul karimah) bahkan pada angka-angka Jawa tersebut bagi anak keturunannya hingga ke masa kita saat ini?

Mari kita telusuri satu per satu, makna-makna tersembunyi di balik pengurutan tak lazim angka-angka Jawa tersebut.

Mengapa Mesti Dimulai dengan Angka 1 dan Layak Diakhiri dengan 0?

Deretan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0 yang dalam Bahasa Jawa dilafalkan dengan Siji, Loro, Telu, Papat, Limo, Nem, Pitu, Wolu, Songo, dan Nul ini, konon dianggap erat kaitannya dengan ihwal ketuhanan dan kehidupan manusia. Bagaimana penjelasannya?

Angka 1 yang disebut Siji atau Setunggal sama artinya dengan EsaEka, Ika, dan Tunggal, merujuk pada makna Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Angka 2 yang disebut Loro, Roro atau Kalih ini sama artinya dengan Dwi, mengacu pada makna dua yang menyatu dan melambangkan keseimbangan; ibarat raga manusia yang sempurna dengan adanya dua Tengen (tangan), Sikil (kaki), Kuping (telinga), dan Mripat (mata) atau Netra (penglihatan), diimbangi keberadaan jiwa yang sempurna dengan adanya sikap dan watak Panembah (penghormatan) dan Bekti (pengabdian).

Angka 3 yang disebut Telu atau Tigo ini sama artinya dengan Tri, terkait erta dengan makna tiga kehidupan; yakni alam roh atau kandungan, alam dunia dan alam akhirat.

Angka 4 yang disebut Papat atau Sekawan ini sama artinya dengan Catur, yang berhubungan dengan makna kreatifitas, kecerdasan, kerta dan kemenangan.

Angka 5 yang disebut Limo atau Gangsal ini sama artinya dengan Panca, yang bermakna kekuatan diri, Astra atau kesaktian, dan Tumata atau ketertataan, ketertiban dan keteraturan.

Angka 6 yang disebut Nem ini bermakna Rasa atau empati dan simpati, Sad atau kesederhanaan, Bremana atau kearifan dan kebijaksanaan, serta Anggata yang berarti berilmu atau terpelajar.

Angka 7 yang disebut Sapta ini bermakna hukum dan Sinangga yang terkait dengan kesadaran untuk menjaga dan menjunjung tinggi derajat, martabat dan kehormatan.

Angka 8 yang disebut Wolu ini bermakna Asta atau kebajikan, Manggala yang berarti pembesar dan terhormat, Salira yang berarti berwujud atau berbentuk, serta Naga sebagai perlambang atau simbol kewibawaan.

Angka 9 yang disebut Songo ini bermakna Nawa, yang erat kaitannya dengan semangat dan simbol kemuliaan, Hanggatra atau kesempurnaan, dan juga Bunga, perlambang keindahan.

Dan terakhir, 0 yang disebut Nul ini bermakna Ilang atau hilang, Sirna atau musnah, Sonya atau kosong, Hening atau tidak ada apa-apa, dan Pungkasan yang berarti akhir.

Lalu bagaimana halnya dengan angka 10 yang biasa disebut dengan Sepuluh atau Sedoso? Tak kalah dengan bilangan lainnya, angka ini dalam falsafah Jawa juga memiliki makna yang mendalam.

Sebagai bilangan jejadian yang terdiri dari gabungan angka 1 atau Siji yang berarti awal, dan 0 atau Nul  yang berarti akhir, dengan sendirinya juga berarti penegasan bahwa tidak ada angka lain sebelum angka 1 atau Siji dan tidak ada angka lain pula sesudah 0  atau Nul, melainkan sesudah itu pasti akan kembali lagi ke 1 atau Siji.

Itulah mengapa angka 1 atau Siji  kemudian dianggap sebagai pengibaratan tentang hakikat Tuhan yang Satu dan Maha Segalanya, sedangkan 0  atau Nul bermakna kekosongan dan kefakiran total dari segenap makhluk ciptaan-Nya.

Maka angka 10 inilah yang dalam pandangan falsafah Jawa dinilai sebagai lambang dari segala kesempurnaan dan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, sejatinya nilai kesempurnaan itu adalah 10. Sehingga segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi serta segala isinya ini—andaikata kita mampu sebutkan semuanya satu demi satu, itu pun hanya akan berarti 0 atau kosong, tidak akan berarti apa-apa di hadapan Yang Satu, yakni Tuhan.

Itu pula sebabnya, kenapa angka 1 mesti diletakkan paling depan, sedangkan 0 sudah selayaknya ditempatkan di urutan paling belakang. Tak lain karena manusia Jawa berpandangan bahwa kehidupannya ini tidak akan berarti apa-apa jika mereka menempatkan kedaulatan dan kemahaan Tuhan di belakang kehidupannya yang tak berarti alias kosong tersebut.

Demikianlah falsafah angka Jawa mengajari kita bahwa makhluk fana seperti kita akan menjadi tak berarti apa-apa bila tak mau mengikuti kehendak Tuhan. Karena itulah maka kita pun mesti hidup dengan senantiasa mengedepankan aturan Tuhan yang disimbolkan dengan angka 1 atau Siji, selaku satu-satunya pemimpin dan pembimbing dalam menjalani kehidupan kita.

Inilah prinsip keimanan dan ketauhidan sejati kepada Tuhan Maha Esa yang sejak dahulu kala sudah diwariskan oleh para leluhur kita, dan sudah sepatutnya pula kita dalami substansi hikmahnya untuk bekal mengarungi kehidupan kita di masa kini dan masa mendatang.

Wallahu ‘a’lam..

 

Bersambung…

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *