Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 04 October 2016

KHAS—Benarkah Ritual Sakral Suro Tergolong Lelaku Syirik seperti Kata Wahabi?


benarkah-ritual-sakral-suro-tergolong-lelaku-syirik-seperti-kata-wahabi

IslamIndonesia.idBenarkah Ritual Sakral Suro Tergolong Lelaku Syirik seperti Kata Wahabi?

 

Bulan Suro adalah bulan pertama dalam kalender Jawa. Secara lugas maknanya adalah merupakan tahun baru menurut penanggalan Jawa. Para pemegang tradisi Jawa  hingga kini masih memiliki pandangan bahwa bulan Suro merupakan bulan sakral.

Berikut ini sekilas paparan arti bulan Suro secara maknawi.

Tradisi dan kepercayaan Jawa melihat bulan Suro sebagai bulan sakral. Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam (batin), konon sepanjang bulan Suro aura mistis dari alam gaib begitu kental melebihi bulan-bulan lainnya. Tetapi sangat tidak bijaksana apabila kita buru-buru menganggap kepercayaan yang demikian sebagai bentuk paham syirik dan kemusyrikan. Karena anggapan seperti itu umumnya timbul disebabkan kurangnya  pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya.

[Baca: Sambut Bulan Muharram, Mengapa Masyarakat Jawa Menyebutnya ‘Suro’?]

Musyrik atau syirik berkaitan erat dengan cara pandang batiniah dan suara hati, jadi sulit menilai hanya dengan melihat manifestasi perbuatannya saja.  Jika musyrik dan syirik diartikan sebagai bentuk penyekutuan Tuhan, maka judgement terhadap tradisi bulan Suro itu  jauh dari kebenaran, alias tuduhan tanpa didasari pemahaman yang jelas dan berisiko melahirkan tindakan pemfitnahan. Biasanya anggapan musyrik dan syirik muncul karena mengikuti trend atau ikut-ikutan pada perkataan seseorang atau sekelompok orang dari kalangan Salafi Takfiri atau Wahabi, yang mengaku penjaga kemurnian agama, gemar mengkafirkan dan  membid’ahkan amalan dan tradisi leluhur, yang oleh sebagian golongan dinilai secara dangkal layak menjadi panutan. Padahal tuduhan itu jelas merupakan kesimpulan yang bersifat subyektif dan mengandung stigma, dan sikap menghakimi secara sepihak.

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos, bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang bersimbiosis mutual, saling mengisi, mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta sebagai upaya memanifestasikan rasa syukur akan karunia terindah dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Sehingga manusia bukanlah segalanya di hadapan Tuhan, dan dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia tidak seyogianya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai makhluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos Javanisme bahwa akal-budi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat memuliakan  manusia tetapi di sisi lain justru sebaliknya akan menghinakan manusia, bahkan lebih hina dari binatang, maupun makhluk gaib jahat sekalipun, jika manusia tidak mampu menempatkannya secara benar sesuai kehendak Tuhan.

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan bumi ini berikut seluruh isinya untuk dimanfaatkan umat manusia.

Dalam tradisi Jawa yang dianggap paling klenik sekalipun, prinsip dasar yang sesungguhnya tetaplah  percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itulah kenapa di setiap awal atau di akhir setiap kalimat doa dan mantra selalu diikuti kalimat; saka kersaning Gustisaka kersaning Allah. Semua media dalam ritual, hanya sebatas dipahami sebagai media dan kristalisasi dari simbol-simbol doa semata. Doa yang ditujukan sejatinya hanya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Prinsip tersebut memproyeksikan bahwa kaidah dan prinsip religiusitas ajaran Jawa tetap jauh dari kemusyrikan maupun syirik yang menyekutukan Tuhan.

Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tipikal tradisi Jawa kental akan penjelajahan wilayah gaib sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia terhadap lingkungan alam dan seluruh isinya. Lingkungan alam dilihat memiliki dua dimensi, yakni fana, wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Lingkungan alam tidak sebatas apa yang tampak oleh mata, melainkan meliputi pula lingkungan yang tidak tampak oleh mata (gaib).

Boleh dikatakan pemahaman masyarakat Jawa akan lingkungan atau dimensi gaib sebagai bentuk “keimanan“ (percaya) kepada yang gaib. Bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa, unsur kegaiban tidak hanya sebatas diyakini atau diimani saja, tetapi lebih dari itu seseorang dapat membuktikannya dengan bersinggungan atau berinteraksi secara langsung dengan yang gaib sebagai bentuk pengalaman gaib. Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa dimensi gaib merupakan sebuah realitas konkret. Hanya saja konkret dalam arti tidak selalu dapat dilihat oleh mata kasar, melainkan konkret dalam arti Jawa yakni termasuk hal-hal yang dapat dibuktikan melalui indera penglihatan maupun indera batiniah.

Meskipun demikian penjelasan ini mungkin masih sulit dipahami bagi pihak-pihak yang belum pernah samasekali bersinggungan dengan hal-hal gaib. Sehingga cerita-cerita maupun kisah-kisah gaib dirasakan menjadi tidak masuk akal, sebagai hal yang mustahal, dan menganggap pepesan kosong belaka.

Pendapat demikian tentu sah-sah saja, sebab tataran pemahaman gaib memang tidak semua orang dapat dengan mudah mencapainya. Yang merasa mampu memahami pun belum tentu dapat bersinggungan dengan realitas gaib yang sesungguhnya.

Sementara agama  di sisi lain, kerap hanya sebatas memaparkan yang bersifat universal, garis besar, dan tidak secara rinci. Maka perincian mendetail tentang eksistensi alam gaib, merupakan rahasia ilmu Tuhan Yang Maha Luas. Meski demikian, tetap saja kita yakin bahwa Tuhan Maha Adil tetap memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengetahuinya walaupun sedikit namun dengan syarat-syarat yang berat dan tataran yang tidak mudah dicapai, kecuali dengan izin-Nya.

Dengan kearifan dan pemahaman yang demikian, masih beralasankah kengototan kaum Takfiri Wahabi yang menganggap ritual masyarakat Jawa di bulan Suro itu sebagai suatu perilaku berkategori syirik atau menyekutukan Tuhan?

 

[Baca: Ditanya Tabiat Wahabi, Ini Jawaban KH Maimoen “Mbah Moen” Zubair]

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *