Satu Islam Untuk Semua

Friday, 01 April 2016

WAWANCARA—Olivier Roy: Tidak Benar Radikalisasi Muncul Akibat “Terlalu” Islami


olivier-roy-peneliti-jihad-prancis-

WAWANCARA—Olivier Roy: Tidak Benar Radikalisasi Muncul Akibat “Terlalu” Islami

Olivier Roy adalah salah satu peneliti kondang Prancis yang telah menggeledah gerakan-gerakan ektremis dan jihadis Islam di Eropa selama puluhan tahun.  Banyak media dan lembaga Eropa yang menjadikannya sebagai narasumber dalam bidang ini. Namun, yang mengejutkan, Roy sama sekali tidak percaya Islam berkaitan dengan terorisme. Dia mengingatkan semua pihak agar berhati-hati dalam mengaitkan Islam dengan terorisme.

Menurutnya, mengacu pada beberapa fakta rangkaian aksi teror di Paris dan Brussels belakangan ini, yang terjadi justru adalah sebaliknya: para teroris ini telah kehilangan ikatan dengan Islam tradisional dan tercebur dalam budaya pop yang mengagungkan kekerasan dan sadisme. Katanya, profil para pelaku teror itu memperlihatkan remaja yang terputus dari generasi orangtua mereka. Dalam banyak kasus, orangtua mereka benar-benar terhenyak saat diberitahu apa yang telah dilakukan oleh anak-anak mereka.

Berikut adalah petikan wawancara Oliver Roy dengan Michaela Wiegel dari koran liberal Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung yang biasa disingkat FAZ yang terbit 26 Maret 2016 dengan judul “Radikalisierung ist keine Folge gescheiterter Integration” (Radikalisasi bukan Akibat dari Integrasi yang Gagal).

——————————————————————————–

Michaela Wiegel: Tuan. Roy, apakah Anda melihat hubungan antara terorisme dan kegagalan integrasi komunitas-komunitas pendatang di Eropa?

Olivier Roy: Saya tidak melihat radikalisasi Islam sebagai akibat dari suatu integrasi yang gagal. Itu hanya masalah sepele. Banyak remaja yang mengibarkan bendera jihad justru merupakan remaja yang sangat terintegrasi dalam masyarakat (Barat). Mereka berbicara bahasa Prancis, Inggris dan Jerman dengan sempurna. ISIS mendirikan sebuah batalion bagi para anggota yang berbahasa Prancis persisnya karena para pemuda Prancis dan Belgia itu nyaris tak mampu berbahasa Arab. Jadi, masalahnya bukan karena kurangnya atau gagalnya suatu integrasi budaya.

Meski telah memisahkan diri dari masyarakat sekitar, namun para jihadis Eropa itu tetap setia penuh pada gaya dan model Barat. Ini nihilistik, yang sama sekali tidak sesuai dengan tradisi Islam. Dalam banyak kasus mereka ini mengidap keterpesonaan pada estetika dan indahnya kekerasan dari film-film dan video-video yang mereka tonton (di Barat). Dari pembacaan ini, mereka lebih mirip dengan para siswa yang mengamuk di Columbine High School (di Amerika Serikat tahun 1999 yang merenggut 12 nyawa siswa dan seorang guru—penerjemah) atau (pelaku pembunuhan massal) Anders Behring Breivik (asal Nowegia yang melenyapkan sekitar 77 nyawa warga—penerjemah).

Michaela Wiegel: Jadi imigrasi dan jihadisme tidak saling berkaitan?

Roy: Bagi saya, persentase yang cukup besar dari mualaf merupakan indikator yang menarik. Tidak ada dalam budaya Muslim lain di dunia ini organisasi seperti ISIS yang memiliki anggota 25 persen berasal dari kaum mualaf. Jadi, penjelasan kultural tidaklah cukup untuk menjelaskan apa yang menjadikan ISIS sedemikian menariknya. Lebih dari itu, remaja yang tak memiliki jejak imigrasi juga tertarik pada ide jihad.

remaja-isis-kecanduan-kekerasan

Michaela Wiegel: Lantas bagaimana Anda menjelaskan ajakan para teroris kepada Islam?

Roy: Saya tidak menyangkal adanya dimensi agama di sini. Dimensi agama ini penting karena ia membuka peluang para jihadis itu untuk menafsirkan ulang nihilisme mereka dengan suatu janji surga. Aksi bunuh diri mereka menjadi jaminan bagi kehidupan abadi. Saya hanya ingin menekankan bahwa para pemuda ini tidak berasal dari komunitas Muslim. Bagian terbesar remaha itu tidak punya pendidikan agama dan nyaris tak pernah berkunjung ke masjid. Hampir semua juga pernah melakukan kejahatan ringan. Mereka juga umumnya meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.

Michaela Wiegel: Apa peran masa lalu kolonial Eropa dalam konteks ini?

Roy: Pandangan pos-kolonial sayap kiri tidaklah memadai untuk menjelaskan soal ini. Menurut saya, radikalisasi Islam ini tak bisa ditautkan dengan kebijakan luar negeri masa kini maupun kejahatan-kejahatan kolonial masa lalu. Para pemuda radikal ini tak pernah berbicara soal perang di Aljazair, sekalipun nenek moyang mereka mungkin datang dari sana. Pada umumnya mereka tidak tahu menahu soal itu.

Michaela Wiegel: Mengapa banyak kakak-adik yang melakukan jihad?

Roy: Mereka ini adalah remaja yang ingin memisahkan diri secara radikal dari generasi orangtua mereka. Orangtua mereka tidak membina dan membimbing mereka dengan budaya Islam. Dengan menjadi radikal, mereka ingin memandang diri mereka sebagai Muslim yang lebih baik dibanding orangtua mereka. Orangtua di Eropa mengutuk anak-anaknya yang ikut berjihad, tidak seperti orang-orang tua Palestina yang umumnya menyetujui aksi kekerasan anak-anak mereka. Para orangtua Eropa menyatakan: ‘Saya tak mengerti apa yang mendorong putra atau putri saya melakukannya.’ Konflik baru antar generasi juga sedang berlangsung di sana. Ini juga menjelaskan mengapa sering sekali kakak-adik, umumnya saudara lelaki, yang memutus hubungan dengan orangtua mereka. Para petarung ISIS adalah anggota generasi yang sama, saudara atau teman masa kecil.

serangan-brussels

Michaela Wiegel: Jadi, menurut Anda, para teroris ini muncul akibat suatu konflik generasi yang begitu keras?

Roy: Kebanyakan jihadis adalah mereka yang bisa disebut sebagai “born again” (menemukan kembali akar agamanya); dengan Islam radikal, mereka mendapatkan sambungan hidup yang baru. Itulah mengapa sangat jarang sekali jihadis yang merupakan bagian dari generasi pertama masyarakat pendatang. Generasi itu masih hidup dalam suatu keyakinan Islam yang tradisional. Sejak generasi kedua pendatang itulah suatu keterputusan dengan masa lalu itu terjadi, karena pendidikan dan pembinaan nilai dan ajaran agama (Islam tradisional—penerjemah) itu tidak lagi berjalan. Kebanyakan teroris itu berasal dari generasi kedua komunitas pendatang.

Michaela Wiegel: Jadi, apakah Anda setuju dengan Perdana Menteri (Prancis)  Manuel Valls, yang menentang perdebatan ihwal tumbuhnya lahan subur terorisme?

Roy: Tidak, sebaliknya: saya ingin menyumbang perdebatan soal lahan subur ini. Valls saat ini sedang mencumbui populisme; dia telah berpindah dari kiri dan menjadi lebih otoritarian dan anti-intelektual. Lahan subur terorisme itu harus diteliti. Yang mengherankan saya, saya kian sering bekerjasama dengan para psikologis dan psikoanalis. Perilaku gemar mengambil risiko di kalangan remaja meningkat pesat, diikuti oleh keterpesonaan pada bunuh diri dan kekerasan. Kita harus lebih banyak memperhatikan dimensi ini.

Michaela Wiegel: Apakah Anda melihatnya sebagai fenomena umum di kalangan remaja?

Roy: Ya. Di Italia, misalnya, dua anak remaja membunuh sebayanya. Saat ditahan, satu-satunya alasan di balik perbuatan itu tak lain karena mereka ingin merasakan pengalaman membunuh. Media menyebut mereka anak-anak gila. Tapi, jika kedua anak remaja itu berteriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan aksinya, pers akan mempersepsi mereka sebagai teroris.

Michaela Wiegel: Peneliti Islam yang juga berasal dari negeri Anda, Gilles Kepel, menuding Anda meremehkan dimensi Islam dalam terorisme.

Roy: Fakta bahwa dia kecewa itu pertanda baik–artinya dia mulai memahami pendapat-pendapat saya. Dia tidak suka saya menunjukkan dimensi psikologis dalam soal ini. Namun, menurut saya, kita sangat perlu mengambil pendekatan multidisipliner dalam menelusuri fenomena radikalisasi Islam.

AJ/Islam Indonesia/Sumber: http://www.faz.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *