Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 03 January 2017

VIDEO – Puisi Renungan “Tahun Baru” dari Gus Mus


video-puisi-renungan-tahun-baru-dari-gus-mus

islamindonesia.id— Puisi Renungan “Tahun Baru” dari Gus Mus

 

KH Ahmad Mustofa Bisri (72) atau lebih sering disapa dengan panggilan Gus Mus, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Leteh, Rembang dan pernah menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Disamping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair.

Kali ini puisi atau syairnya disampaikan melalui resolusi pergantian tahun. Berbagai pesan disampaikan di dalam video berikut ini. Apa saja isi pesan tersebut?

Berikut ini Puisi Renungan dari Kyai Ahmad Mustofa Bisri.

Tahun Baru

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri
Bercermin firman tuhan
Sebelum kita dihisab-Nya

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya
Musliminkah
Mukminin
Muttaqin
Khalifah Allah
Umat Muhammadkah kita?
Khaira ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain
Atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak-budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa
Kita khusyuk di depan massa
Dan tiba-tiba buas dan binal
Justru saat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug
Atau pernyataan setia pedawai rendahan saja
Kosong tak berdaya

Shalat kita rasanya lebih buruk daripada senam ibu-ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda
(Doa kita sesudahnya jauh lebih serius
Kita memohon hidup enak di dunia
dan bahagia di sorga)

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal
Makan-minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika datang lapar atau haus
Kita pun manggut-manggut
O, beginikah rasanya…
Dan kita sudah merasa
Memikirkan saudara-saudara kita yang melarat

Zakat kita jauh lebih berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya
Untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan harapan pun tanpa ukuran
Hubaya-hubaya Tuhan menggantinya berlipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri
Mencari pengalaman spiritual dan material
Membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci
Asli made in Saudi: Haji

Kawan, lalu bagaimana bilamana dan berapa lama
Kita bersama-Nya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas
Mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifah-Nya

Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah
Mempercepat proses kematangan kita
Paling tidak kita semakin pintar berdalih

Kita perkosa alam dan lingkungan
Demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan

Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketenteraman
Membiarkan kemunkaran demi kedamaian

Pendek kata demi semua yang baik
Halallah semua sampai pun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai
Penyambung lidah nabi?
Jangan ganggu mereka!

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi
nasib dan persoalan mereka sendiri

Kawan, Selamat Tahun Baru
Belum juga tibakah saatnya
Kita menunduk
Memandang diri sendiri.

 

[Baca juga: Gus Mus: Orang Beriman, Jalani Hidup di antara Cemas dan Harapan]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *