Satu Islam Untuk Semua

Monday, 30 January 2017

Tiga Peristiwa Mengejutkan Buntut Kebijakan Kontroversial Trump


Tiga Peristiwa Mengejutkan Buntut Kebijakan Kontroversial Trump

islamindonesia.id – Tiga Peristiwa Mengejutkan Buntut Kebijakan Kontroversial Trump

 

Pasca dilantik sebagai Presiden AS ke-45, Donald Trump mengeluarkan beberapa kebijakan kontroversial yang menuai protes dan kecaman dari banyak pihak, baik di luar maupun di dalam negerinya sendiri.

Dua di antara rencana Trump adalah membangun sistem registrasi khusus umat Muslim, baik bagi warga negara maupun calon warga negara atau imigran yang akan memasuki AS. Selain itu, Trump juga mengumumkan pembatasan imigrasi dari tujuh negara dengan populasi mayoritas Muslim dari Timur Tengah dan Afrika, yang oleh beberapa kalangan hal ini dinilai dapat mempengaruhi program pengungsi. Adapun ketujuh negara yang dicekal Trump adalah Suriah, Irak, Iran, Libya, Sudan, Somalia dan Yaman. Alasannya, karena mereka dicurigai memiliki hubungan kuat dengan terorisme.

[Baca: Calon Menlu AS ini Tolak Ide Diskriminatif Trump terhadap Warga Muslim]

Di sisi lain, beberapa peristiwa tak kalah mengejutkan yang mengiringi keputusan Trump, mungkin layak untuk dicermati. Karena sebagaimana diketahui, dalam pergaulan internasional selama ini, apa yang menjadi keputusan AS, biasanya kerap berpengaruh bagi hubungan antara negara-negara di dunia.

Apa saja peristiwa yang terjadi pasca pelantikan dan kebijakan kontroversial Trump? Berikut beberapa di antaranya.

Peristiwa pertama, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat era pemerintahan Presiden Bill Clinton, Madeleine Korbel Albright, menyatakan siap untuk “mendaftar sebagai Muslim”.

Albright mengakui bahwa keputusannya itu sebagai upaya menggalang solidaritas menanggapi laporan bahwa Presiden Donald John Trump, yang atas nama hukum, berencana untuk memaksa seluruh warga Muslim AS mendaftar dan memperlihatkan status agama mereka.

“Aku dibesarkan sebagai Katolik dan keluargaku keturunan Yahudi. Saat ini aku siap mendaftar sebagai Muslim di tagar #solidarity,” kata Albright, 79 tahun, dalam cuitannya di Twitter pribadinya, seperti dikutip situs Russia Today, Kamis, (26/1/2017) lalu.

Meski usianya tak lagi muda, perempuan berdarah Ceko ini tetap bersemangat untuk mengekspresikan pikirannya dan mengatakan bahwa AS harus tetap menjadi negara terbuka bagi semua, baik dari suku, ras, agama maupun latar belakang.

Mengacu pengalamannya sebagai politisi dan diplomat, Albright dengan bangga menyebut dirinya adalah seorang imigran. “Aku lahir bernama Marie Jana Korbelová di Republik Ceko,” ujarnya.

Peristiwa kedua, kebakaran besar yang melanda Masjid Victoria di Texas, Amerika Serikat, pada Sabtu (28/1/2017) pukul 02.00 dini hari waktu setempat, yang meski belum diketahui pasti dalang dari peristiwa tersebut, ternyata mengundang simpati luar biasa dari warga.

Tak hanya warga Victoria namun warga Texas juga mengutuk pembakaran rumah ibadah umat Muslim tersebut. Presiden Islamic Center of Victoria, Shahid Hashmi, mengatakan, pihaknya menerima santunan sebesar US$600 ribu-US$850 ribu (Rp 8,04 miliar-Rp11,4 miliar) hanya dalam waktu 24 jam.

Sumbangan dikirim melalui situs ‘GoFundMe’ milik Islamic Center of Victoria. “Kami sangat terkejut ketika kami melihat hari Sabtu pagi masjid ludes terbakar,” kata Hashmi kepada Al-Jazeera, Senin (30/1/2017).

Ia juga berterima kasih kepada seluruh warga yang bersedia mendonasikan uangnya untuk membangun kembali masjid. “Ini sangat luar biasa, dan kami sangat berterima kasih,” tambahnya.

Sebelum insiden terjadi, Hashmi baru saja menghadiri pertemuan dengan perwakilan pemuka agama Yahudi dan Kristen serta masyarakat setempat. Ia pun berharap kebakaran ini bukan dari hasil kejahatan rasial.

Insya Allah, kita akan merayakan Ramadan tahun ini dengan masjid yang baru,” kata Hashmi, yang sudah tinggal di Victoria selama 32 tahun. Sementara, Dinas Pemadam Kebakaran Victoria mengatakan investigasi kebakaran masjid yang berdiri pada 2000 ini sedang berlangsung.

Meskipun masih belum jelas apakah masjid ini dibakar dengan sengaja atau tidak, John Esposito dari Bridge Initiative, mengungkapkan bahwa kejahatan kebencian terhadap Muslim meningkat tajam sejak Donald John Trump dilantik sebagai Presiden AS ke-45.

“Beberapa kasus kejahatan kebencian yang menargetkan Muslim terinspirasi oleh presiden baru kita,” tutur Esposito merujuk pada kebijakan Trump.

Sebelumnya, pada 21 Januari lalu, seorang pelaku masuk ke masjid tersebut kemudian mencuri laptop dan barang elektronik lainnya.

Peristiwa ketiga, adalah aksi tiga orang bersenjata yang melakukan penembakan secara brutal di sebuah masjid di kota Quebec, Kanada. Insiden itu terjadi saat salat Isya pada Minggu malam, 29 Januari waktu setempat. Lima orang –seperti diungkapkan The Guardian, pada Senin (30/1/2017) –  dilaporkan tewas seketika dan beberapa luka-luka dalam serangan senjata tersebut.

Disebutkan bahwa penembakan dilakukan oleh tiga orang penyerang dan terjadi saat jamaah sedang menjalankan salat Isya sekira pukul 20.00 waktu setempat. Saat kejadian, dilaporkan ada sekitar 40 orang diduga berada di dalam Pusat Kebudayaan Islam di kota Quebec di Sainte-Foy Street tersebut.

Aparat kepolisian setempat menyatakan bahwa dua dari tiga pelaku telah ditangkap, dan penjagaan keamanan ketat dilakukan di sekitar lokasi pascapenembakan.

“Pelaku penembakan sudah ditangkap. Saat ini kami sedang melakukan olah tempat kejadian perkara,” kata Polisi Quebec.

Itulah tiga peristiwa yang terjadi di AS terkait keluarnya kebijakan kontroversial Donald Trump.

[Baca: Gara-gara Trump, Jarum Jam Kiamat Bergerak ke 2,5 Menit Jelang Tengah Malam]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *