Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 01 November 2016

Tanggapan Cak Nun Soal Demo 4 November


cak-nun-baca-bicara-sastra

islamindonesia.id – Tanggapan Cak Nun Soal Demo 4 November

 

Dalam sesi dialog Lesehan Bahasa dan Sastra di Yogyakarta (31/10), salah seorang hadirin bertanya kepada Emha Ainun Najib soal siapa sebenarnya yang berhak menafsirkan Al-Qur’an pasca-wafatnya Rasulullah Saw. Ia lalu mengaitkan pertanyaannya dengan Habib Rizieq yang sebagian orang meyakininya layak menafsirkan Al-Qur’an termasuk soal Al Maidah 51. Sedemikian sehingga pemuda ini pun mempertanyakan kembali harus tidaknya patuh pada instruksi petinggi Front Pembela Islam ini untuk turun demo 4 November nanti.

“Sebagai makhluk yang diberi bonus potensi akal oleh Allah, manusia  berwenang menafsirkan Al-Qur’an karena memang kitab petunjuk ini diturunkan untuk mereka semua,” kata Emha mengawali tanggapanya atas kontroversi tafsir Al-Maidah 51 yang disinggung pemuda itu.

[Baca – Soal Al-Maidah 51, Cak Nun: Yang Bilang Gubernur Itu Pemimpin Siapa?]

Bahwa ada yang tafsirnya keliru atau tidak sama satu sama lain, bagi pria yang akrab disapa Cak Nun ini, tidak ada masalah. Adapun soal ketaatan, jangankan Habib Rizieq, setiap orang diberi kebebasan untuk memilih taat pada Rasulullah Saw atau tidak. Dan tentunya masing-masing pilihan memiliki konsekuensi atau resiko.

“Anda juga tidak taat pada Habib Rizieq tidak ada masalah. Siapa bilang harus taat pada Habib Rizieq? Siapa bilang harus taat pada saya?” katanya.

Lepas dari siapa yang harus ditaati, penulis ‘Surat Kepada Kanjeng Nabi” ini pun mengingatkan bahwa kita seharusnya tidak lupa taat pada keputusan diri sendiri atas apa yang telah kita tafsirkan dari kandungan Al-Qur’an itu.

Menyinggung pernyataan Nusron Wahid di forum ILC, Cak Nun menambahkan, “Yang tahu mutlak Al-Qur’an hanya Allah. Manusia tidak dituntut tahu mutlak terhadap Al-Qur’an. Manusia tahu secara relatif. Karena itu tafsir melahirkan aliran-aliran.”

[Baca:  SOROTAN – Apakah Tafsir Al-Maidah 51 yang Dikutip Ahok?]

Jika selama ini orang sibuk dengan tafsir, Cak Nun pada malam itu menawarkan konsep  “tadabbur Al-Qur’an”. Selain keduanya memiliki perbedaan pendekatan pada Al-Qur’an, tadabbur  memiliki “dampak akhlak” bagi seseorang dalam kehidupannya dibanding tafsir. Siapa saja bisa menafsirkan Al-Qur’an sesuai tingkat pemahamannya, meski setelah itu tafsirnya tak berdampak apapun bagi kehidupannya. Sekali lagi, Cak Nun menggarisbawahi bahwa tafsir – karena relatif – pasti melahirkan perbedaan, bahkan benturan.

“Anda juga berhak menafsirkan Al-Qur’an. Bahwa (tafsir Anda) tidak benar, tidak ada masalah. Wong bukan Allah, bukan Rasulullah,” kata cendekiawan Muslim yang juga dikenal sebagai budayawan kondang ini.

Dampaknya juga pada perbedaan pandangan soal demo 4 November yang juga dianggap lahir dari Al-Maidah 51. “Ada yang ikut tanggal 4 silahkan, ada yang tidak ikut silahkan,” kata pria kelahiran Jombang ini sembari menegaskan dirinya tidak ingin terlibat pada konflik “2 kubu” ini.

Kembali Cak Nun  mengingatkan bahwa masalah ikut atau tidak dalam demo 4 November bukan lagi pertimbangannya sebatas persoalan Al-Maidah 51. “Tapi lebih luas dari itu. Ada konteks yang berlipat-lipat.”

Bagi Cak Nun, yang di Jakarta berhak demo tanggal 4 November sebagaimana pihak yang melawan demo itu juga memiliki hak. Karena itu, dalam menyikapi perbedaan ini, agar tidak terjadi pertengkaran hingga saling bunuh, Cak Nun mengajak menjaga diri masing-masing. Apalagi, terjadinya pertumpahan darah akibat perbedaan tafsir adalah fakta tak terhindarkan dalam sejarah kehidupan umat manusia ini.

“Jadi Anda berhak menafsirkan apa saja tentang diri saya, sebagaimana saya berhak untuk menafsirkan diri Anda apa saja.”

Sikap ini memang bisa saja berujung pada pertengkaran,”Dan memang begitulah hidup itu sejak Nabi Adam. Mesti berbeda pendapat. Maka kuncinya, apakah Anda mengaku jujur pada diri sendiri ketika mengalami perbedaan dengan orang lain.”

cak-nun-jamaah-sastra

Jika ditanya lalu siapa yang benar, Cak Nun menjawab tentunya Yangmaha Benar, yaitu Allah. Dan jawaban ini katanya telah dijelaskan di kajian rutin Maiyah. Salah satunya, Cak Nun menyindir orang-orang yang selalu merasa paling benar sendiri untuk tidak usah shalat lagi. Karena dalam shalat, tiap orang harus membaca “tunjukilah kami jalan yang lurus”.

“Hidup manusia berposisi doa, berposisi belum atau sedang (berusaha mencapai kebenaran yang sejati). Sedang berjuang sepanjang hidup hingga hijrah melalui maut, untuk mendapatkan ridha Allah.”

Dari pantauan Islam Indonesia, selain dihadiri oleh Cak Nun, Malam Puncak Bahasa dan Sastra ini juga dihadiri oleh sejumlah sastrawan senior seperti Imam Budhi Santosa dan Musthafa W Hasyim. Di depan hadirin yang memadati gedung Grahana Whana Bakti Yogyakarta ini, Cak Nun dan sastrawan lainnya melakukan dialog  seputar bahasa, kata dan makna dari berbagai sudut pandang. Di sela-sela forum, pria 63 tahun ini juga mempersembahkan sejumlah puisi seperti “Apa Ada Angin di Jakarta?” yang kemudian dinyanyikan oleh Novia Kolopaking bersama Kiai Kanjeng.

novia-screen-sastra

Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Punama telah dilaporkan sejumlah ormas termasuk FPI dalam kasus Al Maidah 51. Sejauh ini, menurut Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian, penyelidik  telah memintai keterangan sejumlah saksi, ahli, dan pelapor dalam dugaan penistaan agama ini. Namun salah satu pelapor, yakni perwakilan dari FPI, telah diundang untuk hadir oleh penyelidik tetapi belum datang.

“FPI minta ditunda, minta Selasa atau Rabu (pekan ini). Padahal, kami maunya cepat (usut kasus Ahok),” kata Kapolri Tito di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Senin (31/10). []

 

[Baca – Pemeriksaan Kasus Ahok, Kapolri: Kami Maunya Cepat, FPI Minta Ditunda]

 

YS / islam indonesia

 

10 responses to “Tanggapan Cak Nun Soal Demo 4 November”

  1. hafzen says:

    Oalah cak sampean memang orang yang memutarbalikkan logika, bersyair memutar balikkan yg sudah jelas.. Yg jelas setiap ucapan arah dan tujuan membuat ambigu membuat tak mendasar , seperrtinya memberikan jln lurus menyiapkan pula jalan bengkoknya.. Logika sampean tidak mencapai ilmu Allah, sukanya membuat cerita mengada ngada

    • Ali says:

      Hafzen.baiknya anda diam dan baca 10 x biar anda mengerti..sebab yg bisa memahami ucapan beliau adalah org yg paham kehidupan dan ilmu agama..sedang anda saya rasa perlu banyak belajar lagi..

    • sri mulyani says:

      Salut ama kyai kanjeng EAN, tidak mudah terpengaruh oleh emosi dan hawa nafsu saiton. ini baru kyai yg arif

  2. hafzen says:

    Oalah cak sampean memang orang yang memutarbalikkan logika, sesuatu yg sudah jelas di kaburkan ,. Yg jelas setiap ucapan arah dan tujuan membuat ambigu membuat tak mendasar , seperrtinya memberikan jln lurus menyiapkan pula jalan bengkoknya.. Logika sampean tidak mencapai ilmu Allah, sukanya membuat cerita mengada ngada lalu mangajak ke logika yg dikaburkan..

  3. Ali says:

    Hafzen..otak klo sudah terbalik tdk akan bisa faham ..malah menuduh orang yg memutar balikkan ..padahal ia sendiri yg terbalik.. Saran saya ..anda belajar lagi

  4. Wahyu says:

    Salut sama cak ainun najib.. ilmu yg tinggi dlam kasta ilmu di duni ma’ripat billah.

  5. rahmanvigo says:

    U/ sdr Hafzen, sy sarankan sdr belajar ilmu balaghah dan mantiq, insyaAllah dpt mencairkan bebalnya otak, spy terbantu bs memahami apa yg di hujjahkan oleh cak nun tersebut

  6. markusep says:

    Owalah Hafzen, sepertinya logika sampean yang tidak “nutut”, jd gagal faham deh..belajar lagi ya..

  7. eko soesanto says:

    Setuju cak…

  8. Harry Moeljopawiro says:

    Oallah hafzen kamu itu cah wingi sore kok ngomentari kyai dalam lurus, lha kamu itu Shahadat saja belum lulus, mknya sinau lg dan cari guru yg bener spy jadi org yg bener juga, sakno…sakno..bocah iki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *