Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 16 August 2015

SURAT DARI BAIJI – Catatan Perang Pejuang Muda Sunni Melawan ISIS (3)


shia-militia-iraq-hashd-shaabi-baiji-blog

Bagian 3

Dawa’esh [jamak dari kata Da’esh/ISIS] berteriak pada kami dari belakang berikade mereka setiap hari, “Keluar kalian dari tanah Muhammad” dan beberapa kelompok gerombolan bersenjata di Baghdad mengirim kepl salah satu keluarga tentara Hashd AlShaabi ancaman yang mengatakan “Keluar kalian dari tanah Ali”.

Dan beberapa milisi Kurdish, yang juga secara resmi mendapat dukungan, setelah mengetahui bahwa Anda adalah bagian dari serdadu Hashd, bakal berujar pafa Anda dan keluarga Anda “keluarlah dari tanah PKK”.

Lalu Anda akan bingung, mana tragedi yang harus diselesaikan lebih dulu. Kami terjebak dalam kebingungan, karena setiap hari kami mendengar berita eksekusi para pengkhianat karena mereka menjadi agen untuk tanah Khuraafa, dan salah satu dari pengungsi di provinsi tertentu telah ditemukan dibuang dipinggir jalan, seolah-olah tubuhnya adalah anjing liar dan tidak hidup dan bernafas layaknya manusia. Dan dengan setiap bagian dari berita yang membicarakan kematian, terasa salah satu bagian dari tubuh Anda yang sudah mati kembali menemui kematiannya!

Di balik berikade akan Anda temukan tempat yang mewadahi mereka. Di belakangnya lagi, ada segala mineral mahal dan murah yang menjadikan mereka seperti saat ini; Anda temukan dari apa mereka terbuat, di balik kantong pasir barikade. Dan sangat jarang tentara memasuki barikade pasir tanpa membuktikan bahwa emas adalah salah satu mineral yang membuatnya maju (tanpa pembuktian kemampuannya).

Mungkin kekuatan dan kilauannya bersinar lebih dari sebelumnya ketika kota ini dibebaskan dan penduduknya dapat kembali dengan aman.

Yang baik dan yang buruk hidup memenuhi seantero bumi.

Kadang kala Anda akan menemukan dalam sebuah rumah dua orang saudara; satu baik dan satu buruk.

Senjata dari pengecut adalah pengkhianatan dan kebohongan. Tapi penanda dari pahlawan adalah peluru dan debu yang menutupi wajah mereka, dan darah yang jadi parfum bagi tubuhnya.

Di ujung lereng yang memisahkan kami dari posisi musuh, aku berdiri dan bertanya pada kekalahan masa lalu sambil bersedih, karena kami terkejut dengan banyaknya tragedi yang berdatangan. Pada akhirnya setiap orang ditakdirkan menghadapi penderitaan.

Mata apa yang dapat menemukan kedamaian sekarang, dan mulut apa yang dapat menggambarkan senyuman. Di sana, kami buang meditasi dan kami tawarkan perpisahan pada arwah orang yang kita cintai. Renungan Anda sering membiarkan Anda terbuka pada keanehan dan rasa tidak bersalah dari kebodohan. Anda mulai merindukan kebaikan spontanitas dari anak-anak tanpa kesadaran, dan Anda mengingat kemurnian hati yang telah lama tidak bersama Anda. Wahai insomnia, dari mana Anda membawa semua pikiran ini? Maukah kau jauhi semua ini demi diriku?

Wahai ombak, saya berbicara kepadamu, tingkatkan kekuatanmu, dan wahai hati, pijaklah emosiku yang tidak terkendali. Wahai ketenangan alam semesta, bukankah ini waktumu memasuki diri manusia dan membuat peristiwa besar?

Di tengah kabut yang menutupi pikiranku itu, aku sering bertanya, ”Kenapa?”

Mengapa kita mati? Mengapa kita berjuang, membunuh dan dibunuh?

Dimana kebenaran dan mana kebenaran yang kalah? Doa yang mana yang terjawab dan kemunafikan mana yang dihancurkan?

Aku ingat selalu perkataan bahwa kebenaran telah dipandang rendah dan dicemooh oleh masa, sering dibicarakan tapi jarang diterapkan.

Kemanusiaan telah digiring menuju ruang pembakaran mayat, dengan tubuh dan pikiran yang kosong. Tapi suara peluru membawa Anda sadar kembali ketika Anda terjebak pada iramanya dan di antara hujan mortir.

Hari ini aku selesaikan bulan pertamaku ikut pasukan, dan di sini saya berharap untuk menyelesaikan bulan keduaku. Terik musim panas tiba seperti biasanya, dan bersamanya datang fatamorgana yang tercipta setiap kali kita melihat ke arah musuh. Penjagaan kami tingkatkan sepanjang malam untuk tetap waspada dari pelaku bom bunuh diri yang menyelinap melewati semak-semak yang mengitari tempat kita.

shia-militia-iraq-hashd-shaabi-baiji-diary-1024x345

Salah satu pos kami di seberang sungai diserang dari sisi Sungai Al-B’ayji. Sebuah kelompok pendukung pergi untuk menahan serangan di sana. Yasser, 25 tahun adalah salah satu yang pertama tiba di sana. Dia melihat seorang martir dan dua tentara terluka, tergeletak di tanah. Semua orang menyuruhnya untuk menjauh dari bidikan musuh penembak jitu yang sudah bersiap pada posisi, tapi ia tidak bisa hanya menyaksikan rekan-rekannya tergeletak cedera. Ia pun berlari ke sana, dan saat ia melebarkan tanganya untuk membantu mereka, sniper menembak dadanya. Dia berbaring di tanah bersama mereka, dan mengucap kata-kata terakhirnya yang menegaskan keyakinannya pada Allah dan Sang Nabi. Dan saat ia mengucapkan kata-kata terakhir itu, sniper mengakhiri hidupnya dengan menembak peluru di kepalanya.

Saya ingat ketika saya bertemu denganya sehari sebelum kejadian, dan kami berbicara tentang kedatangannya kesini, dan sejak kapan ia telah tiba. Dia bilang kalau dia akan mengakhiri satu bulan pengabdiannya dalam dua hari ke depan, lalu ia akan mengambil cuti singkat, karena besarnya kerinduan untuk melihat ibu dan istrinya. Dia mengatakan bahwa dia sudah menikah kurang dari setahun yang lalu.

Yasser Alqaysi telah meninggal, pemuda santun, pahlawan yang sukarela dalam jajaran Hashd Al-Shaabi bersama dengan suku-nya. Dia perga tanpa melihat ibunya, istrinya, tanpa melihat sisa keluarganya.

Di atas tubuh martir di salah satu masjid berdiri teman-temannya, sementara air mata menolak untuk berhenti jatuh. Tidak satupun berbicara, karena jiwa mereka berpura-pura tidak terluka, agar semangat terjaga dari kehancuran. Kemudian Hatem berbicara dan berkata, “jangan putus asa, karena hari ini adalah gilirannha, dan besok adalah giliran salah satu dari kita yang hadir disini. Kuatkan diri kalian, agar tidak melemahkan rekan lainnya. Tetap jaga semangat yang tinggi dan perketat keinginanmu, sehingga kekuatanmu tetap utuh dan musuh tidak mengambil keuntungan dari kelemahanmu dan menghinamu dengan itu”.

Pada saat itu saya teringat film “The Last Castle”, seolah-olah ia adalah salah satu pahlawan dalam film itu. Kami menghubungi keluarga martir, yang mengungsi di Kirkuk, yang kemudian berpesan agar kami menguburnya di kuburan sukunya; Tal Baddaah.

Baca: SURAT DARI BAIJI – Catatan Perang Pejuang Muda Sunni Melawan ISIS (2)

(Ami/digital-resistance.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *