Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 08 September 2016

SOROTAN–Reaksi Kalut Kalangan Wahabi atas Muktamar Chechnya


gg

IslamIndonesia.id – Reaksi Kalut Kalangan Wahabi atas Muktamar Chechnya

 

Ulama dan media Saudi akhirnya bereaksi atas penyelenggaraan Muktamar ‘Siapakah Ahlusunnah Wal Jamaah?’ yang dihadiri lebih dari 200 ulama dunia di Chechnya (25/8) lalu. Channel teve Safa milik Arab Saudi, misalnya, menuding muktamar yang dihadiri Syekh Al Azhar Mesir itu sebagai provokasi dan hasutan yang berbahaya.

“Semua teroris di Indonesia Wahabi. Beginilah sikap kurang ajar yang terang-terangan (disampaikan ketua umum PBNU) akibat Muktamar di Chechnya. Ini merupakan hasutan untuk menutup 20 pesantren Salafi,” kata jaringan TV Safa melalui akun resminya dengan mengunggah koran Indonesia yang menyinggung ajaran para ulama kerajaan Saudi itu.

 

photo_2016-09-07_19-59-12

Sembari menyebut Rusia dan Iran sebagai aktor di balik muktamar itu, Ulama Saudi Muhammad Ali Saud menuding pertemuan ulama di Chechnya itu bertujuan “untuk mengeluarkan Kerajaan Saudi dari Ahlu Sunnah wal Jamaah,” katanya seperti dikutip arabic.cnn.com (1/9).

Ulama Saudi lain, Khalid Al Saud, menyebut pertemuan ulama Aswaja di Chechnya itu sebagai pernyataan terang terhadap manhaj Salafi. Dalam akun twitternya, Khalid mencuitkan sebagai berikut: “Dengan sangat ringkas saja: Muktamar Chechnya adalah pernyataan perang terhadap manhaj Salaf, akedah tauhid dan sunnah.”

whatsapp-image-2016-09-07-at-4-22-22-pm

Mencoba menengahi ragam tanggapan yang muncul, Syekh Yusuf Qardhawi mengatakan, “Kita butuh Salafi yang Sufi, dan Sufi yang Salafi. Kita lembabkan keringnya Salafi dengan spiritualitas- tasawuf dan kita keraskan kelembekan tasawuf dengan disiplin Salafi,” kata cendekiawan Muslim asal Mesir itu via akun Twitternya.

whatsapp-image-2016-09-07-at-5-30-26-pm

Pandangan Qardhawi pun ditolak tegas oleh ulama Salafi Wahabi Abdullah Al-Faifi dengan tanggapan, “Salafi adalah mengikuti Salaf yang saleh dalam spirit dan disiplin–meminjam perkataan Anda. Ia bukan mazhab baru yang dapat dianggap sejajar dengan tasawuf.”

Seperti diketahui, Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) belakangan ini sering diklaim oleh kelompok garis keras yang menganggap dirinya paling benar sendiri. Klaim ini kemudian membingungkan publik dan berakibat pada saling lempar tuduhan yang tidak produktif di tengah-tengah umat.

Para ulama di muktamar Chechnya pun menegaskan bahwa Aswaja adalah Asyariah dan Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak—sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya.

“Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah), dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya dalam menjaga jiwa dan akal, menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil, menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia.”

(Baca juga: Hasil Muktamar “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah?” di Chechnya)

Jika pun ada mazhab di luar kategori di atas, Guru Besar Al Azhar Mesir Syekh Ali Jum’ah mengingatkan, bahwa Aswaja tidak mengkafirkan siapa pun yang mengaku sebagai Muslim. Penegasan ulama kelahiran Mesir ini juga menjadi pembeda antara Aswaja dengan kelompok radikal atau ekstrimis.

“Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram),”  kata Syekh Ali dalam sambutannya di muktamar.

(Baca juga: Guru Besar Al-Azhar: Aswaja Tidak Mengkafirkan yang Shalat Menghadap Kiblat)

Karena itu, para ulama juga menggarisbawahi bahwa Aswaja bukanlah yang mengusik keamanan dan kenyamanan masyarakat di sekitarnya.

“Gelombang pertama yang sesat dan membahayakan itu adalah Khawarij klasik hingga sampai pada Neo-Khawarij saat ini dari kalangan Salafi Takfiri dan ISIS serta semua kelompok radikal yang meniti jalan mereka yang memiliki kesamaan, yaitu distorsi, pemalsuan dan interpretasi bodoh akan ajaran agama ini.”

(Baca Juga: Syekh Al-Azhar: Haram Meneteskan Darah, Merampas Harta dan kehormatan Muslimin)

Di Indonesia, nahkoda ormas Aswaja – Nahdatul Ulama – KH. Aqil Sirajd tanpa tedeng aling-aling menyebut semua teoris di tanah air merupakan ‘alumnus’ Wahabi.

“Ada 20 pesantren, semuanya Wahabi. Wahabi memang bukan teroris tapi ajarannya ekstrem. Kita ini semuanya dianggap bid’ah dan musyrik karena menurut mereka Maulid Nabi itu bid’ah, Isra’ Miraj bid’ah, ziarah kubur musyrik, haul musyrik, dan semuanya masuk neraka. Kami khawatir murid mereka memahami kalau begitu boleh dibunuh dong orang ini karena kerjaannya musyrik semua,” kata Kang Said dalam pertemuannya bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Surabaya, (1/9). []

(Baca juga: PBNU: Semua Teroris di RI Wahabi)

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *