Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 16 August 2016

SOROTAN—Dampak Buruk Over Dosis Belajar Bagi Anak, Ini Kata Psikolog UI Bunda Romi


Dampak Buruk Over Dosis Belajar Bagi Anak, Ini Kata Bunda Romi

IslamIndonesia.id—Dampak Buruk Over Dosis Belajar Bagi Anak, Ini Kata Psikolog UI Bunda Romi

Dunia pendidikan Indonesia kembali dihebohkan oleh gagasan sistem pendidikan Full Day School (FDS) yang diusulkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Alasannya, tak lain agar anak tak melakukan hal negatif dan tidak merasa kesepian di rumah ketika orangtuanya masih bekerja. Pendidikan dengan sistem ini mengharuskan anak belajar di sekolah dari sekira pukul 7 pagi sampai dengan pukul 5 sore.

Gelombang pro-kontra dari berbagai pihak pun seolah tak dapat dibendung. Ide itu dinilai prematur dan dikhawatirkan tak bakal berjalan efektif karena kurangnya persiapan baik dari pihak sekolah, para guru maupun siswa sendiri.

Psikolog UI Bunda RomiSaat dimintai komentarnya terkait durasi belajar anak, Rose Mini, psikolog senior dan dosen di Universitas Indonesia menyatakan bahwa sebenarnya anak sudah memiliki porsi belajarnya sendiri-sendiri bila mereka diharapkan tumbuh cerdas.

Menurut wanita yang akrab disapa Bunda Romi ini, durasi belajar anak balita tak boleh lebih dari 1,5 jam di dalam kelas. Sementara anak usia awal masuk SD sebaiknya tak boleh lebih dari 3 jam dan anak usia menjelang akhir SD cukup 5 jam. Sedangkan untuk anak usia SMP dan SMA dapat menyesuaikan. Hal ini perlu diperhatikan para orangtua dan guru, karena para anak juga perlu waktu yang cukup untuk beristirahat. Selain itu, mereka juga perlu diberikan ruang privasi untuk mengeksplorasi beberapa kemampuan yang ada dalam dirinya.

“Anak perlu waktu untuk istirahat. Toh kegiatan mereka itu sebenarnya juga bisa digabung antara bermain sambil belajar kan?. Kegiatan bermain anak misalnya congklak, itu kan ada strategi menghitung. Intinya, cari permainan menyenangkan yang sekaligus bisa dijadikan sebagai sarana belajar,” jelasnya.

Bunda Romi pun mengingatkan, agar orangtua tak perlu memaksakan anak belajar. Jika ingin mengulang pelajaran yang baru saja dipelajari di sekolah, sebaiknya gunakanlah cara-cara kreatif.

“Enggak usah deh, ngulang persis pelajaran yang didapat anak dari sekolah. Pertama, cek saja bukunya atau minta anak menjelaskan inti dari pelajaran yang sudah diterimanya pada hari tersebut. Lalu buat saja seperti teka-teki, kuis atau apa pun agar anak lebih tertarik. Kita perlu pahami bahwa di sekolah anak-anak sudah lelah berpikir. Saat mereka di rumah, itulah fokus para orangtua untuk mengupayakan pembentukan karakter mereka,” terangnya.

Di sisi lain, Bunda Romi juga berharap, sebelum menerapkan sistem Full Day School dalam skala nasional agar pemerintah lebih realistis dalam memotret kondisi riil di lapangan. Bukan hanya melihat Jakarta saja, tapi juga mesti sampai ke kawasan Indonesia Timur, yang kondisinya jauh berbeda.

“Ya kalau saya sih melihatnya begini. Pemerintah harusnya juga memotret ini sampai ke timur Indonesia. Jangan hanya mengatakan ini akan sangat bermanfaat bagi anak, tetapi lihat juga apakah sekolahnya siap. Membuat anak betah terlalu lama di sekolah itu bukan perkara mudah,” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, dari sisi kesiapan anak pun mesti menjadi perhatian. “Pemerintah harus melihat sekolahnya punya program yang cukup memadai sampai pukul 5 atau tidak? Bisa enggak masing-masing sekolah merancang kegiatan ekstrakulikuler yang biayanya tak sedikit? Apakah mereka juga punya fasilitas memenuhi syarat agar anak merasa nyaman di sekolah? Dunia pendidikan di Indonesia ini kan belum seragam sepenuhnya ya, peraturannya. Jangan-jangan nantinya tiap beda sekolah, berbeda pula peraturannya,” sangsinya seraya menyebut bahwa Full Day School bukan ide baru, tapi sudah lama ada di Indonesia dan sudah banyak pula diterapkan di sekolah-sekolah swasta yang memang punya fasilitas lengkap, sehingga anak tak merasa bosan.

Bunda Romi mengatakan bahwa tugas mendidik anak adalah juga tugas orangtua. Bila ingin mengembangkan karakter yang baik, mungkin sebaiknya jangan hanya terbatas di sekolah.

“Katanya mau mengajarkan dan memantapkan karakter anak, kalau begitu harus sama dong antara rumah dan sekolah. Jangan di sekolah sudah diajarkan begini, tapi di rumah berbeda lagi, justru begitu,” tutupnya.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *