Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 14 August 2016

OPINI—Pilih Full Day School atau Thuluz Zaman?


Pilih Full Day School atau Thuluz Zaman

IslamIndonesia.id—Pilih Full Day School atau Thuluz Zaman?

 

Jika siswa pulang pukul 5 sore, orang tua tak perlu khawatir tentang pendidikan anaknya. Karena di sekolah para siswa akan diberikan materi pelajaran lebih, dibandingkan dengan pulang lebih awal.

Dengan sIstem Full Day School, siswa akan lebih aktif belajar di sekolah dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang disediakan sekolah yang mungkin di rumah tidak disediakan oleh orang tua. Sehingga siswa akan lebih senang, nyaman dan fokus jika belajar di sekolah dan tidak terpikir hal lain. Karena kewajiban seorang pelajar adalah belajar, bukan yang lain.

Full Day School mampu menekan angka kenakalan anak, dan hal ini logis. Karena dengan anak sibuk bersekolah, mereka tak punya waktu lagi untuk berbuat aneh-aneh sepulang sekolah, seperti nongkrong atau ikutan geng motor. Itu sejalan dengan harapan orang tua yaitu agar anaknya mendapatkan pengajaran agama dan pendidikan akhlak atau moral yang baik, apalagi bagi orang tua yang tidak punya cukup waktu untuk mengawasi dan berinteraksi dengan anak mereka karena terlalu sibuk bekerja.

Itulah 3 di antara sekian banyak alasan dan justifikasi dari kalangan pro FDS yang menganggap wacana Mendikbud Muhadjir Effendy itu sebagai hal yang logis.

Harus diakui, sebenarnya Full Day School bukanlah program baru. Apalagi bagi kalangan pesantren dan basis Nahdliyin yang sudah mendidik anak dengan totalitas waktu dan daya dukung lainnya sejak zaman dulu.

Ya. Sistem pendidikan pesantren bukan sekadar full day, melainkan thuluz zaman atau belajar sepanjang hayat sehingga karakter dan pengetahuan yang didapat menjadi matang dan tuntas.

Karenanya, jika program tersebut jadi diterapkan maka akan menambah daftar panjang trial and error dalam sistem pendidikan nasional kita. Apa sebab? Karena kondisi sekolah kita masih banyak yang belum siap, sarana belum memadai, sistem pendidikan dan pembelajaran yang belum siap, dan masih banyak kendala teknis lainnya.

Kalangan Nahdlatul Ulama berpandangan, justru akan lebih baik jika Menteri Pendidikan memperkuat sistem yang ada, dan mendukung sistem pendidikan pesantren yang merupakan sistem pendidikan khas Nusantara. Full day di pesantren lebih bermakna daripada di sekolah. Karena itulah maka kalangan pendidik NU sedang gencar-gencarnya mengampanyekan gerakan Ayo Mondok, dalam beberapa bulan terakhir.

Banyak pihak menyarankan agar Mendikbud lebih fokus pada pengembangan kurikulum dan pemerataan kompetensi guru, sehingga pelayanan standar pendidikan nasional dapat dirasakan di seluruh pelosok negeri. Dengan kata lain, sudah saatnya pemerintah mulai ‘bertaubat’ dari program pencitraan tak jelas arahnya yang ujung-ujungnya justru hanya menimbulkan keresahan di tengah masyarakat; baik di kalangan orang tua, anak didik sendiri dan para guru mereka.

Kalangan Nahdliyin khawatir bahwa penerapan program tersebut akan mengganggu aktivitas anak-anak yang selama ini juga sudah belajar agama di Madrasah Diniyah usai pulang sekolah. Bukankah Madrasah Diniyah memiliki peran strategis untuk penanaman nilai agama bagi anak dan usia remaja? Kenapa bukan sistem pendidikan semacam ini saja yang diadopsi?

Apalagi dengan keharusan berada seharian di sekolah, interaksi sosial anak akan menjadi terbatas, terutama dalam upaya pengembangan minat dan bakat mereka di luar sekolah.

Lebih dari itu, jika dilihat dari kacamata anak-anak, mungkin hanya anak “hebat” saja yang bakal kuat dengan stimulus sekolah yang beragam dan mendominasi waktu mereka sehari-hari. Mereka rela kehilangan waktu bermain dan mengeksplorasi hal-hal lain yang lebih “liar” tanpa dibatasi aturan-aturan formal yang seringkali menjemukan bagi anak.

Sistem pendidikan tersebut memang seolah-olah menyesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak, tapi penerapan full day sendiri sebenarnya sudah tidak adaptif lagi dengan karakteristik perkembangan anak-anak. Karena dengan berada seharian di sekolah, anak-anak akan banyak kehilangan waktu mereka di rumah untuk belajar tentang hidup bersama keluarganya. Sore hari anak-anak akan pulang dalam keadaan lelah dan mungkin tidak berminat lagi untuk bercengkerama dengan keluarga. Padahal, bukankah sekolah terbaik itu ada di dalam rumah, dalam lingkungan kondusif dan kehangatan keluarga?

Tidakkah akan lebih baik jika anak-anak kita lebih kita tekankan pemahaman kepada mereka akan pentingnya semangat untuk belajar tanpa kenal lelah di sepanjang hayat, tapi bukan berarti harus dengan cara seharian berada di sekolah?

Lalu dengan justifikasi apa Full Day School dianggap dapat meningkatkan prestasi akademik dan memperbagus akhlak anak didik, hanya dengan menambah durasi jam belajar kepada mereka?

Di sisi lain, sebagai orangtua, apakah kita layak egois dengan hanya mendahulukan kepentingan anak-anak kita saja? Bagaimana dengan anak-anak para guru, yang juga memerlukan kehadiran orangtua mereka dalam waktu yang cukup di rumah mereka sendiri juga?

Tentu masih banyak pertanyaan lain yang mesti dijawab. Tapi setidaknya itulah beberapa hal yang mesti dipertimbangkan ulang oleh Mendikbud dalam penerapan Full Day School ke depan, agar wacana yang terlanjur berkembang tak semakin terkesan belum dikaji secara utuh dan mendalam.

 

EH/IslamIndonesia

One response to “OPINI—Pilih Full Day School atau Thuluz Zaman?”

  1. Mulyata says:

    FDS tidak lain hanya untuk memenuhi hasrat kemaruk kepada pendidikan yang seolah-olah untuk mencetak anak yang pandai secara akademik disertai harapan dapat membentuk karakter yang diharapkan perlu lebih berlama-lama berada disekolah bersama-sama guru.
    Para guru sendiri ingin cepat-cepat pulang kerumah ingin bercengkrama dengan keluarganya, belum lagi fasilitas sekolah yang tidak mendukung para siswa untuk bisa betah disekolah.

    Keberhasilan pendidikan yang terbaik bukan durasi waktu yang menentukan, tapi kwalitas guru dan sarana yang tepat yang diperlukan untuk mereka bisa learning by doing terhadap apa yang mereka serap secara akademik.

    Intinya pendidikan terbaik itu ibarat nut and bolt, pas atau tepat apa yang anak didik perlukan dan apa yang pendidik butuhkan segala sarana yang menunjangnya.
    Jika tidak, Indonesia hanya gemar rubah-rubah judul pendidikan biar dibilang kreatif mensukseskan pendidikan anak-anak bangsa.

    Kalau mau sukses mendidik anak bangsa, contoh saja negara yang memang sudah terbukti mensukseskan anak-anak bangsanya dalam mewujudkan masyarakat yang tertib, disiplin, penuh toleransi ditengah-tengah kemajemukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *