Satu Islam Untuk Semua

Friday, 07 October 2016

Setelah 500 Tahun ‘Tertidur’, Iqbal Membangun Kembali Filsafat dalam Islam


haidar bagir, ammar fauzi, muhammad iqbal, rekonstruksi pemikiran dalam islam, bedah buku, islam indonesia

IslamIndonesia.id – Setelah 500 Tahun ‘Tertidur’, Iqbal Membangun Kembali Filsafat dalam Islam

 

Peneliti Tasawuf dan Filsafat Islam, Dr. Ammar Fauzi memandang apa yang dilakukan oleh Muhammad Iqbal seperti apa yang dilakukan Rasulullah dan empat sahabat sepeninggalnya. Dalam hal rekonstruksi, filsuf yang juga dikenal dengan Allamah Iqbal ini mencoba membangun kembali pemikiran (Islam) yang sempat mandek. Tidak bergerak.

“Rekontruksi yang ditawarkan Iqbal adalah rekonstruksi atas pemikiran filsafat dan tasawuf, yang selama hampir 500 tahun dianggap Iqbal telah tertidur,” kata Ammar dalam bedah buku karya Iqbal, “Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam” di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 4/10.

Pemikiran Filsafat dan tawasuf yang ditawarkan oleh Iqbal adalah penawar bagi kejumudan pemikiran dalam dunia Islam. Jikalau inti filsafat diri (khudi) yang digagas Iqbal itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, akan mengantarkan masyarakat menjadi lebih baik.  Bangsa itu akan bangun dari keterpurukan. Namun, apakah pemikiran pria asal Punjab-India itu masih relevan pada masa kini?

“Hal itu masih relevan sampai saat ini, setelah tujuh puluh tahun Iqbal meninggalkan kita semua,” katanya

[Baca: KOLOM – Orang Jawa Belajar Tasawuf]

Hadir pula Dr. Haidar Bagir yang menyampaikan pandangannya bahwa politik dan ilmu sosial tidak bisa lepas dari Filsafat. Apakah sains dan kedokteran memiliki keterkaitan dengan filsafat? Ataukah budaya dan juga seni tersambung dengan filsafat? Bahkan, pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika orang membincangkan filsafat. Filsafat, bagi sebagian kalangan, memang dianggap sebagai sesuatu yang abstrak, sesuatu yang melangit dan jauh dari bumi, atau hanya bergairah saja pada tataran intelektual dan sepi pada wilayah aksi.

Tapi di tangan Muhammad Iqbal, kata Haidar, filsafat menjadi sedikit berbeda. Filsafat tidak lagi hanya sebagai pemuas dahaga intelektualitas belaka, melainkan juga menjadi wilayah aksi atau wilayah amal.  Hal ini, menurut Haidar, terkandung dalam bukunya, Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam. Ditegaskan di halaman awal buku itu, bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang menekankan pada amal ketimbang pemikiran.

“Pemikiran itu penting jika ia membawa atau menuntun manusia pada aksi nyata atau amal,” katanya di depan peserta bedah buku yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah ini.

Oleh karenanya, lanjut Haidar, “Yang kita lihat saat ini, dalam bidang politik, sosial, sains dan bahkan kedokteran mempunyai akar pada filsafat.”  Sedemikian sehingga Filsafat yang memiliki dimensi epistemologi, ontologi dan aksiologi  ini merupakan ibu dari ilmu pengetahuan. []

 

[OPINI — Haidar Bagir: Tentang Agama dan Spiritualitas]

 

YS/IslamIndonesia/Sumber: nu.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *