Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 10 December 2015

Orang Jawa Belajar Tasawuf


Fai2acjMWtdsUNa1NV8lyddCsx4tVYVJJUP9xcocg-PNRHqgokOVvVsHZs-D5UvFUPfdp3ZdxRYk1t9-TOhIW8iOy30Mi2o5i6XMljFo-Vmb6uiv5XS9Clb9fI9WDQ=w404-h287-nc

Oleh Parni Hadi

Ketidakmelekatan (detachment) pada sesuatu yang duniawi sifatnya adalah kunci untuk belajar tasawuf, ilmu dan laku ke arah kesempurnaan bathin. Tidak melekat, terutama hilangnya perasaan untuk memiliki sesuatu. Semua milik Allah. Manusia hanya “meminjam atau dipinjami” oleh Yang Punya sesungguhnya.

Itulah ajaran tasawuf yang mudah dfahami oleh orang Jawa, yang dicap Abangan atau Muslim minimal. Orang Jawa dikenal tidak “ngoyo” (memaksakan diri) dalam mengejar sesuatu. “Nrimo ing pandum” atau “menerima apa pun yang diberikan Tuhan”. Intinya, sangat percaya kepada kekuasaan Allah dan kasih sayang Nya.
Orang kaya juga boleh belajar tasawuf. Caranya, mereka mengingat bahwa harta hanya di tangan, tidak di hati. Doa orang sufi (pembelajar tasawuf): “Ya Allah berilah harta di tanganku, jangan di hatiku”, kata Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo, seorang ahli Islam Jawa.

Harta,  pangkat, derajat, kepandaian, istri yang cantik, anak-anak yang tampan dan cantik, semuanya barang titipan. Sewaktu-waktu bisa diambil Yang Punya. “Mung barang silihan”. Hanya barang pinjaman. “Ikhlaskan ya, dulu ia tidak ada, sekarang ia kembali kepada asalnya”, demikian nasehat Pak Kyai atau Pak Modin di kampung dulu menghibur anggauta keluarga yang ditinggal mati seseorang yang  dicintai. Yang ditinggal diminta tidak menangis dan meratapi, sebab itu akan memberati beban yang pergi menuju rahmatullah. “Mulih marang mulo-mulaniro dumadi”. Pulang, kembali ke asal-muasal.

Menghilangkan perasaan memiliki (sense of belonging) adalah suatu ujian terberat  dalam belajar tasawuf. Perasaan memiliki ini bisa muncul walau pun sesuatu itu belum secara fisik diraih, misalnya pacar, pangkat, rumah, mobil dan bahkan pujian yang diidamkan. Inilah sumber nafsu amarah, jika ada orang lain yang dianggap mengusik rasa memiliki seseorang. Bentuknya, bisa marah, benci, memusuhi dan bahkan upaya untuk meniadakan pesaing itu.
Celakanya, jika amarah ini mencapai tujuannya, timbul nafsu serakah, ingin memiliki selamanya, bahkan menambah. Sudah punya satu, ingin dua, tiga dst. Inilah sumber konflik antar-pribadi, kelompok, bahkan antara bangsa dan negara.

Lalu, apakah orang Jawa tidak boleh maju, bersaing, kaya dan terhormat? Semuanya, boleh, asal ingat: jika sudah tercapai, semuanya hanya barang titipan, boleh dimiliki hanya sementara waktu. Cara meraihnya pun harus secara halal, legal dan masuk akal. Artinya, sesuai ajaran agama, tidak melanggar hukum dan wajar. Bagi orang Jawa, jika disebut agama, otomatis maksudnya Islam.

Untuk memudahkan membangun watak “tidak memiliki”, ada jalan tengah, yakni “mengambil jarak”.
Agar bisa mencapai hidup yang bahagia, aman, tentram, jauh dari pesaing atau perasaan iri orang lain, ada nasehat yang berbunyi “sakmadya” ( ditengah-tengah). Jangan berlebihan. Ada yang bilang: “sak perlune, sak benere”. Seperlunya, dengan cara yang benar.

Nasehat lain: Jangan menonjol, karena itu membuat orang lain iri. “Ojo mrojol ing akerep, munjul ing apapak”. Persis makna ungkapan: pohon tinggi, ditimpa angin lebih kencang.

Untuk mengembangkan rasa “tidak memiliki” ini, orang Jawa bisa belajar dari tokoh wayang, Prabu Puntadewa, raja Amarta, sulung Pandawa. Puntadewa dikenal tidak memiliki musuh dan apa pun miliknya, termasuk tahta dan istri, Dewi Drupadi, rela jika ada yang meminta, seperti dalam lakon “Rama Nitis”.

Tapi, yaitu Puntadewa pun tidak gampang mati sebelum berjumpa Sunan Kalijaga yang membantu membaca ajimatnya “Jamus Kalimasada”, yang ternyata Kalimat Syahadat. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *