Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 20 October 2016

Serangan Tangerang Indikasi Pulangnya Militan Suriah ?


screen-shot-2016-10-20-at-1-33-13-pm

islamindonesia.id — Serangan Tangerang Indikasi Pulangnya Militan Suriah ?

Sekitar pukul tujuh pagi tadi, Kapolsek Tangerang Kompol Effendi dan 4 anggotanya diserang oleh seorang pemuda bergolok di Jl Raya Perintis Kemerdekaan, Kota Tangerang. Pelaku yang diduga pengusung aspirasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) itu melancarkan aksinya dan berhasil melukai aparat.

“Pelaku diduga ISIS,” ujar Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Martinus Sitompul, Kamis (20/10).

Sebagaimana dilansir detikcom, pelaku yang bernama Sultan Azianzah (22) itu membawa atribut yang berkaitan dengan ISIS. Insiden penyerangan berawal ketika Effendi dan keempat anggota sedang bersiap melakukan pengamanan demo buruh di depan Pos Lalu Lintas Yupentek, Jl Perintis Kemerdekaan, Tangerang pukul 07.30 WIB. Pelaku datang ke lokasi untuk menempel stiker ISIS dan ditegur Effendi serta 4 anggota lainnya. Pelaku kemudian langsung menyerang kelimanya.

Pelaku kemudian dilumpuhkan dengan ditembak tiga kali di bagian paha dan kakinya. Saat ini pelaku diamankan polisi. Sejumlah barang bukti dari pelaku, salah satunya stiker diamankan polisi.

Ada tiga polisi yang menjadi korban serangan membabi buta tersebut. Di antaranya Kapolsek Tangerang Kota, Kompol Efendi. Dari laporan Humas Polda Metro Jaya, korban dilarikan ke rumah sakit.

Serangan ini bukan yang pertama kali dilakukan orang atau pihak yang diduga bersimpati terhadap organisasi teroris ISIS. Antara lain aksi teror di Thamrin dan serangan atas pos polisi di Solo jelang lebaran.

(Baca, Al Fatihin Terbit, Propaganda dan Psywar ISIS di Asia Tenggara Menggeliat)

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme bergerak efektif dengan melibatkan sejumlah kementerian terkait untuk menyambut kepulangan 531 warga negara Indonesia yang telah tergabung ISIS di Suriah. Program ini baru saja dibahas secara intensif dengan 17 kementerian, kata Ketua BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius.

“Kami (juga) tengah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk mendatanya,” katanya di Pesantren Ulul Albab, Sukoharjo, Jawa Tengah (26/9)

Proses pendataan WNI yang pernah berangkat ke Suriah rumit lantaran sebagian dari mereka pergi membawa keluarga.

“Mereka akan dinetralisir,” katanya sembari menolak menjelaskan lokasi yang akan digunakan untuk penanganannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, satu demi satu, wilayah Suriah yang selama ini dikuasai kelompok teroris seperti ISIS kembali direbut pemerintah setempat. Dalam pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia – koalisi Suriah -baru-baru ini mengabarkan tewasnya 250 anggota teroris dalam operasi di Tadmor, Suriah.

Situasi terkini Suriah tentunya berdampak pada Indonesia. Laporan BNPT menyebut 531 orang Indonesia yang dari Suriah masuk ke Indonesia, termasuk 2 dari Uighur (Cina).

“Mereka itu kan yang termasuk program pemantauan, foreign terrorist fighters (FTF) itu atau gampangnya returnis yang fighter,” katanya.

[Baca: Terjepit di Suriah, 531 ‘Mujahidin’ ISIS Pulang ke Indonesia]

Menurut pengamat terorisme, Sidney Jones, tidak mudah bagi negara demokratis seperti Indonesia menyikapi orang-orang berpaham radikalisme. Meski membawa bahaya laten  bagi demokrasi, prinsip demokrasi tidak memperbolehkan mereka diperlakukan semena-mena. Terlebih lagi, jika mereka – yang cenderung bergerak di luar koridor demokrasi –  didukung atau masuk ke dalam kelompok atau ormas yang memanfaatkan sarana yang disediakan demokrasi.

AJ / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *