Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 10 July 2016

ANALISIS—Mengorek Isi Kepala Nur Rohman dan Kawan-Kawan (Bagian Pertama)


Mengorek Isi Kepala Nur Rohman

IslamIndonesia.id—Mengorek Isi Kepala Nur Rohman dan Kawan-Kawan (Bagian Pertama)

 

Tak ada yang tahu persis pikiran apa yang sedang merasuk di kepala Nur Rohman, saat pria berusia 31 tahun dan sehari-hari pernah berprofesi sebagai tukang bakso keliling di kampungnya itu melakukan aksi bom bunuh diri selang sehari menjelang Idul Fitri.

Seperti diberitakan, dengan sepeda motor berpelat nomor AD 6136 HM, suami Siti Aminah itu tiba-tiba nyelonong ke halaman Mapolresta Surakarta dan meledakkan dirinya dengan bom rakitan berjenis daya ledak rendah atau low explosive di dekat kantor Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Selasa (5/7/2016) lalu. Tak pelak, aksi nekad bapak dua anak ini pun membuatnya tewas seketika dan melukai setidaknya seorang anggota Provos yang coba mencegatnya di pintu gerbang masuk markas kepolisian tersebut.

Saksi mata di lapangan mengungkapkan kondisi TKP pasca ledakan; badan si pelaku yang nyaris hancur, tergeletak di pelataran aspal halaman Mapolresta. Motor yang ditungganginya juga remuk dan hanya tersisa bagian belakangnya saja. Sementara bagian depannya, berserakan di antara serbuk putih serupa pasir yang bertebaran.

Saat kabar buruk itu sampai di Sangkrah, pihak keluarganya menyatakan, sudah setahun ini Nur Rohman tak pulang kampung. Sementara pihak kepolisian telah menetapkan mantan Ketua RT 01 RW 12, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo itu sebagai DPO sejak enam bulan lalu. Tepatnya sejak penggerebekan dan penangkapan kelompok teroris di Bekasi.

Kapolri menyatakan bahwa Nur Rohman merupakan anggota dari kelompok Abu Musab. Sejumlah anggota kelompok ini ditangkap di beberapa daerah, pada 29 Desember 2015, sebelum malam pergantian Tahun Baru. Berbeda dengan 7 orang kawannya yang berhasil ditangkap, Nur Rohman saat itu berhasil lolos melarikan diri.

Aparat keamanan juga menyebutkan, sebenarnya Nur Rohman sudah buron sejak Agustus 2015, sempat terdeteksi di Bekasi, lalu hilang lagi. Dan baru muncul kembali saat tiba-tiba menyerang Mapolresta Surakarta itu.

Selain itu, Nur Rohman juga teridentifikasi sebagai salah seorang anggota jaringan sel Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), pimpinan Abu Musab yang berafiliasi ke ISIS melalui jalur Bahrun Naim—yang ternyata juga warga Sangkrah. Bahrun Naim inilah yang selama ini dikenal sebagai salah seorang pentolan kelompok simpatisan ISIS asal Indonesia—yang meskipun sudah lama berada di Suriah sejak bergabung dengan kelompok ISIS di negara itu, disinyalir Polri sebagai otak penyerangan di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat, awal tahun lalu.

Pertanyaannya: benarkah Nur Rohman terkait langsung dengan ISIS?

Berdasarkan bukti rekaman audio yang diperoleh dari jejaring medsos pro-ISIS, didapatkan bukti bahwa Nur Rohman telah berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi. Bahkan tak hanya berbaiat, dalam rekaman audio itu dia pun sempat menitipkan pesan kepada kawan-kawannya agar tak takut mati. Dia bilang, jangan jadi kambing di negeri thaghut, tapi jadilah singa gagah yang berani menyerang markas aparat thaghut.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Ridlwan Habib, pengamat terorisme dari UI yang menyatakan bahwa warga Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo itu diduga ikut bergabung dengan ISIS melalui Ibad yang mengikuti Bahrun Naim dan sekarang sama-sama sudah berada di Suriah.

Ridlwan menambahkan bahwa kelompok tersebut merupakan pecahan gerakan Hisbah Solo yang awalnya dipimpin almarhum Sigit Qurdowi, tapi saat ini sudah bubar dan terbagi dua; yang satu menjadi jejaring pro-ISIS, sedangkan sisanya tidak setuju dengan—kalau tak bisa disebut anti-ISIS.

Bikin Malu Atas Nama Islam?

Di hadapan fakta kian maraknya aksi bom bunuh diri yang dilakukan para ekstremis simpatisan ISIS di berbagai negara, tak terkecuali di Tanah Air dalam beberapa tahun belakangan ini, patut membuat kaum Muslimin berduka sekaligus merasa geram bercampur malu.

Bagaimana tidak? Karena semua aksi biadab itu dilakukan dengan membawa-bawa nama Islam, atas nama jihad, atas nama Islam. Padahal sejatinya Islam, mustahil bakal merestui tindakan tak berperikemanusiaan semacam itu, alih-alih menyebutnya sebagai tindakan yang tergolong bernilai jihad.

Mungkin itu sebabnya, Gus Mus pun tergerak angkat suara. Lewat cuitan via akun @gusmusgusmu, Mustasyar NU yang belum lama ini “kehilangan” istri tercintanya itu bertanya, “Bagaimana kita menyebut MUSLIM orang yang melecehkan kesucian Islam? Bagaimana kita menyebut MANUSIA orang yang tidak menghormati manusia?”

Ungkapan Gus Mus di atas mungkin tepat dianggap sebagai “teguran” atau lebih tepatnya otokritik ke dalam, atau terbatas “untuk kalangan sendiri”, terutama bagi sekelompok orang yang melalui lisannya dengan lantang seringkali mengklaim dirinya sebagai Muslim, namun dari sisi perilakunya justru bertentangan dengan nilai-nilai mulia Islam. Maka terhadap golongan peleceh kesucian Islam serupa kelompok Nur Rohman inilah pertanyaan Gus Mus tersebut, mungkin juga layak diungkapkan.

Tentunya sebelum kita bertanya lebih jauh: sadarkah mereka, bahwa aksi-aksinya telah membikin malu Islam dan kaum Muslimin?

Jika tidak, doktrin macam apa sebenarnya yang telah mengisi kepala mereka? Benarkah seperti kata psikolog dan ahli kejiwaan bahwa memang ada sejenis “keseleo otak” yang sedang diidap para ekstremis itu? Sehingga aksi-aksi brutal yang mereka anggap sebagai heroik dan bagian dari jihad itu, sebaliknya dianggap murni bencana, melahirkan petaka, dan tergolong pelanggaran berat atas nilai-nilai kemanusiaan universal menurut sudut pandang manusia normal dan isi kepala waras lain di luar kelompok mereka sendiri.

Untuk sementara waktu, mungkin perlu kita asumsikan bahwa persoalan dan motifnya bukan terletak pada apa yang disebut netizen—dengan nada bercanda, belakangan ini. Bahwa aksi pria ikal berkulit sawo matang itu semata akibat kekesalan memuncak, atau “patah hati” dan dendam kesumat Nur Rohman gara-gara sudah setahun lamanya, bapak muda ini terhalang mereguk nafkah batin dari sang istri setelah ditetapkan statusnya sebagai buronan oleh polisi.

Tentu bukan pula seperti kata orang, bahwa Nur Rohman sudah bosan pada wajah biasa istri sendiri di dunia dan sudah tak tahan ingin segera menggantinya dengan rupa jelita bidadari jelang Idul Fitri di alam sana. Apa pasal? Karena bagaimana mungkin tujuan dari apa yang diklaimnya sebagai jihad suci, hanya berkutat di seputaran syahwat dan impian standard minimal, dari rata-rata kaum lelaki?

Jika bukan itu motifnya, lalu apa?  (Bersambung…)

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *