Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 05 April 2016

SEJARAH–Habib Husein Luar Batang


sejarah-habib-husein-luar-batang

Pernyataan salah satu calon gubernur bahwa Gubernur DKI Jakarta Ahok hendak menggusur Masjid Luar Batang berikut makam Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus beberapa waktu lalu sontak menimbulkan kegaduhan.
Tak ayal lagi, Makam Habib Husein Luar Batang memiliki kedudukan sakral di kalangan masyarakat Muslim Jakarta, terutama warga Nahdliyin.

Tapi siapakah sebenarnya pemilik Makam Luar Batang ini? Berikut adalah petikan sejarahnya, menurut penuturan salah satu pengurus pusara bersejarah itu:

Beliau adalah Al Habib Husein bin Abdullah bin Abubakar Alaydrus atau yang dikenal penduduk Jakarta sebagai Habib Husein Luar Batang.

Al Habib Husein merantau dari Hadramaut, Yaman saat berusia remaja. Tepatnya setelah gurunya, Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, wafat dalam usia 98 tahun (1132 H/1720 M). Atas izin Ibunya pula Habib Husein merantau untuk melakukan syiar Islam.

India, tepatnya Kota Gujarat, adalah persinggahan pertam Habib Husein dalam perjalanan. Tak berapa lama tinggal di sana, beliau hijrah ke Bumi Nusantara.

Tempat pertama yang dikunjunginya adalah Aceh, kemudian Banten, Jawa Timur, dan Cirebon. Habib Husein akhirnya memilih untuk tinggal di Sunda Kelapa, nama Jakarta kala itu. Beliau bermukim di Kampung Baru yang sekarang dikenal dengan nama Luar Batang.

Lama perjalanan beliau dari Hadramaut ke Sunda Kelapa sekitar 16 tahun. Habib Husein bin Abdullah bin Abubakar Alaydrus tiba di Luar Batang diperkirakan tahun 1736 M.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Gustaf Willem Baron Van Imhof (1743-1750) menghadiahkan tanah seluas 16,5 hektare yang saat itu sudah menjadi perkampungan. Tanah hibah itu oleh Habib Husein pun dihibahkan kembali kepada masyarakat, murid dan jamaah yang menempatinya.

Konon sebelum Habib Husein datang ke kampung ini sudah ada pemakaman dan langgar. Atas inisiatif beliau, pada pertengahan abad ke 17 langgar yang sudah ada itu dikembangkan menjadi masjid. Menurut cerita turun temurun, masjid itu bernama An Nur.

Suatu hari, ada seorang warga Tionghoa bernama Ne Bok Seng yang menjadi buronan Kompeni Belanda masuk ke wilayah ini. Seng lalu bersembunyi di Kampung Baru yang sekarang lebih dikenal dengan Luar Batang. Ne Bok Seng pun tertarik pada sikap, sopan santun dan tutur kata Habib Husein yang lembut. Setelah sekian lama menetap, warga Tiongkok itu pun memeluk agama Islam.

Ne Bok Seng kemudian berganti nama menjadi Abdul Qodir dan menjadi murid sekaligus an sahabat setia Habib Husein hingga akhir hayatnya. Setelah wafat, Abdul Qodir dimakamkan bersebelahan dengan makam Habib Husein bin Abdullah bin Abubakar Alaydrus yang wafat pada 24 Juni 1756 M atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 H.

Sejarah Habib Husein Luar Batang

Seorang peziarah tampak khusyuk berdoa di petilasan Habib Husein Luar Batang

Konon nama Kampung Baru pun berubah setelah Habib Husein wafat. Saat jasad Habib Husein akan dimakamkan di Tanah Abang, berkali-kali jenazah beliau selalu tidak ada dalam keranda (kurung batang). Tetapi tetap berada di dalam ruang kamar beliau. Sehingga akhirnya jenazah Habib Husein pun diputuskan untuk dimakamkan di dalam kamarnya yang kini menjadi area ziarah dan wisata rohani.

(Ditulis kembali oleh Mansur Amin, Sekretaris Masjid Jami’e Keramat Luar Batang dan Ketua Sunda Kelapa Heritage, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Falah, Ketua Sahabat Kota Tua Jakarta, tulisan dihimpun dari berbagai sumber)

Tom/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *