Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 14 May 2016

Salafi Menyusup di Birokrasi, Menguasai Perang Opini, Kata Cendekiawan Malaysia


images

IslamIndonesia.id – Salafi Menyusup di Birokrasi, Menguasai Perang Opini, Kata Cendekiawan Malaysia

 

Intelektual Muslim Malaysia, Dr. Farouk Musa, menyatakan bahwa pertentangan antara kelompok Muslim Konservatif dan kaum Salafi akhir-ahir ini semakin nyata dan meruncing. Menurutnya, perang opini yang saat ini dikuasai kaum Salafi, sebagai salah satu pemicu banyaknya orang mengikuti kelompok yang lebih mengkampanyekan Arabisasi ketimbang menyebarkan ajaran Islam yang damai dan membumi.

“Pada suatu saat nanti, Salafi akan menang dalam pertarungan,” kata Farouk. “ Mereka telah masuk ke birokrasi dengan begitu gesit dan penafsiran mereka pada Islam dalam politik dan ekonomi sangat ekstrim.”

Untuk itu, Direktur Front Kebangkitan Islam Malaysia ini menyeru pemerintah Malaysia untuk memediasi dialog antara kelompok salafi dan kelompok Moderat. Diharapkan dengan cara ini, terjadi saling kritik yang membangun dan terbuka, agar masyarakat memahami dan tidak tertipu dengan simbol atau model yang mengabaikan substansi ajaran Islam.

“Jika tidak ada dialog antara kelompok-kelompok itu, kita mungkin segera terjatuh pada praktik Islam versi garis keras, baik dalam politik maupun ekonomi,” kata Farouk dalam wawancaranya dengan Free Malaysia Today, Jumat (13/5).

Kelompok Islam konservatif menurut Farouk ialah mereka yang meyakini jalan hidup telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, mereka di Malaysia termasuk yang sangat terbelakang dalam hal persaingan ekonomi. Di sisi lain, kelompok Salafi adalah mereka yang menginginkan tegaknya hukum Islam versi garis keras tanpa penalaran rasional.

“Mereka (Salafi) lebih tertarik dengan model-model daripada hal yang paling prinsip dalam Islam. Contohnya, mereka mati-matian ingin menerapkan gaya hidup ala Madinah, yang mereka anggap mengikuti gaya hidup Nabi. Mereka mencoba meniru cara makan orang di Arab, model pakaiannya, dan cara memelihara jenggotnya.  Tapi anehnya, mereka tidak menerapkan hal-hal yang paling prinsip dalam Islam seperti menebarkan kedamaian, persatuan dan kesetaraan.”

Farouk kemudian berkisah tentang kaum Muslim Malaysia di era 1970-an hingga 1990-an dimana mereka lebih mengedepankan persatuan dan toleransi. “Sekarang, sejumlah Muslim mengatakan berdosa jika mengucapkan selamat Hari Natal pada orang-orang Kristen. Fenomena yang tak pernah terdengar sebelumnya. Namun inilah imbas dari masuknya pandangan Salafi. Kita akan menyaksikan lebih banyak lagi pemandangan (intoleran) seperti ini.”

Sebagai orang yang mengkampanyekan Islam Moderat, Farouk mengingatkan bahwa Allah SWT telah memberikan manusia anugerah berupa kemampuan untuk berpikir. Dengan potensi ini, manusia diberi kemampuan memutuskan mana yang terbaik bagi jalan hidup mereka. Tanpa kesadaran seperti ini, ditambah pandangan ekstrim yang lebih menerapkan atribut minus substansi, cenderung melahirkan kemunafikan.

“Sekarang banyak Muslim tidak pergi ke tempat seperti klub malam atau bar, bukan karena (kesadaran) bahwa itu dilarang Islam tapi karena takut ditangkap aparat. Ini munafik,” katanya.

Farouk lalu menggambarkan kelompok Muslim moderat sebagai mereka yang menginginkan keunggulan dengan cara terbuka terhadap semua sisi kehidupan dan bisa membuat keputusan perkara agama yang ia yakini bagi dirinya sendiri. “Pada akhirnya, ini (perkara keyakinan merupakan urusan) antara individu dan Tuhannya tanpa campur tangan penguasa.”

Pada sisi ekstrim lain, yang tersisa dari kaum konservatif ialah “orang-orang miskin dan terbelakang” lantaran keyakinan mereka bahwa hidup ini telah diatur oleh takdir. Bersama kaum Salafi, kaum konservatif sejatinya telah mengabaikan salah satu yang paling prinsip dalam ajaran ini yaitu keadilan, keseimbangan, moderat atau  ‘ummatan washatan’, katanya. []

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *